Kampus Lifestyle

Prof. Djam’an Satori: Diperlukan Kontekstual Pengembangan Kurikulum untuk Tingkatkan Mutu Lulusan

Kampusiana-Dalam UU No. 20 Tahun 2003 Sisdiknas dijelaskan kurikulum merupakan seperangkat rencana dan sebuah pengaturan berkaitan dengan tujuan, isi, bahan ajar dan cara yang digunakan sebagai pedoman dalam penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai sebuah tujuan pendidikan nasional.

Pernyataan itu disampaikan oleh Prof. Dr. Djam’an Satori, MA, Guru Besar UPI dalam acara Workshop Pengembangan Kurikulum bertajuk “Pengembangan Kurikulum Pendidkan Islam S3 Mengacu KKNI Berbasis Wahyu Memandu Ilmu sebagai Upaya Peningkatan Mutu Doktor Pendidikan Islam” yang dipandu oleh Dr. Asep Nursobah, M.Ag, di Hotel Shakti, Rabu (07/10/2020).

Di era revolusi industri 4.0 ini diperlukan kontekstual pengembangan kurikulum agar sesuai dengan kebutuhan dan semangat zaman.

Menurut Nana Sudjana, kurikulum merupakan niat dan harapan yang dituangkan ke dalam bentuk rencana maupun program pendidikan yang dilaksanakan oleh para pendidik di sekolah. Kurikulum sebagai niat dan rencana, sedangkan pelaksaannya adalah proses belajar mengajar. Yang terlibat didalam proses tersebut yaitu pendidik dan peserta didik.

Bagi Crow and Crow, kurikulum ialah suatu rancangan dalam pengajaran yang tersusun secara sistematis untuk menyelesaikan program dalam memperoleh ijazah.

Mengenai fokus analisis dalam pengembangan kurikulum dapat dibedakan antara Curriculum as “Intention” dengan Curriculum as “Reality” Disebut juga Curriculum as document yaitu yang disusun dan ditetapkan sebagai dokumen kelembagaan resmi. Curriculum as “Reality” “Yang dilaksanakan dalam layanan pembelajaran yang merujuk Silabus atau Rencana Pembelajaran, Kompetensi Pendidik Dosen, Kapasitas dan motivasi mahasiswa, Akses sumber belajar, Fasilitas sarana-prasarana, Teknologi informasi dan Kepemimpinan lembaga,” jelasnya.

Mutu Lulusan Doktor

Dengan mengacu kepada Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI), pada level 9, untuk lulusan Doktor S3; Pertama, Mampu mengembangkan pengetahuan, teknologi, dan atau seni baru di dalam bidang keilmuannya atau praktek profesionalnya melalui riset, hingga menghasilkan karya kreatif, original, dan teruji. Kedua, Mampu memecahkan permasalahan sains, teknologi, dan atau seni di dalam bidang keilmuannya melalui pendekatan inter, multi atau transdisipliner.

Ketiga, Mampu mengelola, memimpin, dan mengembangkan riset dan pengembangan yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan dan kemaslahatan umat manusia, serta mampu mendapat pengakuan nasional maupun internasional.

Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 73 Tahun 2013 tentang penerapan Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia bidang Pendidikan Tinggi, ditegaskan bahwa, Pertama, Setiap program studi wajib menyusun deskripsi capaian pembelajaran minimal mengacu pada KKNI bidang pendidikan tinggi sesuai dengan jenjang. Kedua, Setiap program studi wajib menyusun kurikulum, melaksanakan, dan mengevaluasi pelaksanaan kurikulum mengacu pada KKNI bidang pendidikan tinggi sesuai dengan kebijakan, regulasi, dan panduan tentang penyusunan kurikulum program studi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) huruf b. Ketiga, Setiap program studi wajib mengembangkan sistem penjaminan mutu internal untuk memastikan terpenuhinya capaian pembelajaran program studi.

Untuk implementasi kurikulum (rancangan pembelajaran) harus diperjelas; Pertama, Akan dibawa ke mana peserta didik (mahasiswa) itu ? “Ini bisa dilihat dari tujuan pengajaran,” ujarnya.

Kedua, Kemampuan apa yang perlu mereka kuasai agar sampai ke tujuan itu yang dapat diketahui dari bahan atau materinya. Ketiga, Bagaimana caranya yang dapat diketahui dari metode atau SBMnya. Keempat, Fasilitas apa yang perlu disediakan yang biasa menggunakan media dan sumber belajar. Kelima, Bagaimana kita mengetahui bahwa peserta didik telah sampai ke tujuan itu yang dapat dilakukan dari evaluasi. (K-01/Rls)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *