Kampus Lifestyle

Prof. Muhibbin Syah: Pentingnya Inovasi Kurikulum berbasis Moderasi Beragama untuk Pendidikan Islam

Kampusiana-Upaya melakukan inovasi kurikulum berbasis moderasi beragama itu caranya dengan pemikiran mengenai program inovasi kurikulum yang ada dengan memasukkan nilai-nilai moderasi beragama yang diharapkan bukan hanya membuat lulusan berilmu dan berketerampilan hebat melainkan juga berpikir dan berperilaku moderat.

Pernyataan itu disampaikan oleh Prof. Dr. Muhibbin Syah, M.Ed, Guru Besar UIN SGD, Ketua Prodi Pendidikan Islam S3 dalam acara Workshop Pengembangan Kurikulum bertajuk “Pengembangan Kurikulum Pendidkan Islam S3 Mengacu KKNI Berbasis Wahyu Memandu Ilmu sebagai Upaya Peningkatan Mutu Doktor Pendidikan Islam” yang dipandu oleh Dr. Mohammad Erihadiana, M.Pd. di Hotel Shakti, Rabu (07/10/2020).

Kuncinya terletak pada toleransi dan moderasi. Kata toleransi adalah nomina yang berasal dari kata Inggris tolerance yang berarti kelapangan dada atau kesabaran. Kata sifatnya adalah tolerant yang dalam bahasa Indonesia disebut toleran yang berarti menghargai perbedaan. Akar kata tolerance adalah verba to tolerate yang berarti antara lain bersabar menghadapi atau tahan terhadap.

“Orang yang berjiwa toleran adalah orang yang berjiwa legowo dalam arti tidak akan mudah tersinggung apa lagi marah saat dikritik oleh orang yang memiliki pandangan, budaya, dan agama yang berbeda dengannya. Sebaliknya, ia akan menghargai perbedaan dan keanekaragaman budaya, mazhab, bahkan agama sebagai realitas yang ada di muka bumi,” jelasnya.

Sedangkan moderasi adalah nomina yang berasal dari kata Inggris moderation. Artinya, sikap yang tidak berlebihan. Kata ini juga dapat berarti sikap yang sedang atau sikap yang sederhana dan tidak ekstrem. Akar kata moderation adalah verba to moderate yang berarti membuat sesuatu tidak berlebihan atau lunak. Selain sebagai verba, (kata kerja), moderate juga merupakan kata benda (nomina) dan kata sifat (adjektiva).
“Orang yang moderat dalam beragama adalah orang yang memiliki ketaatan beragama dengan sikap dan perilaku keberagamaan yang sedang, tidak ekstrem apa lagi radikal,” paparnya.

Moderasi adalah wawasan yang berorientasi pada sikap dan perbuatan yang tidak berlebihan (pertengahan, sedang). Sikap dan perbuatan seperti ini dapat membuat orang menjadi moderat. Orang moderat adalah orang yang berperilaku secukupnya dalam arti tidak kurang dan tidak lebih sehingga kebutuhannya terpenuhi tanpa perlu memubazirkan sesuatu.

Selain itu, orang moderat juga cenderung bersikap dan berbuat adil tidak hanya terhadap diri dan keluarga (kelompoknya) saja tetapi juga terhadap orang (kelompok) lain meskipun mereka tidak disukai bahkan dibenci.

Moderasi memiliki signifikansi atau arti penting dalam kehidupan sehari-hari, karena selain dapat membuat orang menjadi moderat moderasi juga dapat membuat orang berlaku adil dan bersikap toleran dalam arti dapat bertenggang rasa dan menghargai perbedaan misalnya dalam bermazhab atau beragama.

“Alhasil, dalam ajaran Islam berbuat adil bukan hanya berlaku untuk orang atau kelompok yang sesuku, semazhab atau seagama saja melainkan juga untuk orang atau kelompok yang berasal dari suku, mazhab, dan agama yang berbeda. Bahkan, keadilan (fairness) wajib ditegakkan terhadap orang yang kita benci sekalipun! Kita dilarang berbuat zalim misal merampas hak seseorang walaupun kita tidak menyukai, membenci orang tersebut,” tuturnya.

Sementar moderasi beragama (religious moderation) bukan moderasi agama juga bukan modernisasi agama. “Moderasi beragama merupakan wawasan atau cara pandang keberagamaan yang berimbang, sedang, tidak berlebihan, dan dapat membuat orang menjadi moderat dalam beragama. Orang yang moderat dalam beragama adalah orang yang menganut dan menjalankan ajaran agama dengan sikap dan perilaku keberagamaan yang secukupnya, tidak berkekurangan atau berkelebihan, juga tidak ekstrem,” ujarnya.

Nilai Moderasi Beragama

Moderasi beragama memiliki sejumlah signifikansi (arti penting) dalam kehidupan beragama yang berdampak pada kehidupan berbangsa dan bernegara di NKRI. Signifikansi-signifikansi ini meliputi: pertama, toleransi; kedua, keadilan; ketiga, keseimbangan; dan keempat kesetaraan.
“Lawan moderasi beragama adalah ekstremisme beragama. Wawasan ekstremisme beragama cenderung membuat penganutnya bersikap keras dan radikal dengan ciri khas utama menafikan eksistensi pandangan orang/kelompok lain yang berbeda,” tuturnya.

Untuk nilai-nilai moderasi beragama dalam kurikulum pendidikan Islam harus memuat tiga nilai (value) adalah sesuatu yang menyempurnakan manusia sesuai dengan hakikatnya. Contoh Etika berhubungan erat dengan nilai; sifat atau hal penting dan berguna bagi kemanusiaan. Contoh nilai keagamaan diperlukan untuk pembangunan karakter bangsa.

Nilai keagamaan adalah konsep penghargaan masyarakat terhadap ajaran pokok keagamaan yang bersifat suci dan dijadikan pedoman berperilaku warga masyarakat tersebut.
“Nilai moderasi beragama adalah hal-hal utama yang bersifat fundamental yang menjadi dasar yang mendorong orang menjadi moderat dalam beragama,” tandasnya.

Dalam melalukan inovasi kurikulum Pendidikan Islam diperlukan adanya upaya penyisipan nilai-nilai moderasi beragama agar para mahasiswa memiliki sikap dan perilaku moderat.

Ada empat nilai fundamental yang terdapat pada wawasan/cara pandang Moderasi Beragama yang perlu dijadikan bahan inovasi kurikulum, yakni Pertama, Toleransi dalam arti bersikap dan berperilaku yang mencerminkan pengakuan dan penghargaan terhadap pelbagai perbedaan, yaitu: perbedaan suku dan budaya, perbedaan mazhab dan agama, dan sebagainya

Kedua, Keadilan dalam arti bersikap dan berlaku adil kepada setiap orang tanpa membeda-bedakan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA). Ketiga, Keseimbangan dalam arti berperilaku seimbang antara mengambil hak dengan menunaikan kewajiban dan antara kepentingan duniawi dengan kepentingan ukhrawi.
Keempat, Kesetaraan dalam arti memandang siapa pun berderajat sama (setara) seraya menjauhi sikap dan perilaku yang merendahkan, melecehkan orang atau kelompok lain. (K-01/Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *