Kajian Terjemah Tasawuf “Obat Hati”

io

“Andaikan tidak ada tujuan dalam penciptaan, maka cukuplah tiada tujuan itu sebagai balasan, dan cukuplah kehilangan tujuan menjadi kerugian dan siksaan.”

Sesungguhnya kita hidup di hari ini di era perkembangan ilmu matrealis dengan sangat dahsyat. Manusia menghasilkan sesuatu yang banyak berupa alat-alat peradaban dan kemewahan.  Tidak henti-hentinya perkembangan ini tumbuh dengan pesatnya. Setiap hari selalu ada hal yang baru.

Dari pesatnya dalam bidang ini maka memunculkan tumbuh pesat dalam bidang lain, yang harus dikuasai oleh seseorang untuk menghasilkan perabot di dalam masanya dan mengambil manfaat darinya. Tetapi sampai kapanpun, kemodernan akan terus berjalan tanpa henti.

Pesatnya perkembangan diikuti dengan cepatnya kerusakan. Manusia telah sampai pada keadaan sengsara di balik kehidupan modern, produsen kehabisan nafas, begitu juga konsumen. Anehnya kedua pihak ini tidak mampu untuk menghentikannya supaya mereka menemukan jati diri mereka.

Perkembangan ini bersamaan dengan tingginya populasi pengidap penyakit, dengan berbagai macam penyakit. Semua itu menjadi bagian dari karakteristik peradaban ini, di mana di setiap masa kita mendengar terungkapnya penyakit baru. Pesatnya komunikasi dan ilmu kesehatan dalam meneliti ramuan baru  untuk mengobati penyakit baru, semua ini termasuk hal yang membikin kehidupan ini semakin sulit dari sisi yang lain.

Bertambahnya macam-macam penyakit hati di mana keadaannya berbeda satu sama lain dan tingginya jumlah pengidapnya sehingga mencapai bilangan yang mengkhawatirkan.

Ini adalah keadaan manusia pada hari ini.

***

Hati yang sehat adalah hati yang lebih mengutamakan sesuatu yang bermanfaat dan menyembuhkan daripada sesuatu yang membahayakan dan menyakitkan. Sedangkan hati yang sakit itu akan memilih sebaliknya.

Suplemen yang paling bermanfaat adalah iman. Obat yang paling bermanfaat adalah Al-Qur’an. Masing-masing dari keduanya berfungsi sebagai suplemen dan obat bagi hati.

Termasuk tanda sehatnya hati juga adalah, ketika seorang pergi meninggalkan dunia menuju akhirat kemudian bermukim di sana. Dia  merasa seakan-akan akhirat merupakan tanah kelahirannya. Sungguh dia telah datang sebagai orang asing untuk untuk mengambail sebatas kebutuhannya saja dan akan kembali ke negeri asalnya. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada Abdullah bin Umar Radhiyallahu anhu, “Jadilah kamu di dunia seakan-akan orang asing atau pengembara(musafir)!  Dan anggaplah dirimu termasuk di antara ahli kubur!”[1]

“Marilah ke Surga Aden, karena di sanalah persinggahanmu yang utama dan di sanalah tempat berteduh. Tetapi kita sedang menjadi tawanan musuh(dalam penjara dunia). Bagaimana menurutmu? Bisakah kita kembali ke negeri kita dengan selamat?”

Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu  berkata, “Sesungguhnya dunia pergi dan berpaling, sedangkan akhirat datang menghadap. Masing-masing dari keduanya memiliki pengikut. Maka jadilah generasi-generasi akhirat dan jangan menjadi generasi-generasi dunia. Karena hari ini (di dunia) kita berbuat tanpa diminta pertanggungjawaban. Sedangkan esok (di akhirat), yang ada hanyalah pertanggungjawaban. Tiada amal lagi yang bisa kita lakukan.”

Ketika hati telah sembuh dari sakitnya maka ia akan pergi untuk mendekati akhirat kemudian menjadi penduduknya. Dan ketika hati telah sakit maka ia akan memilih dunia dan tinggal di sana sehingga ia menjadi penduduknya.

Termasuk tanda-tanda hati yang sehat adalah, ia selalu menyadarkan pemiliknya sehinga kembali dan tunduk pada Allah Ta’ala, bergantung pada Allah layaknya sang kekasih yang harus lekat dengan kekasihnya. Merasa tidak memiliki kehidupan,  keberuntungan, nikmat, senang, dan bahagia jika tidak dekat pada-Nya, tidak mendapat ridha-Nya, dan tidak mendapatkan keramahan-Nya. Dia merasa tenteram bersama-Nya dan hanya bersama-Nya dia menjadi tenang. Hanya kepada-Nya dia berlindung, dengan-Nya dia gembira, dan kepada-Nya dia pasrah dan  bergantung. Hanya pada-Nya dia berharap dan takut. Mengingat-Nya menjadi kekuatan, sumber energi, dan cinta. Rindu pada-Nya menjadikan kehidupan, kenikmatan, kelezatan, dan kebahagiaan hati. Berpaling dan bergantung pada selain-Nya akan menjadi penyakit bagi hati dan obatnya adalah kembali kepada-Nya.

Ketika Allah telah ada di hati, maka hati akan tenteram dan damai serta hilanglah kebingungan dan kegelisahan, sehingga terpenuhi kebutuhannya. Karena hati memiliki kebutuhan dan selamanya  tidak bisa terpenuhi kecuali dengan Allah. Di dalam hati ada sesuatu yang tercerai berai dan hanya bisa disatukan dengan menghadap Allah. Di dalam hati terdapat penyakit yang tak bisa disembuhkan, kecuali dengan memurnikan ibadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata.

Hati selalu mengingatkan pemiliknya agar tenang dan damai pada Tuhan yang dia sembah. Di saat itulah dia akan menyentuh ruh kehidupan dan merasakan nikmatnya, sehingga dia memiliki kehidupan baru yang tidak seperti kehidupan orang-orang yang lalai dan berpaling dari tujuan, dimana manusia, surga, dan neraka diciptakan, rasul diutus, dan AL-Qur’an diturunkan. Andaikan tidak ada tujuan dalam penciptaan, maka cukuplah tiada tujuan itu sebagai balasan, dan cukuplah kehilangan tujuan menjadi kerugian dan siksaan, seperti yang diungkapkan oleh penyair,

“Siapa berpaling dari kami, maka dia dijauhi dan dimurkai. Dan, siapa menghilang dariku, maka cukuplah kiranya menjadi balasan, aku menghilang darinya.”

Ulama ahli makrifat berkata, “Orang-orang miskin di dunia itu adalah yang meninggalkan dunia, namun belum merasakan hal yang paling nikmat di dalamnya.”  Kemudian ada yang bertanya, “Apa hal yang paling nikmat itu?” Ulama menjawab, “Cinta Allah, keramahan Allah,  kerinduan bertemu Allah, serta merasa nikmat dengan mengingat dan mematuhi-Nya.”

[1] HR. Al-Bukhari (6417),  At-Tirmidzi (2333), dan lainnya.

#Diterjemahkan dari Kitab Tibbul Qulub Karya Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.

#Penerjemah: “Santri yang kebetulan menjadi Mahasiswa.”

Info:

WA 085655956766/089615595708
IG @komunitassantriindonesia

Related Articles

About author View all posts

Fib Bawan Arif Topan

Fib Bawan Arif Topan

Santri yang kebetulan menjadi mahasiswa.
Anggota Senat Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Ketua Forum Mahasiswa, Alumni, dan Santri Lirboyo