Tantangan Modernisme dalam Peran Ibu sebagai Pendidik Utama Anak

www.majelismuslimah.web.id/

Ibu adalah seorang yang sangat  berjasa, tidak heran jika dalam Islam kita diwajibkan untuk menghormatinya. Bahkan dalam sebuah hadits sampai dijelaskan jika kita diwajibkan menghormati seorang ibu tiga kali dibandingkan ayah. Hal tersebut tidak lain dikarenakan besarnya pengorbanan seorang ibu mulai dari mengandung, melahirkan, menyusui hingga membesarkan anak-anaknya.

Terdapat nasihat yang sangat terkenal dari ulama yang berbunyi “alummu madrasatul ula”, bahwa seorang ibu adalah madrasah/pendidik pertama bagi anak-anaknya. Pendidikan merupakan sebuah hal yang sangat penting yang harus didapatkan anak, dan pendidikan bagi seorang anak itu ternyata tidak dimulai ketika ia masuk ke jenjang pendidikan formal seperti sekolah dasar (SD), melainkan jauh sebelum itu saat berada dalam kandungan.

Peran kedua orangtua baik ibu maupun ayah sama pentingya, namun di sini penulis ingin lebih banyak membahas lebih banyak peran dan tantangan yang dihadapi seorang ibu. Tentu kita sering mendengar kata-kata hikmah yang berbunyi bahwa ‘jika kita mendidik seorang laki-laki maka kita hanya akan mencerdaskan satu orang saja, namun jika kita mendidik seorang perempuan maka kita akan mencerdaskan satu generasi’. Dari kalimat bijak tersebut kita bisa melihat betapa pentingnya peran seorang perempuan atau ibu untuk mencerdaskan anak-anaknya. Seorang ibu yang cerdas tentu bisa menciptakan anak-anak yang cerdas juga.

Hal yang paling utama harus diajarkan kepada seorang anak adalah perihal tauhid, sehingga anak-anak bisa mengenal Tuhannya. Setelah tauhid, orangtua dianjurkan untuk mengajari tata-krama, etika, dan akhlak yang baik pada anak-anaknya. Secara keseluruhan setiap hal yang berkaitan dengan syara’ sebaik-baiknya diajarkan kepada anak sejak kecil (dini). Karena mampu tertancap di dalam hati, seperti halnya mengukir di atas batu. Hingga menjadi identitas yang kuat pada pribadi anak.

Ada sebuah kisah tentang seorang anak yang memberikan ibunya sebuah surat dari sekolah. Betapa sedihnya hati si ibu ketika membaca isi surat tersebut adalah “anak anda terlalu idiot dan bodoh, hingga kami tidak bisa menerimanya di sekolah”. Namun hebatnya si ibu tidak memperlihatkan kesedihan pada anak tersebut dan mengatakan jika sekarang dia akan belajar bersama ibunya. Dengan tekun si ibu mendidik anak tersebut hingga akhirnya dia menjadi orang besar. Dia adalah Thomas Alva Edison, sang penemu bola lampu. Dari kisah tersebut bisa kita dapati jika pendidikan formal di sekolah memang sangat penting, namun jauh lebih penting lagi pendidikan di rumah oleh kedua orangtua khususnya ibu. Pendidikan di rumah itulah yang justru lebih membentuk kepribadian anak dan menunjang kesuksesannya.

Tantangan Modernisme

Dengan pentingnya peran seorang ibu dalam mencerdaskan generasi muda, bukan berarti tidak ada tantangan yang dihadapi. Di era modern yang ditandai dengan globalisasi di mana arus komunikasi dan informasi yang sangat bebas sangat memungkinkan masuknya berbagai ideologi dan pandangan dari luar dengan sangat mudah.

Isu gender sebagai gerakan yang menuntut kesetaraan hak antara perempuan dan laki-laki sangat ramai diperbincangkan khususnya oleh para kaum feminis untuk memperjuangkan hak perempuan untuk bisa berpartisipasi lebih di ranah publik. Dengan adanya paham feminis dan isu gender yang diangkat, membuat kaum perempuan kini lebih dihormati dan diberikan kesempatan untuk bisa berperan aktif dalam berbagai sektor, baik dalam pendidikan, pekerjaan, politik, dan sebagainya.

Sayangnya isu gender tersebut meninggalkan permasalahan baru yang harus dicermati. Kini telah banyak perempuan yang mengisi sektor-sektor publik, mendapatkan pendidikan dan pekerjaan yang setara dengan kaum laki-laki. Namun tidak sedikit akhirnya mengesampingkan urusan keluarga. Tidak sedikit keluarga dengan kondisi ayah dan ibunya bekerja di luar, sehingga tanggung jawab untuk mengurus rumah dan menemani anak-anaknya diserahkan kepada bibi ataupun baby sitter.

Sistem kapitalis yang menguasai dunia kini membuat orientasi penduduk dunia kebanyakan berfokus pada material, sehingga bekerja dan mendapatkan uang merupakan tujuan utama yang dikejar umat manusia. Sehingga tidak sedikit orang kini lebih mementingkan pekerjaan dan karir dibandingkan keluarga. Contohnya bisa kita lihat seperti studi kasus di negara Jepang. Sebagai negara maju yang mempunyai tuntutan hidup yang terus meningkat setiap tahunnya membuat warganya harus bekerja keras untuk bisa memenuhi standar kehidupan negara maju.

Lama-kelamaan tren menikah di Jepang semakin hari semakin mundur ke belakang. Usia 25 tahun dirasa tidak punya apa-apa dan tidak mempunyai kemampuan untuk membina rumah tangga, sehingga sangat sedikit warga Jepang yang ingin menikah. Hal tersebut menyebabkan warga Jepang lebih banyak kalangna lansia dibandingkan dengan anak-anak. Namun dari yang diberitakan  Xinhua yang melansir Kyodo News menyatakan sekitar 34,2% perempuan jomblo Jepang berusia 15-39 menyatakan ingin menjadi ibu rumah tangga. Sedangkan laki-laki pada rentan usia yang sama sebanyak 19,3% menunjukan sikap positif akan hal tersebut.

Modernisme dengan segala problematikanya membuat semakin sedikit perempuan yang peduli terhadap rumah tangga dan pendidikan anak. Bahkan dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Satoshi Kanazawa, seorang peneliti di London School of Economics, menemukan bahwa dorongan wanita untuk memiliki anak semakin berkurang pada setiap 15 poin tambahan IQ mereka. Penelitian tersebut menyatakan jika banyak perempuan berpendidikan minimal sarjana cenderung tidak mempunyai keinginan memiliki anak, seperti yang terjadi pada presenter terkenal Oprah Winfrey, Cameron Diaz, dll.

Perempuan tentu mempunyai hak seperti kaum laki-laki untuk aktif di berbagai sektor publik. Namun tanpa melupakan kodratnya sebagai perempuan. Dalam Islam kita banyak mempunyai sosok perempuan panutan yang bisa menyeimbangkan keduanya. Siti Khadijah merupakan perempuan hebat yang mempunyai bisnis yang sangat maju. Namun beliau juga tidak melupakan posisi dan tanggungjawabnya sebagai seorang istri Rasul dan ibu dari anak-anaknya.

Ada sebuah nasehat bijaksana bagi perempuan. Kunci kesuksesan dalam hidup perempuan ada dua hal yaitu harus bahagia dan berkah, dan untuk mencapai dua hal tersebut kuncinya ada tiga. Pertama adalah menjadi anak yang salehah bagi kedua orangtua, kedua istri yang salehah bagi suami, dan ketiga ibu yang salehah bagi anak-anak. Jadi apapun profesi kita, menjadi seorang ibu adalah tanggung jawab yang tidak bisa ditinggalkan. Karena dari tangan kita lah akan muncul generasi-generasi emas islami.

Namun bukan berarti tanggung jawab mendidik anak hanya dibebankan pada ibu saja, ayah juga mempunyai peran yang sangat penting dalam mendidik anak. Karena anak membutuhkan sosok ibu dan juga ayah dalam pertumbuhan dan perkembangan mereka. Ibu dan ayah walaupun mempunyai segudang kegiatan di luar rumah hendaknya tetap memberikan banyak waktu untuk anak-anak. Untuk mengakhiri tulisan ini saya ingin mengutip kala-kata bijak dari Dinno Patti Djalal, “When spending time with your children, quality time is not enough: quantity time is also important[Wasa]

Related Articles

About author View all posts Author website

Sarah Hajar Mahmudah

Sarah Hajar Mahmudah

International Relation Student-UIN Jakarta
Suka ngoleksi buku dan nulis
kalau lagi pusing jadi suka jalan-jalan