Kita, Kami Aja Kali

inilah-sejarah-singkat-dan-makna-hari-sumpah-pemuda-28-oktober-2015

Dua hari yang lalu, bangsa ini tengah tenggelam ke dalam euforia Sumpah Pemuda. Sumpah yang diikrarkan delapan puluh delapan tahun lalu  itu menjadi titik balik semangat para pemuda untuk merebut kemerdekaan bangsa. Sumpah yang  selalu mengukuhkan serta mengikat hati para pemuda bangsa. Meskipun hanya melihat lewat buku sejarah, euforia semangat dan kesyahduan Sumpah Pemuda akan selalu dirasakan bangsa Indonesia –terutama para pemuda di tiap tahunnya.

Jika diperhatikan, ada sedikitit analisis menarik perihal Sumpah Pemuda, para pemuda yang bersumpah saat itu menggunakan kata “kami” bukan “kita” untuk kata pembuka sekaligus menjadi subyek di tiap-tiap poin sumpah. Kami Putra-Putri Indonesia bertumpah darah yang satu, tumpah darah Indonesia, Kami Putra-Putri Indonesia berbangsa yang satu, bangsa Indonesia, Kami Putra-Putri Indonesia berbahasa yang satu, bahasa Indonesia. Seandainya, sumpah pemuda terlambat diikrarkan delapan puluh delapan tahun kemudian, kemungkinan besar yang terucap bukan lagi: “Kami Putra-Putri Indonesia.” Sumpah itu akan menjadi “Kita Putra-Putri Indonesia”. Mohon maklum, dewasa kini pemuda Indonesia tak lagi mengenal kata “kami”. Mereka hanya mengenal kata “kita” dan melupakan kata “kami”.

Dengarkan mereka berbicara di film, disekitar kita, atau saat diwawancarai di salah satu program gosip misalnya. “Kita putus sudah lama,” kata seorang selebriti kepada wartawan infotaiment saat ditanyakan hubungan percintaannya. Ia memakai kata “kita”  tatkala berbicara dengan wartawan infortaiment tersebut. Meskipun dapat diyakini jika wartawan tersebut tidak pernah masuk ke dalam hubungan percintaan sang selebriti.  Kebiasaan ini ternyata tak hanya menjangkiti anak muda, tapi juga merambah ke usia dewasa. Contoh, ketika terjadi pembunuhan,  seorang penyelidik akan  berkata kepada para wartawan : “Kita sudah menginterogasi tersangka”. Bisa dipastikan para wartawan yang diajak bicara tidak pernah ikut menginterogasi tersangka. Yang ia maksud dengan kita adalah dia dan rekan-rekannya sesama penyidik.

Hal sepele yang yang tidak bisa dibiarkan, karena konsep kita dan kami adalah kekayaan bahasa Indonesia yang tidak dimiliki bahasa lain. Bahasa dunia seperti Inggris, Prancis, dan Arab, yang selama ini diakui memiliki kekayaan kata, pun tidak memiliki keunikan “kita” dan “kami”. “We” dalam bahasa Inggris berarti “kita” sekaligus “kami”. Melihat kecendrungan ini, bukan tak mungkin sekian tahun lagi kekayaan bahasa yang unik itu akan hilang.

Masalah “kita dan “kami” ini bisa dilihat secara sederhana, yaitu bagaimana memasukkan dan mengeluarkan orang yang diajak berbicara dalam kata ganti orang pertama jamak. Kata ganti “kita” memiliki sifat eksklusif, dalam artian orang yang diajak berbicara terlibat dalam aktivitas atau keadaan yang sedang dituturkan. Sedangkan “kami” memiliki sifat inklusif, yang menyatakan jika lawan bicara tidak termasuk atau tidak terlibat dalam aktivitas maupun keadaan yang dituturkan.

Inilah mengapa para pemuda yang bersumpah pada tahun 1928 memakai kata kami. Mereka mengeluarkan semua pihak yang tidak setuju kepada cita-cita Indonesia dari sumpah itu. Ikrar mereka juga sebuah tantangan kepada pemerintah Hindia Belanda, bukan sekedar pernyataan internal diantara mereka.

 

Referensi : Tulisan Qaris Tajudin (Tempo).

 

Related Articles

About author View all posts

Zaenal Arifin

Zaenal Arifin

Mahasiswa Tarjamah UIN Jakarta, Hobi nulis dan desain