“Galau Tingkat Nasional” Akibat Korupsi

korupsi

Oleh: Rizky Rifani

“KO-RUP-SI”, sepertinya kosa kata yang satu ini sudah tidak asing lagi, bahkan sudah menjadi bahasan yang wajib hampir di seluruh media masa, baik itu televisi, koran, majalah, ditambah lagi keisengan beberapa musisi Indonesia yang menjadikan korupsi sebagai tema lagunya. Sudah barang tentu bagi mereka yang belum faham definisi korupsi, akan bertanya-tanya, “apa sih korupsi itu?

Setelah menelusuri kamus bahasa Indonesia, akhirnya ditemukan pencerahan bahwa yang dimaksud dengan korupsi adalah penyelewengan atau penyalahgunaan uang negara (perusahaan dsb.) untuk keuntungan pribadi atau orang lain. Bahasa kerennya adalah “perampok profesional di keramaian tanpa beban” dan bahasa super gaulnya adalah “maling berpendidikan yang galau ditinggal kekasih..”…

Nah, tahukah anda bahwa korupsi termasuk kejahatan luar biasa (extra ordinary crime)? Soalnya, korupsi itu merupakan tindakan yang tidak hanya berdampak pada ekonomi tetapi juga sosial masyarakat. Di banyak negara termasuk Indonesia, korupsi dinilai sangat mengganggu sistem perekonomian dan pemerintahan, sehingga dapat menimbulkan “galau tingkat nasional”, banyak ketidakadilan dan meruntuhkan kewibawaan pemerintah. Korupsi juga dapat menghancurkan seluruh sendi bermasyarakat dan bernegara kita. Yang lebih mengerikan lagi, korupsi menjadi penyebab kemiskinan yang utama.

Pelaku korupsi itu siapa? Pelaku korupsi itu tidak memandang jenis kelamin, suku, budaya, agama, ras dan kegantengan. Semua yang namanya manusia (kecuali binatang) punya kesempatan untuk melakukan korupsi kapan saja, dimana saja dan oleh siapa saja. Mirip-mirip pelayanan jasa pengiriman barang. Fenomena yang terjadi belakangan ini cukup cetar membahana, pasalnya mayoritas pelaku korupsi banyak melibatkan pemerintah sebagai pemegang kendali kuasa. Tidak tanggung-tanggung, pemuka agama pun turut andil dalam kasus korupsi ini.

Ya, mereka yang menjadikan agama sebagai topeng di muka. Mereka yang kelihatannya mengerti soal agama pun masih tergiur untuk melakukan tindakan korupsi. Sebut saja korupsi pengadaan Al-Qur’an, juga korupsi import daging sapi glonggongan. Jelas banget mereka itu “tersangka” mengerti agama.

Gue sendiri pernah dengar cerita tentang korupsi yang terjadi di tempat kerja gue yang berlokasi di cilegon. Gue punya temen, dan temen gue itu punya temen lagi. Sebut saja dia Panjul. Tanpa disangka ternyata si Panjul itu melakukan tidakan korupsi sob. Enggak gede banget sih, tapi yang namanya korupsi udah jelas ngerugiin pihak tertentu dalam kasus ini perusahaan. Gue enggak tau si Panjul ini ngerti agama atau enggak, tapi gue yakin si Panjul ini tau kalau tindakan yang dia lakukan itu adalah tindakan yang enggak jujur dan enggak amanah.

Ceritanya, ada banyak pengendara sepeda motor yang ingin memasukan motornya ke dalam wilayah pabrik. Jadi setiap motor tuh sebenernya gak boleh masuk wilayah pabrik kecuali ada kartu pass dan pembuatan kartu pass saat itu hanya dikhususkan bagi mereka yang jabatannya Foremen ke atas.

Nah karena bikin kartu pass itu serada ribet dan lama, si Panjul punya inisiatif yang serada-rada. Dengan jabatan yang di milikinya, secara serta merta dia memungut upeti kepada mereka yang ingin membuat kartu pass dengan alasan agar pengurusannya cepat dan enggak bertele-tele. Otomatis dong ada aja orang yang kesel di mintain upeti. Maka laporlah orang tersebut kepada pihak atasan. Dan kabar buruknya, si Panjul itu di pecat secara tidak terhormat. Tragis banget yah??

Si Panjul dan mereka yang melakukan korupsi pasti menyadari dong, bahwa tindakannya itu hanya untuk memperkaya diri dan kelompoknya doang. dengan sengaja mereka mengabaikan rambu-rambu hukum dan agama serta merampas hak yang seharusnya orang lain rasakan tanpa rasa bersalah sedikitpun.

Emang agama enggak ngebahas masalah korupsi kang?

Emang sih, kata “Korupsi” enggak ada dalam kitab suci manapun, tapi hakikat dari korupsi jelas dibahas di dalam agama. Pasti semua agama menentang kebohongan, keserakahan, kemunafikan dan pencurian yang terdapat dalam tindakan korupsi. Semua agama menjunjung tinggi kejujuran terlebih lagi agama islam sob. Sebab kejujuran dalam agama islam adalah kemuliaan dari beberapa kemuliaan yang menjadi pondasi prilaku beragama. Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pun sebelum beliau diangkat menjadi Nabi, udah di gelari oleh masyarakat sekitar sebagai Al-Amin.

Emang Al-Amin apaan kang?

Yang jelas Al-Amin yang dimaksud bukan nama mamang batagor yah. Al-Amin adalah gelar buat orang yang dapat dipercaya, jujur dan setia. meskipun orang-orang quraisy pada waktu itu mendustakan kenabian Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wassalam tapi enggak ada satupun yang mendustakan kejujuran, amanah dan kebenaran beliau sob. Bahkan Abu Jahal, manusia yang jelas-jelas menentang dakwah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam pun pernah ngomong, “Kami tidak pernah mendustakan engkau dan engkau bukanlah seorang pendusta. Namun, kami mendustakan apa yang engkau bawa.”

Setelah peristiwa tersebut Allah Subhanahu wa Tta’ala berfirman:

Kami mengetahui bahwasannya apa yang mereka katakan kepadamu itu menyedihkan hatimu. akan tetapi, janganlah bersedih, karena mereka sebenarnya tidak mendustakan kamu, tetapi mereka mendustakan ayat-ayat Allah. (QS:Al-An’am :33)

Rasulullah sebagai suri tauladan umat Islam bahkan umat manusia udah banyak menyampaikan hadist yang isinya perintah agar semua orang selalu bersikap jujur dan amanah.

Dari Ibnu Mas’ud ra. Berkata, Rasulullah saw. Bersabda: “Sesungguhnya shidq (kejujuran) itu membawa kepada kebaikan, dan kebaikan itu membawa ke surga. Seseorang akan selalu bertindak jujur sehingga ia ditulis di sisi  Allah SWT sebagai orang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta itu membawa kepada kejahatan, dan kejahatan itu membawa ke neraka. Seseorang akan selalu berdusta sehingga ia ditulis di sisi Allah swt sebagai pendusta” (Mutafaqun ‘Alaih)

“Tunaikanlah amanah kepada orang yang engkau dipercaya (untuk menunaikan amanah kepadanya), dan jangan khianati orang yang telah mengkhianatimu”. (Diriwayatkan oleh al Imam Ahmad dan Ahlus Sunan)

Dan hadist yang ini pasti semua udah tau.

Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga macam yaitu apabila dia berkata selalu berdusta, apabila dia berjanji tidak ditepati, dan apabila diberi amanat selalu khianat. (HR Bukhari dan Muslim

Bila kita melihat hadist di atas menjadi jelas banget, bahwa seorang Muslim itu harusnya tidak melakukan dan anti terhadap tindakan korupsi. Sebab korupsi sendiri adalah tindakan yang sangat-sangat tidak amanah dan tidak jujur.

Hadits di atas pun oleh para sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dijadikan sebagai pondasi dalam menjalani kehidupan beragama, bernegara dan bermasyarakat. salah satunya Umar Ibn Khathtab.ra. Elo tau kan Umar ibn Khathab RA?

Beliau itu adalah khalifah kedua yang menggantikan Abu Bakar RA. Sebagai khalifah, beliau rela tersengat terik panas matahari hanya demi menjaga amanah sob.

Emang gimana ceritanya kang?

Begini ceritanya. Suatu ketika sahabat Utsman ibn Affan sedang beristirahat di dalam rumahnya dalam cuaca yang sangat panas sampai unta pun terpaksa berteduh di bawah bayangan masjid. Tidak lama kemudian datanglah pria separuh baya terhuyung-huyung menutupi mukanya. Tanpa menghiraukan hamburan debu, orang itu berlari menembus tengah hari yang panasnya mengeringkan semak belukar. Utsman ibn Affan mengintai dari jendela rumahnya. Dia heran, siapakah laki-laki yang menantang matahari sendirian, sementara di jalan tidak seorangpun yang berani keluar dari tempat berteduh? Utsman menyangka, lelaki itu orang asing yang sedang ditimpa kesusahan. Tidak lama kemudian, lelaki itupun muncul kembali dengan menuntun seekor sapi pada tali kekangnya. Tanpa beranjak dari jendela Ustman memanggil orang asing itu agar berlindung dari sengatan panas di rumahnya. Dan mengenai kesusahannya, Ustman akan menolongnya. Maka alangkah kagetnya Ustman ibn Affan sesudah lelaki itu melintasi halaman rumahnya. ternyata dia adalah Amirul Mu’minin, Khalifah Umar Ibn Khathtab.

Dengan serta merta Utsman keluar dan bertanya., “Dari mana engkau wahai Amirul Mu’minin?” Umar menjawab, “Engkau lihat sendiri bukan, aku sedang menyeret sapi?”. “Milik siapa itu?” tanya Ustman tambah terkejut, sebab biasanya Umar tidak merisaukan harta bendanya. ” Ini salah satu sapi sedekah kepunyaan anak-anak yatim yang tiba-tiba lepas dari kandangnya dan lari kejalanan, jadi aku mengejarnya dan Alhamdulillah dapat aku tangkap” Utsman tersentak ” Tidakkah ada orang lain yang dapat melakukan pekerjaan itu? dan bukankah engkau seorang khalifah?” Umar memotong tegas, “Siapakah yang bersedia menebus dosaku di hari perhitungan kelak? Maukah orang itu memikul tangung jawabku dihadapan Tuhan? kekuasaan adalah amanat saudaraku bukan kehormatan.”

Utsman menyarankan agar Umar beristirahat dahulu menunggu cuaca agak redup. Umar hanya menjawab ,” Kembalilah ketempatmu bernaung wahai saudaraku. Biarlah kuselesaikan kewajibanku.”

Dengan terseok-seok, Umar melanjutkan perjalanannya di ikuti tatapan mata Ustman yang membasah. Utsman bergumam, “Engkau merupakan cermin bagaimana seharusnya seorang pemimpin negara berbuat, dan hal itu pasti membuat berat para khalifah sesudahmu.”

Dari kisah di atas dapat diambil pelajaran bahwa seorang pemimpin itu seharusnya menjadikan jabatan sebagai amanah yang di jalani semaksimal mungkin bukan diperebutkan untuk mengais rejeki dan mencari popularitas demi kehormatan. sebab segala tindak perbuatan kita akan dipertangungjawabkan kelak di akhirat.

Emang sih sulit menjadi pemimpin semisal Umar ibn Khathab di zaman sekarang ini, tapi bukan berarti kita mengesampingkan nilai-nilai luhur yang udah di contohin oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabatnya kan? Walaupun kita enggak bisa menjadi pemimpin semisal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wassalam dan para sahabatnya, setidaknya kita membenci tindakan yang tidak amanah serta menanamkan didalam diri sebagai Muslim yang anti terhadap tidakan korupsi. Mudah-mudahan dengan begitu kita bisa menjaga diri sendiri dan keluarga dari tidakan yang dilarang didalam agama.

Emang sulit yaa kang menghilangkan korupsi di muka bumi?

Untuk melenyapkan korupsi dari peradaban umat manusia itu tidak semudah membalikan telapak tangan juga enggak segampang masak air panas. tapi setinggi-tingginya tupai melompai pasti akan jatuh juga kan? (Emang gak nyambung). Begitu juga korupsi pasti ada penyebab dan solusi untuk mengatasinya, ibarat penyakit pasti ada obatnya.

Ada beberapa aspek utama korupsi sehingga bila tidak kunjung diperbaiki maka korupsi akan terus menjamur dan tidak akan pernah selesai ceritanya kayak film laga “Kian Santang”.

Aspek utamanya apa tuh kang?

Gue bakalan ngejelasin aspek terpenting yang menyebabkan korupsi bisa merajalela. selidik punya selidik ternyata ada 4 macam aspek terpenting itu. Diataranya aspek politik, hukum, ekonomi dan keagamaan. Itulah yang menjadi hal terpenting penyebab korupsi merajalela dan ceritanya terus menerus bersambung.

 Aspek Politik

Kita dapat melihat sendiri fenomena yang terjadi di ranah perpolitikan akhir-akhir ini. Sebut saja pencalonan gubernur. Enggak sedikit dana yang dikeluarkan untuk kapanye menarik simpatisan masyarakat. Dari menyebarkan spanduk, poster, pawai, kaos, sampe celana dalem juga dibagiin (yang ini becanda). Mereka juga enggak lupa membagikan uang untuk orang-orang yang di minta partisi pasi suaranya. Dana yang dikeluarkan jelas gede banget buat orang kere kayak gue gini. Hal yang begini ini yang menjadikan alasan mereka setelah terpilih untuk mengembalikan modal yang udah dikucurkan dengan mencari keuntungan mengunakan jabatan yang di embannya.

Solusi yang harus dilakukan oleh pemerintah sebagai otoritas tertinggi adalah dengan mengatur sistem kampanye agar tidak mengeluarkan dana yang besar. itu doang sih yang gue tau, mungkin lo punya pendapat lain.

 Aspek Hukum

Lo tau kan, hingga saat ini hukuman bagi koruptor enggak sedikitpun menimbulkan efek jera? Faktor ini juga menjadi alasan terpenting kenapa korupsi enggak pernah berakhir di bumi Indonesia kayak film laga “Gajah Mada”.

Salah satu solusinya, yaa dengan diterapkannya hukuman yang berat bagi pelaku korupsi misalnya potong tangan sesuai dengan syariat Islam.

Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya  (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (Qs. Al- Maidah : 38)

 Ekonomi

Faktor ini juga gak bisa di pandang sebelah mata loh. Kalo lo liat pegawai negeri sipil yang jabatannya menengah ke samping. Penghasilan yang mereka peroleh jelas masih di bawah kebutuhan dasar ekonomi keluarganya. Hal ini nih yang menjadi pemicu tindakan korupsi walaupun dalam skala yang relatif kecil, misalnya menerima suap dari pengusaha untuk pengadaan barang dan jasa atau berpura-pura melakukan study banding keluar kota padahal sebagian besar dananya digunakan untuk bersenang-senang dan berfoya-foya.

Solusinya adalah dengan meningkatkan gaji atau mengizinkan dan memberi pelatihan pegawai negeri sipil untuk mendirikan usaha milik pribadi biar bisa menunjang ekonomi keluarganya.

 Agama

Nilai-nilai keagamaan yang mulai pudar bahkan hilang menjadi pemicu tindakan korupsi. Kebanyakan pelaku korupsi tahu bahwa mencuri itu dilarang dalam agama tapi karena jarangnya mereka bersentuhan dengan siraman rohani, menyebabkan hilangnya kesadaran mereka akan larangan tersebut.

Solusinya adalah dengan menanamkan nilai-nilai keagamaan secara berkesinambungan sehingga menjadi acara rutin yang wajib untuk di ikuti oleh setiap otoritas pengendali kuasa serta terdapat sangsi bila ada yang tidak hadir. Bagi mereka yang beragama Islam sekiranya perlu untuk dibekali nilai-nilai tambahan seperti tasawuf agar hati mereka tetap dalam kondisi ingat kepada Allah dalam situasi apapun. Sebab banyak juga dari mereka yang solat namun hati mereka lupa untuk mengingat Allah bahkan menjadi pelaku korupsi kelas kakap di ranah pemerintahan tanah air ku tercinta Indonesia raya Merdeka..!! :D. Misalnya dalam kasus korupsi import daging sapi dan pengadaan Al-Qur’an yang melibatkan petinggi beragama islam. Mudah-mudahan dengan nilai-nilai tasawuf setidaknya mereka akan berfikir seribu kali untuk melakukan tindakan korupsi. Aamiin…Allaahumma Aamiin…

Harapan gue, solusi di atas itu dilakukan secara serentak dan berkeseinambungan, Insya Allah negara kita akan terbebas dari virus korupsi. sebab Allah berfirman: Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaum itu merubahnya sendiri. (QS Ar-Ra’d: 11)

***

Tulisan ini diambil dari KORUPSI, MARI JAUHI! Sebuah ajakan positif dari Blogger Muslim dalam mencegah bahaya korupsi

Related Articles

About author View all posts

admin

admin

Mari berkarya, kirim tulisan ke redaksi@kampusiana.net