Asal-Uslul Teror dan Gerakan Subversi di Indonesia [2] Proklamasi Darul Islam (DI/TII)

pasukan di-repro

Asal-usul gerakan teror yang pertama di Indonesia adalah Gerakan Radikal Padri sekarang melanjut ke gerakan teror dan subversi di Indonesia yang kedua yaitu gerakan Darul Islam. Simak penjelasannya.

Sejak Proklamasi 1945 keadaan negara ini belum tenteram, Belanda yang tidak mengakui kemerdekaan Indonesia terus melakukan provokasi dan agresi, kemudian dilakukan perjanjian Ranville dan Linggarjati yang dirasa sangat merugikan posisi RI Karena itulah kelompok Masyumi menolak dua perjanjian tersebut dan terus melancarkan gerilya. Sejak dilaksanakannya hijrah seluruh pasukan nasional baik tentara nasional, Hisbullah dan Sabilillah dari kawasan jajahan Belanda ke kawasan RI, maka sisa laskar yang ada dari berbagai kesatuan diorgansir Kartosowiryo di Jawa Barat untuk melakukan perlawanan terakhir.

Laskar Hisbullah dan Sabilillah serta beberapa laskar lainnya yang tertinggal di Jawa Barat diorganisir kemudian dinamakan Tentara Islam Indonesia (TII), setelah itu mereka merancang Negara Islam Indonesia (NII) yang kemudian pada 10 Februari 1948 dan pada 25 Agustus 1948 dikeluarkan Maklumat Pemerintah Islam Indonesia yang menandai berdirinya Negara Islam menggantikan Republik Indenesia yang dianggap Kafir dan Komunis. Sehingga negara menjadi semakin kacau, apalagi tidak lama kemudian yakni pada 18 September 1948, PKI memberontak di Madiun mendirikan Negra Soviet Indonesia. Dengan demikian posisi pertahanan RI menjadi sangat lemah.

Dengan adanya pengkhianatan kelompok garis keras Masyumi dan PKI yang menikam bangsa sendiri itu, sehingga  Belanda dengan mudah menyerbu Ibukota negara RI di Yogyakarta, maka pada 14 Desember 1948 dan berhasil menangkap Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Bung Hatta.  Kelompok moderat Masyumi serta NU mengutuk keras gerakan DI dan PKI, dan menggolongkan sebagai bughot (pemberontakan) karena itu harus diperangi. Pada kesempatan itulah NU memberikan posisi Bung Karno sebagai Waliyul Amri yang sah, sehingga bisa menyingkirkan semua musuh negara, agar bisa menjalankan pemerintahan dengan sempurna.

Sikap NU yang tegas terhadap pemberontakan itu menjadikan kelompok DI menjadikan NU dan pesantren sebagai sasaran teror mereka, beberapa pesantren, masjid dan madrasah NU dibakar, bahkan berapa kiainya diculik, harta benda mereka dirampas. Bahkan beberapa kali KH Idham Chalid menjadi sasaran pembunuhan. Pernah terjadi saat pengurus NU juga mereka berondong, karena NU dianggap kafir karena mendukung Republik Indonesia Kafir (RIK), para kyia seluruh Indonesia menganggap mereka itu bughat (memberontak),[1] karena itu dalam waktu sekejap mereka kehilangan pendukung dan dengan mudah ditaklukkan oleh pasukan keamanan nasional.

Darul Islam pimpinan Kartosuwiryo itu kemudian dikembangluaskan ke seluruh Indonesia. Memang kelompok modernis-wahabi di berbagai daearah sudah lama tertarik dengan gagasan negara Islam yang dipromosikan Kartosuwiryio. Maka pada 20 Januari 1952 Kahar Muzakkar di Sulawesi Selatan bergabung dengan DI dan oleh Kartosiuwiryo diangkat sebagai Pangilima Divisi IV TII Daerah Sulawesi Selatan dan Indonesia Timur. Kemudian pada 21 September 1953 Daud Bereueh di Aceh bergabung dalam DI dan mulai gencar melakukan pemberontakan di Serambi Mekah melawan NKRI. Selanjutnya kelompok Isam Radikal Kalimantan Selatan Pimpinan Ibnu Hadjar juga bergabung dengan DI Kartosuwiryo pada tahun 1954.[2] Dengan demikian gerakan DI yang semula hanya di Jawa Barat kini menyebar ke seluruh Indonesia.

Peran Belanda dalam DI

Walaupun di permukaan kelompok DI berideologi Islam puritan, tetapi di lapangan menjalin hubungan gelap dengan Belanda yang saat itu butuh alat untuk memukul Pemerintah RI. Kehadiran DI itu merupakan berkah bagi Belanda, karena itu kehadirannya dimanfaatkan dengan sebesar-besarnya untuk kepentingan memperkuat kembali penjajahan Belanda. Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat mendapatkan banyak bantuan dari Belanda baik senjata, dana, dan makanan. Berbagai macam senjata dan uang diselundupkan dari luar negeri seperti Singapura, Hongkong Jepang dan sebagainya, untuk membantu pemberontakan ini. Pernah Kepolisian Jakarta Raya menangkap dua orang Belanda yang mencetak dan mengedarkan uang pada pemberontak DI/TII

Leon Nicolas Hubbert Jungschlanger seorang anggota intel Belanda  NEFIS yang aktif membantu pemberontakan DI/TII ditangkap Polisi 30 Januari 1954 dan diadili kemudian divonis hukuman mati oleh Jaksa Agung Suprapto. Jungshlanger ini didampingi dua pengacara Bellanda yaitu Mr. Bouman dan Mr. Bougheimn, kedua pengacara itu kemudian melarikan diri ke Belanda karena juga terlibat dalam pemberontakan DI/TII.

Pengadilan terhadap Jungschleger itu juga diprotes oleh Media Amerika dan beberapa Profesor dari perguruan Tinggi seperti Henry P. Devios (Universitas Colombia) dan Harry Gedeonse dari Universitas Brooklyn serta Harold Vourhoos dari Universitas New York. Kantor berita AS United Press menjadi corong provokasi mereka. Simpati publik AS itu muncul karena anak terpidana Jungschlanger menjadi serdadu  tentara Amerika Serikat. Selin itu dunia Barat memeang mendukung semua gerakan yang melemahkan Pemerintah RI. Setelah gagal mendukung PKI Madiun Mereka juga membantu Pemberontakan DI/TII di Jawa Barat.[3] Tahun 1950-an di tengh berkobarnya DI, Kapten Westerling Mantan Kesatuan Istimewa Beand KNIL membentuk Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) Atas Persetujuan Jendral Spoor untuk menghadapi Pemerintah Republik Indonesia. Westerling yang teramat kejam itu menjalin kerjasama dengan DI memukul RI, saah seorang anak buah Westerling bernama Van Kleef masuk menjadi Pasukan DI. (Dengel hal 133). Dengan bantuan amunisi dari Belanda itu posisi DI menjadi sangat kuat dalam menghadapi TNI.

NU Keluar dari Masyumi

Perilaku sekelompok pimpinan Masyumi radikal yang makar dalam DI itu membuat kalangan NU yang ada di Masyumi menjadi sangat merepotkan, karena tidak ikut berbuat, tetapi ikut menanggung malu dan dosa semua yang dikerjakan anggota Masyumi. Apalagi tidak lama kemudian kelompok modernis yang berhaluan liberal di Masyumi yaitu Perdana Menteri Soekiman, mengeluarkan kebijakan tersembunyi untuk membelokkan haluan negara dari non blok menjadi blok Amerika dengan menandatangani Mutual Security Act (MSA) pada tahun 1952. NU mengecam keras tindakan ini, sehingga Soekiman dipaksa mundur dari jabatannya.[4]

Selain itu anasir DI yang sebagian besar terdiri dari pimpinan Masyumi itu giat melakukan berbagai tindakan makar, mengebom Sekolah Cikini yang sedang melakukan acara kenaikan kelas, sehingga menewaskan belasan murid dan orang tua serta pasukan keamanan. Setelah itu pasukan DI juga melakukan pengeboman udara saat ada sidang  Kabinet di Istana negara. Juga melakukan pengeboman di Masjid Baiturrahim saat presiden beserta menteri melakukan sembahyang Idul Adha. Saat itu Presiden Soekarno selamat, KH Idham Chalid juga hanya kena desingan peluru, tetapi Wakil Perdana Menteri H Zainul Arifin seorang tokoh NU tertembak hingga mengakibatkan kematiannya[5].

Kondisi Masyumi yang diwarnai dengan menuver politik yang menghalalkan segala cara,  baik yang Islamis radikalis, maupun yang liberal kapitalis seperti itu membuat NU semakin tidak betah. Selagi NU masih berada dalam Masyumi seluruh dosa Masyumi yang dilakukan oleh kelompok Modernis-Wahabi dengan memberontak melalui DI/TII, atau ulah kelompok Liberal dengan membawa Indonesia menjadi sekutu Amerika, maka NU turut terkena getah dan merasa ikut berdosa. Karena itulah pada tahun itu juga yakni 1952, NU dengan resmi menyatakan keluar dari Masyumi dan menjadi Partai tersendiri, dengan kebijakan sendiri yang lebih populis dan lebih nasionalis. Sejak saat itu Masyumi berubah menjadi partainya kelompok Islam modernis yang secara ideologi dan secara politik berseberangan dengan NU.

Keluarnya NU dari Masyumi walaupun dilakukan dengan berat hati karena harus melepas persatuan umat Islam, tetapi membawa banyak berkah. Kepentingan kelompok NU tidak hanya diwakili kelompok modernis, tetapi memiliki DPR sendiri dan memiliki menteri sendiri. Dan yang lebih penting lagi mampu merumuskan kebijakan politiknya sendiri yang lebih mandiri dan tegas dalam menjaga NKRI. Langkah NU itu sangat tepat karena setelah itu kelompok DI terus melancarkan aksi teror dan pengeboman dan perampokan di man-mana yang mencemarkan nama Masyumi, dan NU tidak terkena lagi getahnya lagi.

Sember: H. Abdul Mun’im DZ, Runtuhnya Gerakan Subversi di Indonesia, Depok: Langgar Swadaya Nusantara, 2015.

[1] Lihat Memoar KH Idham Chalid, Tanggung Jawab NU dalam Sejarah, Penerbit Indonesia satu, Jakarta 2008, hal 300-303.

[2] Holk Denge, Darul Islam dan Kartosuwirjo, Angan-angan yang Gagal, Penerbit Sinar Harapan, Jakarta 1995, hal, 145.

[3] Hubungan DI  dengan Westerling ini dibuktikan dalam pengedilan terhadap orang-orang Westerling yang tertangkap. Lihat Iip D Yahya, Jaksa Agung Suprapto dan Penegakan Hukum di Indonesia, 1950-1959, Gramidia, Jakarta, 2004, hal., 42 dan 126.

[4] Idham Chalid, hal, 300.

[5] Ario Helmy, hal, 37.

 

Related Articles

About author View all posts

admin

admin

Mari berkarya, kirim tulisan ke redaksi@kampusiana.net