Pidato Mark Zuckerberg di Wisuda Harvard University dan Pesan Penting Untuk Anak Muda

1495809248-mark-zucke

Pada tahun 2004, Mark Zuckerberg memutuskan untuk tidak melanjutkan kuliahnya di Harvard University demi membangun media sosial bernama Facebook. Platform yang ia bangun tersebut saat ini telah sukses memiliki sekitar 1,94 miliar pengguna aktif bulanan.

Pada tanggal 25 Mei 2017 kemarin, hampir 12 tahun setelah drop out dari Harvard, Mark Zuckerberg akhirnya bergabung di acara wisuda. Bukan sebagai wisudawan, melainkan sebagai pembicara kehormatan. Mark punya pesan penting untuk anak muda yang ingin dibagikannya saat commencement speech.

Sebelum acara tersebut  Mark sempat bilang kalau dia bakal sharing apa yang ia ketahui dan pelajari mengenai generasi muda dan keadaan tentang dunia. “(Pesan) Ini sangat penting bagi diriku and I’ve been writing it for a while.”

Begini kira-kira terjemahan isi pidato lengkap Mark di depan wisudawan Harvard. Panjang sih, tapi sangat membuka pikiran dan menginspirasi. Luangkan waktu kamu 10 menit untuk membacanya!

***

Presiden Faust, dewan pengawas, pihak fakultas, alumni, teman-teman, para orang tua yang berbangga hati, anggota dewan pengurus, serta wisudawan dari universitas terhebat di dunia.

Aku merasa terhormat bisa berada bersama kalian karena kenyataannya kalian menyelesaikan sesuatu  yang tidak pernah bisa kulakukan (yakni meyelesaikan kuliah). Jika pidato saya ini selesai, maka ini akan menjadi pertama kalinya saya menyelesaikan sesuatu di Harvard. Selamat untuk kelas (wiudawan) 2017!

Sepertinya, saya adalah pembicara yang nggak lazim (untuk momen wisuda). Bukan hanya karena saya drop out (dari Harvard), tapi karena secara teknis kita berada di generasi yang sama. Dengan jarak waktu nggak sampai 10 tahun, kita sama-sama menyusuri taman kampus, mempelajari gagasan yang sama, dan sama-sama nggak konsen sepanjang kelas Ec10. Kita mungkin telah menempuh jalan yang berbeda untuk sampai ke sini, terutama jika Anda datang dari Quad (lokasi asrama beken di Harvard). Tapi hari ini saya ingin berbagi mengenai apa yang telah saya ketahui dan pelajari mengenai generasi kita dan dunia yang sedang kita bangun bersama.

Namun sebelum ke topik tersebut, beberapa hari terakhir ini (saat berada di Harvard) telah membawa banyak kenangan indah.

Berapa banyak dari kalian yang ingat persis apa yang dilakukan saat mendapatkan email pemberitahuan bahwa kalian masuk Harvard? (Ketika itu) Saya sedang bermain Civilization (game) dan saya langsung berlari ke bawah, menemui ayah saya. Dan yang ia lakukan adalah memvideokan saya membuka email tersebut. Itu bisa menjadi video yang sangat menyedihkan. Saya bersumpah bahwa masuk ke Harvard masih merupakan hal yang paling dibanggakan orangtua saya.

Bagaimana dengan pengalaman kuliah pertama kalian di Harvard? (Kelas pertama) Saya adalah Ilmu Komputer 121 dan pengajarnya Harry Lewis yang sangat luar biasa. Saya telat ke kampus, jadi terburu-buru pake t-shirt sehingga nggak sadar kalau kaos yang saya kenakan terbalik, dan bagian merek-nya mencuat di depan. Ketika itu saya nggak tahu kenapa nggak ada yang mau berbicara dengan saya, kecuali satu orang, KX Jin. Dia santai saja dengan semua itu. Kami akhirnya mengerjakan soal (di kelas) bersama, dan sekarang dia menjalankan hal yang besar Facebook. Dan (pengalaman) itu adalah (pelajaran) mengapa kalian semua, wisudawan kelas 2017, harus bersikap baik kepada orang lain!

Tapi, memori terbaik saya mengenai Harvard adalah saat bertemu Priscilla. Ketika itu, saya baru saja meluncurkan situs prank Facemash, dan dewan pengurus kampus mengabarkan ingin “bertemu saya”.

Semua orang mengira saya bakalan dikeluarkan dari kampus. Orang tua saya datang untuk membantu saya berkemas. Teman-teman saya pun mengadakan pesta perpisahan untuk saya.  Nggak disangka, Priscilla berada di pesta tersebut bersama temannya. Kami bertemu ketika antre untuk kamar mandi di Pfoho Belltower, dan tercetus lah kalimat pendekatan gombal paling romantis sepanjang masa. Saya bilang, “Saya akan dikeluarkan (dari kampus) dalam waktu tiga hari ini, jadi kita perlu berkencan secepatnya.”Sebenarnya, siapa pun yang akan lulus bisa menggunakan kalimat rayuan seperti itu, lho!

Saya nggak dikeluarkan pihak kampus. Justru saya yang akhirnya mengeluarkan diri sendiri (drop out).  Priscilla dan saya kemudian mulai berkencan. Tahu nggak sih, bahwa dalam film tersebut (film Social Network yang menceritakan bagaimana Mark menemukan Facebook) ditampilkan seolah-olah Facemash merupakan hal yang sangat penting dalam menciptakan Facebook. Itu tidak benar. Tapi tanpa Facemash aku nggak akan bertemu Priscilla, dan dia adalah orang yang paling penting dalam hidupku. Jadi kita bisa mengatakan bahwa itu (Fashmash) merupakan hal terpenting yang pernah saya buat selama di Harvard.

Kita semua memulai persahabatan seumur hidup di sini, dan sebagian dari kita bahkan memulai keluarga di sini. Itu sebabnya saya sangat berterima kasih untuk tempat ini. Terima kasih, Harvard!

***

Hari ini saya ingin berbicara tentang ‘purpose’ (tujuan). Tapi saya tidak di sini untuk memberi Anda ceramah standar tentang “finding your purpose”. Kita adalah generasi minlenial. Kita berusaha melakukan itu (menemukan tujuan hidup) secara naluriah. Sebagai gantinya, saya di sini untuk memberitahu kalian bahwa menemukan tujuan hidup anda saja tidak lah cukup. Tantangan bagi generasi kita adalah bagaimana menciptakan dunia di mana setiap orang memiliki tujuan.

menemukan tujuan hidup anda saja tidak lah cukup. Tantangan bagi generasi kita adalah bagaimana menciptakan dunia di mana setiap orang memiliki tujuan.

Salah satu cerita favorit saya adalah ketika John F Kennedy mengunjungi pusat antariksa NASA, dia melihat seorang petugas kebersihan membawa sapu. Presiden berjalan mendekat dan bertanya apa yang sedang si petugas kebersihan itu lakukan. Petugas kebersihan itu menjawab, “Pak Presiden, saya membantu mengirim seseorang ke bulan.”

Sebuah tujuan, purpose, adalah sebuah perasaan bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri, bahwa kita dibutuhkan, bahwa kita memiliki sesuatu yang lebih baik di masa depan. Tujuan itulah yang menciptakan kebahagiaan sejati.

Kalian lulus pada saat-saat di mana “tujuan” menjadi sangat sangat penting. Ketika orang tua kita lulus, tujuan seseorang biasanya datang dari pekerjaan, gereja, atau komunitas. Tapi hari ini, teknologi dan perangkat yang serba otomatis menghilangkan banyak pekerjaan. Keanggotaan di komunitas menurun. Banyak orang merasa kesepian dan depresi, serta mencoba untuk mengisi kekosongan.

Selama berpergian ke berbagai tempat, saya pernah duduk bareng dengan anak-anak di tehanan remaja dan anak muda pecandu narkoba, yang mengatakan bahwa hidup mereka sebenarnya bisa sangat berbeda seandainya saja mereka memiliki sesuatu untuk dilakukan, seperti suatu kegiatan sepulang sekolah atau suatu tempat yang bisa didatangi. Saya juga bertemu dengan para pekerja pabrik yang tahu bahwa pekerjaan lama mereka tidak akan kembali dan sedang mencoba menemukan tempat baru. Agar masyarakat tetap maju, generasi kita memiliki tantangan: tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru, tapi juga menbentuk rasa memiliki tujuan.

Agar masyarakat tetap maju, generasi kita memiliki tantangan: tidak hanya menciptakan lapangan kerja baru, tapi juga menbentuk rasa memiliki tujuan.

***

Saya teringat malam saat meluncurkan Facebook dari asrama kecil saya di Kirkland House. Saya pergi ke Noch’s bersama teman saya, KX. Saya ingat pernah mengatakan kepadanya bahwa saya sangat excited bisa menghubungkan komunitas Harvard, dan suatu hari akan ada seseorang akan menghubungkan seluruh dunia.

Masalahnya, saat itu  nggak terlintas di benak saya bahwa “seseorang” tersebut bisa jadi adalah kami. Kami hanya anak kuliahan. Kami tidak tahu apa-apa tentang itu semua. Saat itu, ada banyak perusahaan teknologi besar dengan banyak sumber daya. Saya hanya menduga salah satu dari mereka (perusahaan besar tersebut) akan melakukannya. Tapi gagasan ini sangat jelas bagi kami, bahwa semua orang ingin terhubung satu dengan yang lain. Kami pun terus bergerak maju, hari demi hari.

Tapi hanya memiliki tujuan tidak lah cukup. Kamu juga harus menciptakan rasa memiliki suatu tujuan bagi orang lain. Saya mengetahui hal setelah mendapatkan pelajaran yang cukup “berat”. Begini, harapan saya bukan lah membangun perusahaan, tetapi menciptakan suatu perubahan. Saat banyak orang mulai bergabung dngan kami (Facebook) saya  mengira bahwa itu (membuat perubahan) adalah hal yang juga mereka inginkan. Jadi, saya tidak pernah menjelaskan apa tujuan kami

Beberapa tahun kemudian, beberapa perusahaan besar ingin membeli kami. Saya tidak ingin menjual. Saya ingin melihat apakah kita bisa menghubungkan lebih banyak orang. Kami sedang membangun News Feed pertama, dan saya pikir jika kita bisa meluncurkanya, hal itu bisa mengubah bagaimana pandangan kita tentang dunia.

Hampir semua orang lain (dalam perusahaan) ingin menjual (Facebook). Jika  tidak memiiliki purpose lebih tinggi, maka (penjualan) inilah impian startup yang menjadi kenyataan. Kejadian ini mencerai-beraikan perusahaan kami. Setelah perdebatan sengit, seorang penasihat bisnis mengatakan kepada saya, jika saya tidak setuju untuk menjual, saya akan menyesali keputusan selama sisa hidup saya.

Hubungan (di dalam perusahaan) begitu kacau sehingga dalam waktu sekitar satu atau dua tahun semua orang di tim manajemen telah pergi.

Itu adalah masa terberat saya memimpin Facebook. Saya percaya pada apa yang sedang kita lakukan, tapi saya merasa sendiri. Dan yang lebih buruk lagi, semua itu karena kesalahan saya. Saya bertanya-tanya apakah saya salah, seorang penipu, anak berusia 22 tahun yang tidak tahu bagaimana dunia bekerja?

Sekarang, bertahun-tahun kemudian, saya mengerti bahwa  itulah yang terjadi jika tidak memiliki tujuan yang lebih tinggi, higher purpose. Semua bergantung kepada diri kita sendiri untuk membuat tujuan bersama, supaya bisa terus bergerak maju bersama.

Hari ini, saya ingin membahas tiga cara untuk menciptakan dunia di mana setiap orang punya “rasa memiliki tujuan”: Yaitu dengan mengambil proyek besar yang bermanfaat (dan dikerjakan) secara bersama-sama, dengan mendefinisikan ulang persamaan sehingga setiap orang memiliki kesempatan untuk mengejar tujuan, dan dengan membangun komunitas di seluruh dunia.

***

Pertama, mari kita melakukan proyek/pekerjaan besar dengan manfaat luas.

Generasi kita harus berurusan dengan puluhan juta pekerjaan yang digantikan oleh mesin otomatis seperti mobil dan truk yang bisa berkendara sendiri. Tapi kita punya potensi untuk melakukan lebih banyak hal lain secara bersama.

Setiap generasi memiliki definisi mengenai pekerjaan dan bekerja. Lebih dari 300.000 orang bekerja untuk menempatkan seorang pria di bulan, termasuk si petugas kebersihan itu. Jutaan sukarelawan mengimunisasi anak-anak di seluruh dunia melawan polio. Jutaan orang membangun bendungan Hoover dan proyek-proyek besar lainnya. Proyek ini tidak hanya memberikan tujuan bagi orang-orang yang melakukan pekerjaan tersebut, proyek ini juga memberi rasa bangga kepada seluruh negeri bahwa kita dapat melakukan hal-hal besar.

Sekarang giliran kita untuk melakukan hal-hal besar.

Sekarang giliran kita untuk melakukan hal-hal besar. Saya tahu, kamu saat ini mungkin berpikir: Saya nggak tahu gimana membangun bendungan atau mengumpulkan satu juta orang untuk terlibat dalam suatu hal.

Tapi, saya akan beritahukan sebuah “rahasia”: tidak ada orang yang tahu cara melakukan sesuatu saat mereka memulainya. Sebuah ide nggak langsung muncul secara matang. Ide tersebut menjadi jelas saat kamu mengerjakannya. Kamu  hanya perlu memulainya. You just have to get started!

Jika saya merasa harus memahami segala hal tentang (konsep) menghubungkan semua orang sebelum mengerjakannya, saya tidak akan pernah memulai Facebook.

Apa yang ditampilkan di Film dan budaya pop seringkalo salah. Gagasan tentang “momen eureka” (momen di mana  ide brilian datang) adalah kebohongan yang berbahaya. Itu membuat kita merasa nggak cukup kompeten karena belum memiliki momen tersebut. Ini mencegah orang yang memiliki benih ide bagus untuk memulai. Oh, anda tahu film apa lagi yang menampilkan gambaran salah tentang inovasi? Tidak ada orang yang menulis rumus matematika di kaca (seperti di film Social Network).

Menjadi idealis adalah hal yang baik. Namun bersiaplah untuk disalahpahami. Siapa pun yang mengerjakan hal yang besar akan disebut gila, walaupun kalian benar. Siapa pun yang mengerjakan masalah yang kompleks akan disalahkan karena tidak sepenuhnya memahami tantangannya, meskipun tidak mungkin kita bisa mengetahui segala sesuatu sebelum mengerjakannya. Siapa pun yang mengambil inisiatif akan dikritik karena bergerak terlalu cepat, karena selalu ada seseorang yang ingin memperlambat Anda.

Dalam hidup bemasyarakat , kita sering enggan melakukan hal-hal besar karena kita takut membuat kesalahan .Jika tidak melakukan apa-apa, berarti kita cuek dengan semua kesalahan yang terjadi hari ini. Kenyataannya adalah, apapun yang kita lakukan, kita tetap akan berhadapan dengan suatu masalah di masa depan. Tapi itu tidak boleh mencegah kita untuk memulai.

Apapun yang kita lakukan, kita tetap akan berhadapan dengan suatu masalah di masa depan. Tapi itu tidak boleh mencegah kita untuk memulai.

Jadi tunggu apa lagi? Sudah waktunya untuk generasi kita membuat definisi mengenai pekerjaan bersama ini. Bagamaimana (bila kita) menghentikan perubahan iklim sebelum menghancurkan planet ini dan membuat jutaan orang terlibat dalam pembuatan dan pemasangan tenaga surya? Bagaimana (dengan pekerjaan) menyembuhkan semua penyakit dan meminta sukarelawan untuk melacak data kesehatan yang mereka miliki?

Sekarang ini ini kita menghabiskan (dana) 50 kali lebih banyak untuk merawat orang yang sakit daripada yang kita habiskan untuk mencari pencegahannya, sehingga mereka tidak sakit. Hal semacam ini nggak masuk akal. Kita bisa memperbaikinya. Bagaimana dengan memodernisasi demokrasi sehingga setiap orang bisa voting (pemilihan umum) secara online, dan mempersonalisasi pendidikan sehingga setiap orang bisa belajar?

Semua pencapaian itu berada dalam jangkauan kita. Mari kita lakukan, dengan memberikan peran pada semua orang dalam masyarakat. Mari kita melakukan hal-hal besar, tidak hanya untuk menciptakan kemajuan, tapi untuk menciptakan tujuan.

Jadi melakukan proyek besar dan berdampak luas adalah hal pertama yang bisa kita lakukan untuk menciptakan sebuah dunia di mana setiap orang memiliki tujuan.

***

Yang kedua, mendefinisikan ulang persamaan (keadilan) untuk memberi kesempatan kepada semua orang untuk mengejar tujuan.

Kebanyakan orang tua kita memiliki pekerjaan yang stabil sepanjang karir mereka. Sekarang kita semua berwirausaha, dan itu bagus sekali. Budaya wirausaha adalah bagaimana menciptakan begitu banyak kemajuan. Budaya wirausaha tumbuh subur bila ada kemudahan untuk mencoba banyak gagasan baru.

Facebook bukanlah hal pertama yang saya dirikan. Saya juga membuat game, aplikasi chatting pelajar, tools untuk belajar, dan pemutar musik. Saya nggak sendirian. JK Rowling ditolak 12 kali sebelum menerbitkan Harry Potter. Bahkan Beyonce harus membuat ratusan lagu untuk mendapatkan Halo. The greatest successes come from having the freedom to fail.

The greatest successes come from having the freedom to fail.

Tapi sekarang ini, kita memiliki tingkat ketimpangan (ekonomi) yang berdampak buruk bagi semua pihak.Bila seseorang tidak memiliki kesempatan untuk menjalankan idenya dan mengubahnya menjadi perusahaan yang sangat besar, kita semua yang akan rugi. Saat ini, masyarakat terlalu mengapresiasi kesuksesan, sehingga kita nggak banyak berbuat sesuatu supaya orang lain memiliki kesempatan.

Saat ini, masyarakat terlalu mengapresiasi kesuksesan, sehingga kita nggak banyak berbuat sesuatu supaya orang lain memiliki kesempatan

Perlu diakui, Ada yang salah dengan sistem kita, di mana saya bisa keluar dari sini (Harvard) menghasilkan miliaran dolar dalam 10 tahun, sementara jutaan siswa tidak mampu melunasi pinjaman mereka, apalagi memulai bisnis.

Saya kenal banyak pengusaha, dan saya tidak pernah tahu ada seorang pun di antara pengusaha tersebut yang menyerah untuk memulai bisnis lantaran kemungkinan nggak menghasilkan banyak uang. Di sisi lain, saya juga tahu banyak orang tidak mengejar mimpi karena mereka tidak memiliki “bantal” untuk jatuh jika mereka gagal.

Kita semua tahu bahwa kita nggak akan berhasil hanya dengan memiliki ide bagus atau bekerja keras. Kita juga berhasil lantaran “keberuntungan”. Jika saja saya harus membiayai (menjadi tulang punggung) keluarga ketimbang memiliki waktu (luang) untuk coding (komputer), dan seandainya saya nggak yakin bahwa saya akan baik-baik saja jika Facebook tidak berhasil, saya tidak akan berdiri di sini hari ini. Jika kita jujur, kita semua tahu berapa beruntungnya kita.

Setiap generasi memperluas definisi tentang persamaan. Generasi sebelumnya berjuang untuk memberikan suara dan hak sipil. Mereka memiliki kebijakan New Deal and Great Society. Sekarang saatnya kita mendefinisikan kontrak sosial baru untuk generasi kita. Kita harus memiliki masyarakat yang mengukur kemajuan tidak hanya dengan metrik ekonomi seperti Pendapatan Domestik Bruto, melainkan berapa banyak dari masyarakat yang memiliki peran bermakna. Kita harus mengeksplorasi gagasan seperti pendapatan dasar (minimum) universal untuk memberi setiap orang, sebuah “bantal” (safety net) supaya ia bisa mencoba hal baru.

Kita akan sering berpindah pekerjaan, sehingga kita perlu tempat penitipan anak yang terjangkau agar bisa tetap bekerja. Kita pun butuh layanan asuransi kesehatan yang tidak terkait dengan satu perusahaan. Kita semua akan membuat kesalahan, jadi kita membutuhkan masyarakat yang tidak fokus pada kesalahan atau sibuk nge-judge. Dan karena teknologi terus berubah, kita membutuhkan masyarakat yang lebih berfokus pada pendidikan berkelanjutan sepanjang hidup.

Dan ya, memberi setiap orang kesempatan untuk mengejar tujuan tidak lah gratis. Orang seperti saya harus membayarnya. Kalian pun juga. Itulah sebabnya Priscilla dan saya memulai Inisiatif Chan Zuckerberg dan memberikan kekayaan kami untuk mengusahakan kesempatan yang adil. These are the values of our generation.

Tidak pernah ada pertanyaan ‘Apakah kita akan melakukan ini?’ Satu-satunya pertanyaan adalah ‘Kapan kita akan melakukannya?’

Milenial merupakan salah satu generasi paling banyak beramal dalam sejarah.

Milenial merupakan salah satu generasi paling banyak beramal dalam sejarah. Dalam satu tahun, tiga dari empat milenial di Amerika memberikan sumbangan. Sementara tujuh dari sepuluh milenial mengumpulkan uang untuk kegiatan amal. Tapi ini bukan hanya tentang uang. Anda juga bisa memberi waktu. Kalian hanya cukup memberikan waktu satu atau dua jam dalam seminggu untuk bisa membantu mereka mencapai potensi mereka.

Mungkin kalian berpikir hal itu akan menyita waktumu. Dulu pun saya berpikir demikian. Ketika Priscilla lulus dari Harvard, dia menjadi seorang guru. Dia mengatakan bahwa saya perlu mengajar di kelas. Saya mengeluh, “Tapi ‘kan, saya sibuk.  Saya menjalankan perusahaan ini.”

Tapi dia bersikeras, dan akhirnya saya mengajar tentang kewiraswastaan di klub remaja setempat. Saya mengajarkan mereka pelajaran tentang pengembangan dan pemasaran produk, dan mereka mengajari saya bagaimana rasanya dijadikan target (bully/teror) karena ras mereka, serta bagaimana rasanya memiliki anggota keluarga di penjara. Saya berbagi cerita mengenai waktu saya di sekolah, dan mereka juga berbagi harapan agar suatu hari nanti mereka bisa kuliah.

Selama lima tahun ini, tiap bulannya saya makan malam dengan anak-anak itu. Salah satu dari mereka bahkan menyelenggarakan acara baby shower Priscillia. Dan tahun depan mereka akan kuliah. Menjadi yang pertama di keluarga mereka.

Kita semua bisa meluangkan waktu untuk memberi seseorang bantuan. Mari berikan kesempatan pada setiap orang untuk mencapai tujuan mereka – bukan hanya karena itu hal yang benar untuk dilakukan, tapi karena ketika semakin banyak orang dapat mengubah impian mereka menjadi sesuatu yang hebat, maka (kehidupan) kita semua akan menjadi lebih baik.

Ketika semakin banyak orang dapat mengubah impian mereka menjadi sesuatu yang hebat,maka (kehidupan) kita semua akan menjadi lebih baik.

***

Tujuan tidak hanya muncul dari pekerjaan. Cara ketiga untuk memberikan tujuan bagi setiap orang adalah dengan membangun komunitas. Dan ketika generasi kita mengatakan “semua orang”, maksudnya adalah semua orang di dunia ini.

Coba tunjuk tangan, berapa banyak dari kalian yang berasal dari negara lain? Sekarang, berapa banyak dari kalian yang berteman dengan salah satu dari orang-orang ini?

Kita tumbuh dewasa dengan koneksi satu sama lain. Dalam sebuah survei kepada milenial di seluruh dunia tentang apa yang mendefinisikan identitas mereka, jawaban yang paling populer bukanlah kebangsaan, agama, atau etnisitas. Melainkan “warga dunia”. Itu adalah sesuatu yang besar. Setiap generasi memperluas lingkaran orang yang kita anggap “salah satu dari kita”. Bagi kami, sekarang ‘one of us’ mencakup seluruh dunia.

Kita mendapatkan kesempatan terbesar, kita sekarang mengglobal, kita bisa menjadi generasi yang mengakhiri kemiskinan, yang mengakhiri penyakit. Kami menyadari bahwa tantangan terbesar memerlukan usaha secara global. Tidak ada negara yang dapat melawan perubahan iklim atau mencegah penyakit sendirian. Kini, untuk bisa mencapai kemajuan kita harus berusaha bersama-sama, bukan hanya daerah-daerah atau negara-negara, tapi semua secara global.

Namun kita hidup pada masa yang tidak stabil. Ada orang yang tertinggal oleh globalisasi di seluruh dunia. Sulit untuk peduli dengan orang-orang di tempat lain jika kita belum merasa nyaman dengan kehidupan kita sendiri.

Sulit untuk peduli dengan orang-orang di tempat lain jika kita belum merasa nyaman dengan kehidupan kita sendiri.

Ada tekanan untuk mengubah ke dalam. Ini adalah perjuangan zaman kita. Kekuatan kebebasan, keterbukaan, dan komunitas global melawan kekuatan otoriter dan isolasi. Pasukan arus pengetahuan, perdagangan, dan imigrasi melawan orang-orang yang akan memperlambat itu semua. Ini bukan pertempuran bangsa, ini adalah pertempuran gagasan.

Ada orang-orang di setiap negara (yang menginkan) koneksi global serta orang-orang baik yang menentangketidakadilan.

Semua itu tidak dilakukan di PBB. Ini akan terjadi di tingkat lokal, ketika kita memiliki tujuan dan stabilitas dalam kehidupan kita sendiri, sehingga kita dapat membuka diri dan mulai memperhatikan semua orang. Cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan membangun komunitas lokal.

Kita semua mendapatkan makna dari komunitas kita. Apakah komunitas tersebut adalah komunitas lingkungan rumah, tim olahraga, gereja atau bahkan grup musik a cappella, komunitas memberikan perasaan bahwa kita adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar, bahwa kita tidak sendiri. Mereka memberi kita kekuatan untuk memperluas pandanganan kita.

Itulah mengapa sangat disayangkan bahwa selama berpuluh-puluh tahun, keanggotaan dalam semua jenis komunitas telah banyak menurun. Kini, banyak orang perlu mencari tujuan di tempat lain.

Tapi, saya tahu kita bisa membangun kembali komunitas kita dan memulai sesuatu yang baru karena orang-orang seperti kalian.

Kalian sudah pernah bertemu Agnes Igoye, yang lulus hari ini? Di mana kamu, Agnes? Dia menghabiskan masa kecilnya untuk menjelajahi zona konflik dan human trafficking di Uganda, dan sekarang dia melatih ribuan petugas penegak hukum untuk menjaga masyarakat tetap aman. Saya bertemu dengan Kayla Oakley dan Niha Jain, yang juga lulus hari ini. Silakan berdiri! Kayla dan Niha memulai sebuah nirlaba yang menghubungkan orang-orang yang menderita penyakit kronis dengan komunitas yang bersedia membantu.

Ini adalah cerita saya juga. Seorang siswa di kamar asrama, menghubungkan satu komunitas pada satu waktu, dan mempertahankannya sampai suatu hari kita menghubungkan seluruh dunia. Mengubah dimulai secara lokal. Bahkan perubahan global pun dimulai  dengan (skala) kecil, (dimulai) dengan orang seperti kita.

Dalam generasi sekarang, perjuangan apakah kita semakin terhubung (dengan dunia), apakah kita mencapai kesempatan terbesar, berujung pada kemampuan kalian untuk membangun masyarakat dan menciptakan dunia di mana setiap orang memiliki tujuan tertentu.

***

Wisudawan 2017 , kalian lulus ke dunia yang membutuhkan tujuan. Kini, tergantung pada anda untuk menciptakan tujuan tersebut. Sekarang, Anda mungkin berpikir, dapatkah saya melakukannya?

Ingat ketika saya memberi tahu Anda tentang kelas yang saya ajarkan di klub remaja setempat? Suatu hari, setelah kelas selesai, saya berbicara dengan mereka tentang kuliah, dan salah satu murid terbaik saya mengangkat tangannya dan mengatakan bahwa dia tidak yakin dia bisa pergi karena dia tidak memiliki dokumen (surat-surat penduduk legal). Dia tidak tahu apakah mereka akan mengizinkannya masuk (kuliah).

Tahun lalu, saya mengajaknya sarapan pagi merayakan ulang tahunnya. Saya ingin memberinya hadiah, jadi saya bertanya kepadanya dan dia mulai berbicara tentang siswa yang dia lihat sedang berjuang dan berkata “Anda tahu, saya benar-benar menyukai buku tentang keadilan sosial.”

Saya sangat kagum.

Inilah pria muda yang punya banyak alasan untuk bersikap sinis. Dia tidak tahu apakah negara yang dia sebut sebagai rumah – satu-satunya (tempat) yang dia kenal – akan menolak mimpinya untuk kuliah. Tapi dia tidak merasa kasihan pada dirinya sendiri. Dia bahkan tidak memikirkan dirinya sendiri. Dia memiliki tujuan yang lebih besar, dan dia akan mengajak orang-orang bersamanya. Dia mengatakan sesuatu tentang situasi yang kita hadapi saat ini. Saya bahkan tidak dapat mengatakan namanya karena saya tidak ingin membuat dia berisiko. Tetapi jika seorang senior SMA yang tidak tahu apa yang dimilikinya di masa depan dapat melakukan perannya untuk memajukan dunia, maka kita berhutang pada dunia untuk melakukan bagian kita juga.

Sebelum Anda berjalan keluar gerbang itu untuk yang terakhir kalinya, saat ini kita duduk di Memorial Church. Saya teringat akan sebuah doa, Mi Shebeirach, yang saya ucapkan setiap kali saya menghadapi tantangan, doa yang saya nyanyikan pada anak perempuan saya sebelum tidur, ketika saya memikirkan masa depannya Doanya seperti ini “Semoga sumber kekuatan, yang memberkati orang-orang sebelum kita, membantu kita menemukan keberanian untuk membuat hidup kita menjadi sebuah keberkahan.”

I hope you find the courage to make your life a blessing.

Selamat kepada wisudawan 2017! Semoga kalian berhasil di luar sana.

Sumber Gambar dan Terjemahan: youthmanual.com

Related Articles

About author View all posts

admin

admin

Mari berkarya, kirim tulisan ke redaksi@kampusiana.net