Kenapa NU Keluar dari Masyumi?

NU-Masyumi

Tadi saya mendapatkan tulisan Irkham Fahmi Al-Anjatani yang tersebar di WhatsApp Grup (WAG), tulisan itu mengenai keluarnya NU dari Masyumi. Dia (Irkham Fahmi) menulis bahwa NU keluar dari Masyumi karena rayuan Bung Karno yang ingin memakai kabinet kaki empat (Nasakom), NU dituduh mengkhianati kaum muslimin yang lain dengan keluar dari Masyumi.

Bagi saya tulisan itu tidak berlandaskan sejarah atau bisa dikatakan ahistoris. Coba kita baca sejarah Masyumi itu berdiri. Masyumi adalah kelanjutan dari Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI) yang merupakan gagasan KH. Wahab Chasbullah dan Ahmad Dachlan Kebon Dalem (tokoh NU bukan pendiri Muhammadiyah) pada tahun 1937. (Greg Fealy, 1998: 48).

Kemudian MIAI dibubarkan oleh Jepang dan memmbentuk Masyumi pada bulan November 1943. Masyumi menurut teori adalah organisasi non-politik. Kiai Hasyim As’ari ditunjuk sebagai Ketua Umum Pertama. Kiai Wahab Chasbullah ditunjuk sebagai penasehatnya. Dua tahun kemudian Masyumi berubah menjadi Partai yakni pada bulan November 1945. Masyumi menjadi satu-satunya kendaraan politik Islam. (Greg Fealy, 1998: 52-53).

Dengan berjalannya waktu di era awal kemerdekaan gunjang-ganjing di tubuh Masyumi terjadi. Padat tahun 1947 Sarekat Islam (SI) keluar dari Masyumi. Dilanjutkan dengan NU pada tahun 1952 keluar diri dari Masyumi. Keluarnya NU dari Masyumi bukan disebabkan rayuan Bung Karno yg disebut oleh Irkham. Tetapi karena beberapa faktor, antara lain, posisi eksekutif (DPP) yang tadinya dikuasai Islam tradisionalis kini didominasi oleh kelompok moderins yang berpendidikan Barat. Para aktifis NU secara perlahan digeser ke dalam posisi penasehat (majlis syuro), sehigga tidak memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan. (Mun’im DZ, 2016: 175). Sebelum kongres 1949, Majlis Syuro berhak menentukan masalah-masalah apa saja tetapi pasca kongres 1949 Majlis Syuro dibatasi. Hal ini menjadi faktor utama pertikaian anatara NU dan kelompok moderinis di Masyumi. Dalam kongres itu pula NU merasa kian tersisihkan.

NU memandang bahwa DPP tidak mempunyai kemampuan menentukan masalah-masalah politik mana yang masih berada dalam batasan-batasan hukum Islam. Karena sangat sedikit anggota DPP yang ahli bidang fikih. (Greg Fealy, 1998: 102). Dari sini bisa dilihat bahwa kaum tradisionalis yang menginisiasi berdirinya MIAI sehingga berdirinya Masyumi. Tetapi gerak dalam tubuh Masyumi dibatasi. Menganggap pendidikan Barat paling hebat. Para kiai hanya sebagai penasehat saja. Tidak usah mengurusi politik. Menurut saya, kelompok modernis merasa sombong dengan pendidikan Baratnya dan tidak menghormati ulama (Majlis Syura).

Perubahan peran ulama dan Majelis Syuro ini merupakan penyebab utama pertikaian antara NU dan kelompok Natsir (modernis). Tetapi, bukan hanya masalah itu saja faktor keluarnya NU dari Masyumi. Setidaknya ada 5 alasan kenapa NU keluar dari Masyumi.

Pertama, keputusan politik berbahaya yang diambil DPP tanpa memberi tahu NU (Majlis Syuro). Sehingga NU tidak mengambil resiko ketika Kelompok radikal Masyumi pimpinan Kartosuwiryo yang mendirikan Darul Islam (DI) dan tentara Islam Indonesia (TII) yang menganggap Pancasila sebagai kafir dan komunis. Hal ini membuat malu para pemimpin NU.

Kedua, membelokan haluan negara, saat kelompok modernis yang berhaluan liberal, yaitu Perdana Menteri Soekiman bersama Menteri Luar Negeri Subardjo membuat langkah tersembunyai untuk membelokkan haluan negara dari non-blok menjadi blok Amerika dengan menandatangani Mutual Security Act (MSA) pada tahun 1952.

Ketiga, adanya berbedaan ideologi politik, walaupun NU dengan modernis Masyumi satu agama tapi memiliki ideologi yang berbeda. NU cenderung nasionalis dan populis. Sementara kelompok modernis cenderung westernis dan elitis.

Keempat, NU sebagai pendulang suara terkuat tetapi saat pembagian kekuasaan dikesampingkan.

Kelima, dalam bidang agama dan kebudayaan kalangan NU dan pesantren berusaha mensistesiskan anatar Islam dengan tradiai lokal, termasuk dalam kebijakan politik. Sementara kelompok modernis Masyumi cenderung puritan mengacu pada Islam Arab murni, di satu sisi ada kelompok yang liberal yang lebih mengacu pada budaya Barat yang sekuler.

Dengan melihat perilaku Masyumi yang telah menyimpang secara ideologi dan telah bertindak tidak adil secara politik, maka NU pada Muktamar di Palembang 1952 secara resmi keluar dari Masyumi. (Mun’im DZ, 2016: 176-177).

Secara data sejarah bahwa tuduhan Irkham Fahmi yang menyatakan NU keluar dari Masyumi karena rayuan Bung Karno karena mengusung Kabinet Nasakom itu tidak tepat. NU keluar dari Masyumi tahun 1952 sedangkan usulan Nasakom oleh Bung Karno itu pada tahun 1957. NU juga menolak Nasakom pada saat itu. Idam Chalid sebagai Ketua Umum NU waktu itu mendatangi Bung Karno untuk menolak Kabinet Kaki Empat (Nasakom) dan NU siap keluar dari barisan kabinet. (Mun’im DZ, 2014: 88-89).

Saran saya, jika ingin membaca sejarah NU maka baca secara keseluruhan. Jangan hanya cocokologi saja. Tahun keluarnya NU dari Masyumi dan Nasakom jelas berbeda. Meskipun NU dekat dengan Bung Karno. Cara pandang Masyumi seperti itu salah. Memutarbalikkan sejarah. Kalau menganggap NU keluar dari Masyumi karena rayuan Bung Karno. Kita juga sudah tahu bahwa Bung Karno waktu itu sering belajar ke para kiai-kiai, antara lain, Kiai Hasyim Asyari dan Kiai Wahab Chasbullah. Bagi saya, keluarnya NU dari Masyumi bukanlah untuk memecah belah persatuan Islam. Tetapi dengan alasan-alasan di atas maka maklum NU pada waktu itu keluar dari Masyumi.

Buat anak-anak muda NU teruslah belajar sejarah NU, jangan sampai melupakan peran NU dalam bernegara dan berpolitik. Akhir kata saya akan memetik Kredo Perjuangan NU yang dikatakan oleh Kiai Wahab Chasbullah ketika mendesak penarikan diri dari Masyumi. Berikut teks lengkap Kredo Perjuanga NU:

Inilah kekuatan NU.
Banyak pemimpin NU di daerah-daerah dan juga pusat yang tidak yakin akan kekkuatan NU. Mereka lebih menyakini kekuatan golongan lain. Orang-orang ini terpengaruh oleh bisikan orang yang menghembuskan propaganda agar tidak yakin akan kekuatan yang dimiliki.
Kekuatan NU itu ibarat senjata adalah meriam, betul-betul meriam. Tetapi digoncangkan hati hati mereka oleh propaganda luar yang menghasut, seolah-olah senjata itu bukan meriam, tetapi hanya gelugu alias pohon kelapa sebagai meriam tiruan.
Pemimpin NU yang tolol itu tidak akan sadar siasat lawan dalam menjatuhkan NU melalui cara membuat pemimpin NU ragu-ragu akan kekuatannya sendiri.
Jakrata, 1950 (KH. Wahab Chasbullah).

Sekian dan terima kasih.
Waki Ats Tsaqofi Langgar Swadaya Nusantara, Depok. Pukul 13.19 (22/7).

Daftar bacaan:
– KH. Abdul Wahab Chasbullah, Kaidah Berpolitik dan Bernegara, Depok: Langgar Swadaya Nusantara, 2014.
– Abdul Mun’im DZ, Benturan NU-PKI, Depok Langgar Swadaya Nusantara, 2014.
– Abdul Mun’im DZ, Tangsel: Fragmen Sejarah NU, Pustaka Compass, 2016.
– Abdul Mun’im DZ, Runtuhnya Gerakan Subversi di Indonesia, Jakarta: PBNU, 2014.
– Greg Fealy, Ijtihad Politik Ulama, Yogyakarta: LKiS, 1998.

Related Articles

About author View all posts

Waki Ats Tsaqofi

Waki Ats Tsaqofi

Blogger | Layouter | Desainer Grafis |