Fangirls Akhwat dan Gagap Nikah Muda

kartun-akhwat-galau

Selama ini, citra dari fangirl dan akwat (muslimah) adalah dua citra yang sangat berbeda, meskipun mungkin tidak sepenuhnya bertolak belakang. Toh, akhwat juga bukannya kebal terhadap perasaan mengagumi orang lain.

Maksud akhwat di sini tentu para wanita beragama Islam yang menyadari identitasnya sebagai muslimah dan mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari, baik secara manifes dalam wujud cara berpakaian, berbicara, dan berperilaku, maupun secara laten berupa kepercayaan dan nilai-nilai keislaman yang dianut.

Sekarang atau baru-baru ini, saya menyaksikan fenomena fangirls akhwat. Dimulai dari Fatih Seferagic, hafiz muda asal Amerika Serikat berkebangsaan Bosnia yang menjadi viral beberapa tahun belakangan karena suaranya yang merdu dalam melantunkan Alquran. Tahun lalu hafiz ini pernah diundang ke Indonesia, dari kota ke kota lain, dari kampus ke kampus yang lain, …. dan tentunya hafiz ini dipuja para akhwat.

Animo akhwat terhadap hadirnya Fatih di Indonesia barangkali masuk akal bagi sebagian besar orang. Saya yang baru pertama kali melihat langsung “kehisterisan’’ para akhwat berteriak yang serempak berubah menjadi fangirls tulen di hadapan idolanya hanya bisa tercengang membayangkan. Saya juga sempat melihat video saat Fatih diundang ke Bandung, berdampingan dengan Kang Emil dan banyak remaja putri yang berteriak tertahan menyaksikan ketampanan Fatih. Ibu-ibu tak ketinggalan. Kaum perempuan berebut ingin berfoto bersama Fatih.

Selanjutnya, giliran Muzzamil Hasballah yang menjadi fokus. Ia menjadi pelaku utama gerakan patah hati dunia akhirat, setelah sebelumnya hari patah hati nasional dipegang oleh Raisa-Hamish dan hari patah hati internasional oleh song-song couple. Muzammil Hasballah adalah penghafal Alquran sama seperti Fatih, berusia 24 tahun lulusan arsitektur ITB. Sosoknya menjadi populer semenjak video merdunya melantunkan surah Ar-Rahman viral di internet dan para netizen (utamanya perempuan) lagi-lagi mengidolakan ngajinya dirinya. Silakan cek di kolom komentar Instagram Muzammil seperti apa para ukhti fangirl-nya? Alih-alih mengagumi hafalan atau bacaannya, mereka malah lebih mengagumi sosok Muzammil sendiri.

Selama beberapa hari, saya melihat banyak akhwat memasang tagar patah hati nasional, sebab Muzzamil yang saleh dan penghapal Alquran menikahi seorang perempuan asal Aceh. Memang tak ada jerit tertahan kali ini. Memang tak ada teriakan histeria. Namun banyak sekali rangkaian kalimat yang mau tak mau membuat saya terenyuh.

Boleh saja mengidolakan seseorang hafiz muda dan juga pintar secara akademis (karena sudah lulus S1). Tentunya ini merupakan kombinasi yang komplit. Pintar secara akadmis juga pintar sepiritual. Tetapi, pantaskah segala macam ungkapan seperti ini, “ikhlas banget deh punya suami kayak gini. Cariin yang kayak gini dong. Plis turunin cowok yang hafal 30 juz yang baik, yang siap menuju surga ya Allah. Ayo cari suami kayak gini. Aku gak kedip dengerin ini” dll. Banyak banget kalau ditulis semua. Padahal itu baru komentar terus terang yang kelihatan, belum yang dalam hati atau dalam doa.

Hai, para akhwat, apa yang terjadi dengan kalian?

Sis, istighfar atuh, sis. Izzah mana izzah? (Izzah = kehormatan diri).

Mungkin sebagian dari mereka bercanda. Sebab saya juga ketawa geli membaca beberapa twit atau tanggapan netizen soal Hamish-Raisa, Chelsea-Bastian, atau Song Song couple. Tapi ketika segerombolan remaja muslimah berjilbab rapi terpesona terhadap sosok-sosok tertentu, apalagi sampai baper berlebihan, kok saya jadi gak enak melihatnya yah. Mungkin karena ekspektasi saya terhadap para akhwat begitu tinggi. Padahal toh usia mereka sama mudanya dengan saya atau remaja lainnya.

Dari sini, bisa dilihat seberapa kuat sebenarnya suatu identitas tertanam dalam diri seseorang. Tentu saja mengagumi seseorang yang memang menginspirasi merupakan hak setiap orang. Tetapi, hal ini tidak sepatutnya melunturkan identitas yang posisinya lebih fundamental di dalam diri. Mengagumi seseorang itu wajar. Namun mengagumi seseorang sampai kehilangan identitas diri dan mengesampingkan norma, di sinilah batas kewajaran itu dipertanyakan.

Selain fenomena fangirls akhwat. Para ukhti (akhwat) sudah kebelet nikah, tapi masih menunggu colon suaminya. Kalau menurut saya sih mending ukhti cari geh. Walaupun kita tahu bahwa jodoh itu di tangan Tuhan. Kalau gak diambil dan diminta yah bakal selamanya di tangan Tuhan, betul enggak? Kalau mau calon suami seperti Muzammil masih banyak kok. Saya yakin banyak juga ikhwan sejenis Muzammil di pesantren-pesantren, mungkin juga di kampus. Saya sangat yakin masih banyak. Tidak usah khawatir. Jangan hanya bisa komen di Instagram dan stalking.

Bukan hanya itu saja, belakangan ini sedang maraknya seminar pra-nikah, yaitu program persiapan nikah intensif. Para ukhti yang sudah kebelet nikah rela mengeluarkan uangnya untuk mengikuti program ini. Berapapun yang dikeluarkannya. Entah sejak kapan seminar-seminar seperti ini dimulai. Selain acara seminar pra-nikah, ada juga acara ta’aruf masal, para pesertanya cukup membawa curriculum vitae (CV) saja, kalau cocok dengan pilihannya maka boleh dibawa pulang. Udah kaya beli baju aja yah. Hehehe.

Jangan terjebak dengan mimpi menikah di usia muda dengan seseorang yang soleh dan mapan. Sebab jalan menuju ke sana tidak instan seperti indomie. Indomie aja harus direbus dulu biar nikmat, apalagi pasangan hidup harus dipilih dan diseleksi dengan sebaik mungkin. Bisa enggak sih bertekad mendapatkan jodoh yang baik sambil santai? Nggak usah terlihat kebelet nikah, dalam perjalanan nanti, pasti ada rintangan. Emangnya kayak film Korea dan film India yang endingnya pasti hepi.

Selagi ada waktu, carilah ilmu sebanyak-banyaknya. Jodoh belum datang, jangan mudah baper, kerja dulu sambil menunggu. Santai aja, percayakan dengan janji Allah?

Jangan hanya berpikir semua lelaki baik akan langsung melamarmu dengan cepat ukhti. Lelaki juga butuh persiapan yang matang, janganlah menggampangkan persiapan itu. Nikah itu bukan soal menjadikan yang haram menjadi halal, bukan itu. Kalau hanya itu berarti seks oriented. Ingat, kamu itu hidupnya di dunia nyata. Bukan drama sinetron ukhti. Jangan sampai di kemudian hari kita menyesali hal-hal yang dilakukan karena dorongan sesaat.

Related Articles

About author View all posts

Waki Ats Tsaqofi

Waki Ats Tsaqofi

Blogger | Layouter | Desainer Grafis |