Asal-Uslul Teror dan Gerakan Subversi di Indonesia [1] Gerakan Radikal Padri

Naar-beide-zijden-front

Gerakan subversi, aksi teror serta pemberontakan di Indonesia memiliki akar yang jauh dalam sejarah negeri ini yang dirintis oleh kelompok Islam puritan yang radikal di Sumatera Barat yang menamakan diri sebagai gerakan Paderi. Gerakan Paderi ini berasal dari sekelompok orang Minangkabau yang belajar ke tanah suci saat Jazirah Arab mulai berkembang ajaran Wahabi. Orang-orang ini juga pernah memiliki pengalaman sebagai tentara Turki yang waktu itu masih menguasai kawasan Arab.

Dengan pemahaman teologi Wahabi yang puritan, ekstrem dengan kemampuan taktik perang dari pasukan Turki, maka ketika kembali ke Minangkabau mulai melakukan upaya pemurnian ajaran Islam dengan cara kekerasan di kawasan mayoritas penduduknya Muslim dengan Madzhab Syafi’i yang sangat menghargai adat dan tradisi yang berkembang di masyarakat Minang. Tercatat beberapa ulama Syafi’iyah terkemuka di daerah itu seperti Syeh Burhanudin Ulakan penyebar Islam di Minang serta ulama Sufi lainnya seperti Syekh Abdurrahman Batu Sangkar dan banyak lagi.

Ajaran agama yang dikembangkan para ulama Sufi yang bermadzhab Syafii itu dianggap oleh para pemuda Minang yang sudah kerasukan pahama Wahabi sebagai bida’ah. Kelompok anak muda beraliran Wahabi yang belajar di Mekah itu pulang kampung tahun 1802 dibawah pimpinan   H. Miskin dan kawan kawan yang dikenal harimau nana salapan (delapan hari mau) yang sangat garang yang bertugas membersihkan Islam dari pengaruh madhab dan ajaran setempat. Ada salah satunya bernama Nan Renceh adalah seorang algojo yang sangat kejam. Semua amalan madzhab Syafiiyah, termasuk hukum adat yang mengacu pada madzhab itu dianggap bidah dan sesat, sehingga darah mereka dianggap halal, saat itu kelompok ulama senior yang mereka jadikan sasaran. Tidak sedikit yang menjadi korban penganiayaan dan pembunuhan. Sebagaimana dilakukan para Wahabi di Arabia, mereka itu juga membongkar makam para wali yang ada di Minangkabau, tempat ziarah umat Islam.

Sejak hadirnya gerakan Paderi itu kehidupan masyarakat Minang tidak lagi tenang, tidak hanya masyarakat Islam, masyarakat adat, kalangan Kerajaan Pagaruyung yang juga penganut Madzhab Syafiiyah juga menjadi sasaran serangan mereka. Setelah terjadi kebuntuan dalam dialog dengan pihak kesultanan, maka dalam posisi terjepit dan terkepung oleh pasukan bersenjata Paderi, Sultan beserta keluarganya dibantai oleh kelompok Paderi. Hanya seorang anak Sultan yang masih bayi yang bisa diselamatkan oleh pembantunya, sehingga bisa melanjutkan tahtanya di kemudian hari dengan gelar Raja Alam Muningsyah.[1] Salah satu pimpinan Paderi Adalah Imam Bonjol, yang menyebarkan Ajaran Wahabi hingga ke Sumatera Utara di kalangan suku Batak Muslim. Imam Bonjol ini kemudian juga berhadapan dnegan Belanda dalam Perang Paderi.

Hingga tahun-tahun berikutnya kaum  Paderi Wahabi terus menyebarkan ajarannya dengan kekerasan. Sebagaimana diceritakan KH Zainul Arifin tokoh NU dari Tapanuli Selatan, bahwa ia dan teman sebayanya sudah diajari Silat oleh neneknya untuk menghadapi keganasan Wahabi, sebab di komunitas Ahlussunnah wal Jama’ah Batak itu kelompok Paderi melakukan serbuan dan  pembantaian terhadap kelompok yang tidak mau mengikuti ajaran Wahabi.[2]

Dengan terornya dan pembantaian dilakukan banyak juga pemuda yang tertarik atau terpaksa mengikuti gerakan ekstrem itu, sehingga gerakan Paderi menjadi meluas. Daerah-daerah di taklukkan dengan menggunakan senjata,  sehingga keresahan terjadi di mana-mana. Karena mereka menghujat semua cara beribadah kalangan santri, mengganggu serta menyiksa mereka atas nama agama. Di kemudian hari kelompok Paderi ini mendirikan organisasi yang bernama Sendi Aman Tiang Selamat pimpinan organisasi ini antara lain H. Abdul Karim Amrullah seorang propagandis Wahabi terkenal.

Pada saat yang hampir bersamaan di Yogyakarta, juga muncul gerakan puritanisme Islam yang digerakkan oleh H Ahmad Dahlan, gerakan ini  menghendaki pemurnian ajaran Islam, dengan menawarkan Islam tanpa madzhab, karena harus bersumber langsung dari Qur’an dan Hadits, sama sekali tidak diperlukan pandangan para ulama, termasuk tidak perlu mempertimbangkan madzhab yang ada. Munculnya gerakan itu memicu  terjadinya  berbagai perdebatan dengan ulama bermadzhab. Gerakan itu kemudian pada tahun 1912 dilembagakan menjadi organisasi Muhammadiyah, sebagai pelopor gerakan Islam puritan di Jawa.

Sekitar tahun 1920-an KH Abdul Karim Amrullah tokoh Paderi Minangkabau merantau ke Jogya, dan bertemu dengan tokoh Islam puritan Yogya KH. Ahmad Dahlan, yang kemudian banyak belajar darinya tentang Islam puritan. Lama kelamaan H A. Karim Amrullah tertarik dengan gerakan Ahmad Dahlan yang diianggap senafas dan sejalan dengan gerakan Paderi yang dipimpinnya. Maka kemudian pada tahun 1925 organanisasi  Paderi bernama Sendi Aman Tiang Selamat yang dipimpinnya  dilebur ke dalam  gerakan Muhammadiyah. Dengan masuknya Abdul Karim ini Muhammadiyah mendapat amunisi baru, dan terjadi pergeseran sikap.[3] Muhammamdiyah yang awalnya agak lembut, menjadi semakin keras, dan makin agresif, tidak toleran dengan tradisi setempat, setelah kemasukan elemen Paderi.

Sejak saat itulah perdebatan mengenai masalah khilafiyah furu’iyah menjadi semakin mengemuka. Benturan antara sesama umat Islam terjadi di mana-mana, di tingkat para pemimpinnya hingga para pegikutnya. Hal itu tentu sangat menguntungkan penjajah, karena kekuatan negeri ini bertikai. Perebutan masjid, pembakaran beduk, kentongan, pembakaran langgar dan sebagainya ramai terjadi di masyarakat. Karena semua perangkat itu dianggap bid’ah dan sesat yang harus disingkirkan, begitupula pembacaan shalawat, tahlil serta amalan tarekat dianggap ajaran sesat yang harus dimusnahkan.

Ketika Raja Ibnu Saud menguasai Mekah dan Madinah tahun 1924 dan 1925, dengan menerapkan Wahabi sebagai satu-satunya aliran, sementara Madhab lain seperti Syafii, Hanafi, Maliki dan Hanbali yang berlaku di sana disingkirkan. Selain itu juga membongkar beberapa situs sejarah, serta hendak membongkar makan Nabi. Kelompok modernis baik dari Muhammadiyah, Sarekat Islam dan Persis setuju dengan agenda Ibnu Saud itu. Hanya kalangan Ulama Pesantren  menentang keras tindakan itu.

Karena itu ketika Kongres Umat Islam Indonesia mengirimkan delegasi  menghadiri Kongres Islam di Mekah, kelompok pesantren tidak diikutsertakan. Karena itu ulama pesantren dipimpin Kiai Wahab tahun 1926 membentuk Komite Hejaz, berangkat sendiri menemui Raja Ibnu Saud untuk menentang rencana sang raja dan meminta kebebasan bermazhab tetap dijaga. Usulan Kiai Wahab diterima, Komite Hejaz itulah yang kemudian menjadi Nahdlatul Ulama. Sejak saat itu terdapat organisasi Islam yang saling berhadapan. Di satu pihak ada organisasi Islam Nusantara yaitu Islam bermadzhab dipelopori NU, di pihak lain ada organisasi Islam tanpa mazhab (Islam modernis) seperti Muhammadiyah, Persis dan sebagainya yang cenderung puritan. Agresifitas kelompok modernis itu menjadikan kisruh terjadi di antara intern umat Islam.

Sementara saat itu serangan dari luar terhadap Islam, baik dari misionaris Belanda maupun dari aliran kejewen, pasundan dan sebagainya sangat keras, sehingga membuat umat Islam gundah. Menghadapi situasi genting semacam itu KH. Wahab Hasbulah dari NU, yang sanagat gandrung persatuan itu bergerak menyatukan kembali umat Islam, maka kemudian dibentuklah Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) atau Majelis Islam Tinggi tahun 1938 yang menjadi ketuanya adalah KH Wahid Hasyim dari NU. Dengan demikian umat Islam untuk sementara bisa dirukunkan kembali.

Kemudian MIAI ini  pada zaman Jepang yakni tahun 1943  berubah  Masyumi yang dipimpin langsung oleh KH Hasyim Asy’ari. Sejak awal sebenarnya NU Selalu memimpin dan berusha menyatukan umat Islam tanpa caci-maki, tanpa diskriminasi baik atas nama kemurnian agama, atau atas nama standar ilmiah. Tetapi setelah kemerdekaan yakni November 1945 Masyumi  dijadikan sebagai partai, ketika menjadi partai ini kepengurusan eksekutif didominasi oleh kelompok modernis, sementara unsur NU hanya ditempatkan di jajaran penasehat.

Dominasi ini berakibat mengubah arah partai, dari partai yang moderat menjadi partai yang ekstrem, maka kemudian pada tahun 1948 sekelompok Masyumi puritan mendirikan DI/TII, yang berusaha mendirikan negara Islam, bahkan tahun 1949 telah melancarkan pemberontakan terhadap pemerintah yang sah. NU berusaha mendamaikan pemberontakan ini melalui K Masykur dan K Muslih untuk menyelamatkan Masyumi dan negara yang baru merdeka. Perbedaan pandangan tentang agama dan negara ini mebuat hubungan kelompok pesantren dengan kelompok modernis dalam Masyumi mengalami ketegangan.

Sember: H. Abdul Mun’im DZ, Runtuhnya Gerakan Subversi di Indonesia, Depok: Langgar Swadaya Nusantara, 2015

[1] Rusli Amran, Sumatera Barat, Plakat Panjang, Penerbit Sinar Harapan, Jakarta 1985, hal., 334. Lihat juga Hamka, Ayahku, Penerbit Wijaya, Jakarta, 1958, hal, 19-72. Suber yang paling provokatif dan kontroversial adalah buku karya RO Parlindungan, Teror Agama Islam Mazhab Hanbali di Batak 1816-1833, Penerbit Tanjung Pengharapan, 1964.

[2] Baca, Ario Helmy, Biografi KH Zainul Arifin, LTN-PBNU, Jakarta, 2009,

[3] Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia, 1900-1942, Penerbit LP3ES, Jakarta, 1988, hal, 44-47.

Related Articles

About author View all posts

admin

admin

Mari berkarya, kirim tulisan ke redaksi@kampusiana.net