AKU BERSAMA PALESTINA

file_1501308180

Oleh: Kartini F. Astuti

“Palestina, aku bersamamu!”

Demikian hati menjerit setiap sampai di telingaku kabar tentang negeri itu.

Tangan-tangan mungil telah melontarkan batu-batu pada tank baja para serdadu. Tangan-tangan mungil yang lalu dipatahkan serentak sebelum sempat merangkul tubuh para bapak yang ditawan.

“Palestina, aku bersamamu!”

Berondongan peluru di perut mereka menyurutkan langkahku ke tempat tidur. Sobekan kulit di sisa-sisa bagian tubuh mereka kujahit dengan tali saudara. Saat kepala para ahli kitab itu pecah, kuremas-remas kepalaku yang tak berisi apa-apa.

“Palestina, aku bersamamu!”

Kulihat debu reruntuhan gedung bercampur percikan darah. Seorang ibu menggendong jasad puteranya dengan ekspresi yang sulit kupercaya. Para tetangga mengucapkan selamat atas kepergiannya yang dirindukan Allah. “Dia syahid! Dia syahid!” kata mereka.

Aku manadah air mata sang ibu dalam potret kehilangan yang membahagiakan di saat aku begitu takut pada kematian.

“Palestina, aku bersamamu!”

Aku bermimpi jadi bunga Palestina dengan nomor KTP tujuh puluh ribu. Kuseret laras panjang ke atas bukit sepulang dari sekolah. Kunantikan pesawat-pesawat tempur di mataku. “Ini kampungku! Jangan kalian rebut dariku!”

Para serdadu yang memakai helm itu berderap dari arah matahari terbenam. Kakiku gemetar. Tanganku lunglai. Di belakangku rudal dijatuhkan. Dan aku pun terbangun dengan bersimbah keringat yang kusangka tetesan darah.

“Palestina, aku bersamamu!”

Dua puluh empat jam, tua dan muda, mereka berjaga-jaga sambil mengingat kebesaran Allah. Tidak ada waktu main-main sebelum petang. Tidak ada waktu.

Bagaimana anak-anak bisa sangat mencintai kampung halaman sementara taman bermain terbuat dari puing-puing bangunan? Bagaimana mungkin balon-balon sempat diterbangkan sementara langit hanya menyediakan dua pilihan, diam terhina atau menjemput surga?

Kalimat Allah mereka jadikan lagu untuk menghibur teman-temannya yang kehilangan anggota badan, pun anggota keluarga. Lalu aku mengingat masa kanakku yang kegirangan saat melihat pesawat udara membelah mega-mega.

“Palestina, aku bersamamu!”

Para jamaah yang membenamkan sujud mereka di lantai Al-Aqsa telah terusir ke tenda-tenda pengungsian. Sebagian masih bertahan. “Biarkan kami tersungkur di atas tanah para nabi, kumohon!”

Lalu mereka semua tersungkur di bawah tanah. Pinta mereka telah dijawab rentetan tembakan. Mereka membayar kiblat dengan harga nyawa, sementara aku masih begitu sulit beranjak dari putus cinta.

“Palestina, aku bersamamu!” teriakku tapi aku tak tahu bisa apa.

Facebook menawarkan aku untuk memasang bendera Palestina sebagai potret diri. Oh! Itu keren sekali. Aku tampil sebagai orang yang tampak begitu peduli. Dua belas jam aku memasangnya seraya bertanya-tanya apa sebenarnya yang terjadi?

Lalu aku malu sendiri, sebab tidak ada yang kutahu selain sedikit sekali. Bahwa setiap hari warga Palestina shalat jenazah. Bangsa Israel penjajah. Sengketa tanah tak sudah-sudah. Hanya itukah?

“Palestina, aku bersamamu!”

Seperti apa pertengkaran di Timur Tengah sesungguhnya? Bagaimana aroma tanah Bumi Gaza? Bagaimana sikapku jika terlahir sebagai bangsa Israel? Bagaimana jika aku adalah orang Palestina? Apakah benar ini ada hubungannya dengan kisah para utusan terdahulu?

“Palestina, aku bersamamu!”

Lalu aku memeriksa ayat-ayat Talmud. Pantas para serdadu itu tak kenal ampun. Bahwa orang-orang yang mereka sebut teroris ini, dalam kitab mereka, adalah binatang dan dikutuk untuk melayani mereka siang dan malam. Membunuhnya adalah bukti kesetiaan kepada Sang Raja.

Bahwa di tanah perjanjian itulah takhta Solomon harus dibangun sebagai pusat tatanan dunia baru. Bahwa mereka, bangsa Israel, adalah orang-orang pilihan Tuhan. Bahwa Israel berasal dari bahasa Ibrani. Isra berarti hamba dan El berarti Tuhan.

Israel juga adalah nama lain dari Yakub (cucu Abraham) yang berarti hamba Tuhan, hamba Yahweh.

Adakah hamba yang begini tega merampas hak milik orang lain lalu menyakitinya? Tuhan macam apa yang memerintah hamba-Nya untuk membunuh orang-orang tak berdosa?

“Palestina, aku bersamamu!”

Aku mengingat-ingat pelajaran agama di sekolah dasar. Tentang Musa. Tentang tongkatnya yang membawa bangsa yang terkenal itu dari Gunung Sinai menyeberangi Laut Merah. Apakah bangsa Israel memang pernah menjadi pengikut Musa?

Lalu aku membaca ayat-ayat Al-Quran—kitab yang terlalu sering kuabaikan, yang hanya manis di tenggorokan namun tidak kuteguhkan dalam hati. Kubaca saksama surat Al-Isra seakan-akan aku baru membacanya pertama kali.

Bahwa bangsa Israel memang bangsa pilihan. Hampir semua nabi berasal dari kalangan bangsa ini. Ternyata, dalam pernyataan kepada bangsanya, Musa tidak pernah menyebut Allah sebagai “Tuhan kita”, Musa selalu menyebut Allah sebagai “Tuhanku”. Begitu pun bangsa Israel. Mereka kerap berkata kepada Musa, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu…”

Dalam pandangan umat muslim, Bani Israil terkenal sebagai bangsa pembangkang yang tak segan-segan berlaku keji. Mereka telah membunuh para utusan seperti Zakariya yang mereka gergaji hingga terbelah jadi dua tubuhnya dan Yahya yang mereka penggal kepalanya dan Isa yang dalam kepercayaan Kristen telah disalib.

Bangsa Israel juga sempat berkata kepada Musa bahwa mereka tidak akan kembali ke tempat yang dijanjikan Tuhan selama orang-orang yang gagah perkasa ada di dalamnya. Sejak saat itulah mereka mengembara di sekitar Mesir dan tak punya tempat pulang.

Orang-orang yang gagah perkasa itu memang masih ada. Orang-orang yang kita tahu sebagai warga Muslim Palestina keturunan Kanaan. Israel ingin mengusir mereka lantas menduduki tanah perjanjian yang diberkati itu.

Israel tampak sangat membenci umat Muslim. Kenapa? Bagi mereka, tidak mungkin utusan terakhir lahir dari rahim seorang budak. Hajar memang bukan berasal dari “bangsa pilihan”.

Begitulah sikap Israel. Persis pembangkangan iblis yang giat beribadah tapi kemudian dilaknat Allah seumur hidupnya hanya karena tidak mau menghormati Adam.

“Palestina, aku bersamamu!”

Aku tidak tahu dengan cara apa meyakinkan semua orang bahwa ini bukan persoalan agraria, ini persoalan rasa percaya. Aku ingin tahu sejauh mana kepercayaan membawa kita pada perdamaian.

“Palestina, aku bersamamu!”

Membaca penegasan Allah tentang Bani Israil di dalam Al-Quran, aku menitikkan air mata. Bukan karena geram kepada mereka, tetapi justru karena aku sedang mengutuk diri sendiri.

Saudaraku, Israel artinya hamba Allah. Muslim juga adalah hamba Allah. Yang menjulukinya siapa? Allah. Lalu yang mengotorinya siapa? Kita. Tidakkah kita merasa bahwa kita dan bangsa Israel memiliki kemiripan?

Bahwa sebetulnya kita hanya mulia dalam sebutan tetapi tidak dalam kenyataan.

Masih saja kita menyombongkan diri hanya karena perkara yang murah. Masih saja kita merasa tinggi hanya karena keturunan atau kelebihan akal atau usia atau pangkat atau rupa atau harta atau apa saja yang kita anggap hebat?

Padahal sombong adalah selendang Allah, tidak pantas dipakai seorang hamba.

Dan, kita, telah membunuh warga Palestina pelan-pelan, hanya karena kesombongan ini. Saking sombongnya kita, tidak lagi ada rasa perih saat melihat saudara kita dianiaya.

Karenanya, mari kita berbaris rapat untuk menghimpun kekuatan.

Bukan. Bukan dengan cara terbang ke tempat yang jauhnya berkilo-kilometer itu lalu ikut berperang. Ada perjuangan lain yang lebih utama dari menempeleng lawan atau menangisi korban atau menyumbangkan berkadus-kardus mie instan.

“Palestina, jika lambungmu telah koyak dan tangan-tanganmu sudah tak kuasa memegang senjata, izinkan kami menghabiskan suara!”

“Senjata terakhir kami ini memang tidak akan mempan memukul mundur mereka yang menginjak tempat keningmu. Namun, Palestina, suara ini adalah permohonan kepada Allah, juga permohonan kepada setiap warga dunia untuk kembali mengagungkan Allah.”

“Palestina, aku bersamamu! Allah ingin kita semua, seluruh bangsa dari Timur hingga Barat, berdamai sebagai anak cucu Ibrahim!”

Dengarlah bagaimana anak-anak Palestina, setiap hari, meneriakkan kata-kata yang menggetarkan ini kepada bangsa Israel: “Khaibar-khaibar ya Yahud, jaysu Muhammad saufa ya’uud! Ingatlah peristiwa Khaibar wahai bangsa Israel, tentara Muhammad akan datang!”

Bagaimana kita, tentara Muhammad, akan datang sementara hati kita sendiri pun masih tidak punya amunisi untuk berperang? Bagaimana kita akan berperang melawan musuh sementara memerangi diri sendiri saja kita tak mampu?

Barangkali memang benar kita hanyalah raksasa yang tertidur, yang seumpama buih di lautan.

“Palestina, tenanglah, aku bersamamu!”

Telah banyak warga Palestina yang angkat suara ke hadapan warga dunia melalui sosial media namun dihukum serdadu Israel dengan tuduhan “penghasutan”. Mereka diganjar sesuai dengan jumlah interaksi. Satu kali like sama dengan satu kali pukulan senapan. Satu kali share satu kali intimidasi.

Jika kamu bersama Palestina, bagikan ini kepada kerabatmu, kepada keluargamu, gurumu, tetanggamu, dan lihat adakah serdadu Israel berani melawan kita, umat Muslim, tentara Muhammad yang dirindukan anak-anak Palestina?

Indonesia, 2017

Artikel ini pernah dimuat di https://www.inspirasi.co/kartinifastuti/33300_aku-bersama-palestina

Related Articles

About author View all posts

admin

admin

Mari berkarya, kirim tulisan ke redaksi@kampusiana.net