3 Modal Kesuksesan Perempuan

13920618_1358930310801007_8110603592671900700_n

“Habis gelap terbitlah terang,” merupakan sebuah kutipan sangat inspiratif dari seorang pejuang perempuan bernama Kartini. Kita tentu bisa membayangkan bagaimana nasib perempuan khususnya di Indonesia yang terkungkung budaya patriarki. Dianggap sebagai makhluk yang tidak mempunyai kemampuan dan lemah, perempuan ditempatkan sebagai masyarakat kelas dua setelah laki-laki.

Dengan budaya patriarki yang mendarah daging di masyarakat, membuat perempuan sangat sulit mendapatkan hak-hak seperti yang diberikan pada laki-laki, seperti mendapatkan pendidikan, pekerjaan, bahkan menjadi orang berpengaruh di masyarakat. Perempuan hanya mempunyai tiga ruang gerak yaitu sumur, kasur dan dapur. Disamping itu perempuan juga tidak bisa memilih jalan hidupnya sendiri, dia merupakan hak milik ayah atau saudara laki-lakinya dan setelah menikah menjadi hak milik suaminya, sehingga apapun yang diperintahkan mereka maka si perempuan harus melaksanakan tanpa bisa membantah.

Kondisi tersebut bisa kita sebut dengan kegelapan yang memerangkap kaum perempuan, hingga Kartini hadir seperti pelita yang mampu mengeluarkan kaumnya dari kondisi yang tidak menguntungkan tersebut. Hingga kini kita bisa lihat sendiri kaum perempuan tidak lagi hanya berkutat di dapur, kasur dan sumur. Banyak perempuan yang bisa berkarya, mendapatkan pendidikan yang tinggi, bahkan bisa menjadi seorang presiden.

Namun hal tersebut menimbulkan permasalahan baru bagi kaum perempuan. Tidak sedikit kaum perempuan yang salah mengartikan semangat Kartini tersebut. Tentu tidak ada salahnya perempuan mengharapkan kesetaraan seperti laki-laki, seperti dalam hal berkarir misalnya. Sangat disayangkan dalam beberapa kasus perempuan karir didapati keadaan keluarga yang tidak harmonis, dimana ayah dan ibunya sibuk dengan karir mereka sehingga anak menjadi kurang kasih sayang.

Saya jadi teringat dengan sebuah nasihat yang disampaikan seorang dosen senior dari salah satu universitas yang ada di Indonesia. Beliau mengatakan bahwa kunci kesuksesan hidup itu adalah bahagia dan berkah, jadi apapun yang kita lakukan dan ingin kita capai haruslah memenuhi dua kriteria tersebut untuk mencapai taraf sukses.

Lalu beliau pun melanjutkan bahwa bagi seorang perempuan untuk mencapai dua kunci tersebut ada tiga hal pokok yang harus dilakukan. Pertama adalah ia harus menjadi anak yang baik bagi orang tua, kedua menjadi istri yang baik bagi suami, dan yang ketiga adalah menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Bukan berarti seorang perempuan tidak diperbolehkan berkarir, namun karir merupakan salah satu cara untuk meraih bahagia dan sukses tersebut. Namun menurut saya tiga hal tersebut tentu bukan hanya milik perempuan, laki-laki pun harus mempunyai ketiga hal tersebut untuk mendapatkan dua kunci sukses yang beliau katakan.

Jadi dengan perjuangan Kartini tentu kini menjadikan perempuan bisa bebas berkarya di masyarakat. Namun perempuan harus sangat bijak dalam menyikapi hal tersebut, bahwa ada sebuah kewajiban yang jauh lebih penting dari karir apapun yaitu menjadi seorang ibu. Karena perempuan yang sukses merupakan seorang yang mempunyai keluarga yang utuh dan bahagia. (Sarah Hajar Mahmudah).

Related Articles

About author View all posts Author website

Sarah Hajar Mahmudah

Sarah Hajar Mahmudah

International Relation Student-UIN Jakarta
Suka ngoleksi buku dan nulis
kalau lagi pusing jadi suka jalan-jalan