Nikmatnya Berkhalwat, Prioritaskan Allah

put-allah-first

Apa yang menjadi prioritas dalam hidup Anda?

Apakah satu hal yang menjadi poros bagi hal-hal lainnya dalam hidup anda?

إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ ١٤

“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku”. (Q.S. 20 Thaha: 14).

Firman Allah pada surat Thâhâ tersebut senada dengan firman Allah pada surat al-A‘la ayat 14: “Beruntunglah   orang-orang yang mensucikan hatinya”. Makna beruntung pada ayat ini adalah bahwa keuntungan yang diperoleh oleh orang-orang yang mensucikan hatinya adalah dapat mengenal Allah. Bahkan bila kita analisis lebih jauh selain memiliki persamaan makna, kedua ayat tersebut juga memiliki kaitan di mana ayat yang satu berfungsi sebagai penjelas bagi yang lain. Pada  surah Thâhâ Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku ini Allah”. Ayat tersebut mengintruksikan kepada manusia kewajiban untuk mengenal Allah. Pada surah al-A‘la ayat 14 Allah berfirman: “Beruntunglah orang-orang yang mensucikan hatinya”. Pada ayat ini Allah memuji orang-orang yang mensucikan hatinya, sebab hanya orang-orang yang mensucikan hatinyalah yang dapat mengenal Allah dan merekalah yang dinyatakan Allah sebagai orang-orang yang beruntung. Dari   uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa firman Allah pada surat Thâhâ ayat 14, keduanya mengindikasikan bahwa kewajiban pertama bagi manusia adalah terlebih dahulu mensucikan hatinya agar dia dapat mengenal Tuhannya.

Kedua, pada bagian tengah surat Thaha Allah berfirman: “Tiada Tuhan selain Aku”. Bila kita analisis firman Allah di atas, maka dapat kita ketahui bahwa maksud yang terkandung di dalamnya adalah perintah untuk mengingat-Nya, sebab kalimat “Tiada Tuhan selain Allah” bermakna tidak ada yang boleh diingat selain Allah. Firman Allah pada surat al-A‘la ayat 15: “Dan mengingat Tuhannya”.  Dari uraian singkat di atas dapat disimpulkan bahwa kewajiban yang kedua bagi manusia adalah mengingat Tuhannya.

Khalwat bukanlah kegiatan biasa, ini adalah kegiatan yang sarat makna, sebuah proses untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Khalwat juga disebut uzlah atau mengasingkan diri dari keramaian untuk membersihkan hati sehingga dengan sempurna menerima petunjuk dari Allah SWT. Untuk bisa melaksanakan khalwat syarat utama adalah harus dengan bimbingan seorang guru yang ahli sehigga tidak tersesat di belantara alam tanpa batas.

Sesungguhnya ibadah tidaklah lestari bila masih berkumpul dengan orang banyak, kemesraan akan didapat dalam kesendirian dan hanya berdua-duaan dengan kekasih tanpa adanya yang lain, oleh karenanya, tidak ada seorang wali atau nabi pun yang tidak mengalami kesendirian baik sebelum ataupun sesudahnya.

Imam Abul Qosim al-Junaid al-Bagdad (semoga Allah meridhainya) berkata : “Barang siapa mengingingkan agamanya sehat dan raga serta jiwanya tentram, lebih baik ia memisahkan diri dari orang banyak. Sesungguhnya zaman yang penuh ketakutan, dan orang yang bijak adalah yang memilih kesendiriannya“. khalwat diharapkan dapat membentuk manusia-manusia yang taat dan tunduk kepada Allah, yaitu mereka mampu bersabar ketika Allah uji, ikhlas dalam penyembahan kepada Allah, bersyukur ketika diberi nikmat dan ridha atas segala ketentuan serta keputusan-keputusan Allah.

Ada kalanya kita mengalami kendala ketika lagi fokus terhadap sesuatu, dan di saat-saat seperti itu dibutuhkan kemampuan kita untuk menetapkan sebuah prioritas, di mana kita harus memilih dan memutuskan sesuatu, dan di saat yang sama harus mengorbankan sesuatu pula. Kadang kita terlalu fokus untuk memaksimalkan sesuatu, tanpa sadar prioritas kita terlantarkan, there are times when you have to choose, so try to choose wisely.” Bagi saya itu merupakan sebuah pelajaran berharga, karena memang ada kalanya kita berhadapan dengan kondisi yang sama dan harus menetapkan sebuah prioritas utama dengan mengorbankan hal-hal lainnya.

So many things to do, so little time. Tidakkah kita sering merasa demikian? Begitu sibuknya sehingga kita berharap bisa memiliki waktu lebih dari 24 jam sehari. Kita harus belajar, bekerja, ada banyak jadwal rapat, di sisi lain kita harus memperhatikan keluarga, dan tentu saja meluangkan waktu bersama Allah. Situasi seperti ini akan membuat masing-masing orang menetapkan skala prioritasnya, yang biasanya berbeda antara satu dengan lainnya. Ada yang memprioritaskan pekerjaan dan mengorbankan hal lain, ada yang memprioritaskan hobi dan kesenangan, ada yang lebih memilih untuk tidur dan bermalas-malasan dan sebagainya. Ironisnya, bagi banyak orang semua itu mendapat prioritas lebih tinggi dibanding waktu bersama Allah. Waktu untuk beribadah kepada Allah dengan mudah dikorbankan demi bekerja, atau bahkan dengan alasan yang sangat sederhana seperti kondisi kurang enak badan, cuaca dingin dan sebagainya. Padahal Allah tidak mengajarkan seperti itu.

Apa yang menempati posisi teratas dalam prioritas kita saat ini? Apakah Allah, atau hal-hal lain seperti kedudukan, kesenangan, hobi, karir, dan sebagainya? Apa yang paling menyita waktu, tenaga dan pikiran kita hari ini, itulah yang sebenarnya menempati prioritas utama kita. Sudahkah kita menempatkan Allah pada posisi pertama, atau kita malah mengorbankan waktu untuk Allah demi segala pekerjaan dan lain-lain? Mari kita mengatur ulang skala prioritas kita dan menempatkan Allah pada posisi yang benar. Pastikan bahwa mencari Allah dan kebenarannya sudah menjadi fokus utama dalam hidup kita.

Ketika menyendiri bersama Allah, kita tidak perlu menjadi seorang pujangga dengan kalimat-kalimat yang indah dan hujjah-hujjah yang tak terbantahkan ketika kita meminta suatu hal, kita tidak akan ditimpa kesalahan-kesalahan meskipun air mata kita tumpah dan perkataan kita meragukan, kita bisa saja mengakui  kesalahan tanpa merasa takut akan lelahnya pengakuan, ketika menyendiri bersama Allah manakala kita akhiri kesendirian kita bersama Allah yang sebentar itu, maka keinginan kita terletak diantara kedua tangan-Nya dan senantiasa terus berjalan. Allah memelihara kita sesuai kondisi dan kecenderungan kita, sedang kita tidak merasakan. Mari kita kembali kepada orang-orang yang senang menyendiri dengan Rabbnya.

Related Articles

About author View all posts

Ida Nurjannah

Ida Nurjannah

Mahasiswi Jurusan Tarjamah UIN Jakarta | PMII Komfaka