UIN Jakarta Mati? Menyoal Gagasan di Ruang Publik

clyonqhvaaepra2

Oleh: Villarian*

Belum lama ini di FISIP UIN Jakarta menggelar pertandingan ideologi antara Islam Progresif melawan Islam Liberal. Pertandingan tersebut diinisiasi oleh sekelompok mahasiswa progresif dari Forum Mahasiswa Kiri (Formaki) yang kebetulan juga tergabung di dalam Himpunan Mahasiswa Ilmu Politik Divisi Litbang, tema yang diangkat ialah ekonomi politik, di mana Al-Fayad mewakili Islam Progresif dan Ulil Absar Abdala dari pihak Islam Liberal, diskusi ini mempertanyakan kembali sikap dan pandangan Islam tentang konsep ekonomi politik yang jauh dari kata jelas—di mana Islam sebagai agama sempurna harus memposisikan ekonomi syariah di tengah sekema ekonomi politik neo-liberalisme. Singkat cerita di tengah dialek dua pembicara muncul suara intrupsi dari seorang mahasiswa yang mengaku sebagai eksponen Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), menggaungkan Khilafah Islamiyah dan menolak dua pandangan dari Islam kanan-kiri. Ia berpendapat bahwa Islam memiliki solusi sempurna, baku dan dapat diterapkan sebagai sebuah sistem di negara ini. Acara ini juga dihadiri oleh redaktur indoprogress.com, fungsionalis Partai Rakyat Pekerja dan beberapa mahasiswa dari Forum Sastra Rusa Besi.

***

Tak berselang lama seolah perdebatan itu redam dari permukaan dan tembok-tebok UIN Jakarta, tak terlihat adanya respon yang berarti, mahasiswa hilir mudik dengan isunya masing-masing yang melulu jebakan komoditas pasar media, timeline di media sosial berserakan segudang fenomena pergerakan di mana-mana, tapi Ciputat masih begitu kelabu. Di sana-sini tak terlihat usaha yang nyata untuk membangun wacana di ruang publik, bagai pasar malam UIN Jakarta masih ramai oleh pedagang slogan, pelacur isu dan cuwitan ekstensial. Di berbagai fakultas diwarnai oleh banyak acara seminar yang mengusung tema-tema kelas menengah. Krisis konsolidasi gagasan menjadi titik persoalan, struktur sosial dan politik di UIN Jakarta terlalu deterministik sehingga agen atau aktor sulit melawan dominasi struktur.

Sependapat dengan apa yang dikemukakan oleh Pierre Bourdieu dalam teori struturalisme genetik adanya hubungan timbal balik antara agen dan struktur. Struktur sendiri merupakan aturan-aturan yang terbentuk dan ada dalam suatu lapangan yang mempengaruhi pembentukan habitus seorang agen/aktor. Bourdieu membagi struktur terdiri atas dua bentuk yaitu struktur objektif dan struktur buatan. Dalam teori logika praktis Bourdieu, struktur mampu mempengaruhi pembentukan habitus, tetapi struktur  juga dapat di pengaruhi oleh habitus. Jika kita berangkat dari premis teori di atas, dapat kita lacak, problem kelas menengah ngehe di UIN Jakarta yang tak kunjung bosan dengan struktur selera pasar.

Pertama struktur objektif yang berada di luar dari lingkungan sosial UIN Jakarta memiliki signifikansi terhadap perilaku intelektual habitus (mahasiswa), kedua struktur buatan yang ada di lingkungan UIN Jakarta itu sendiri yang menginternalisasi agen/habitus. Kita tahu bahwa organisasi ekstra kampus bertanggung jawab sekaligus mampu mengokoptasi struktur sosial agar dapat berhadapan dengan dominasi simbolik kaum pemodal (dalam pengertian Bourdieu), jadi diangkatnya isu ekonomi politik oleh kawan-kawan FISIP diharapkan mampu mempengaruhi agen di tengah cerai-berainya ekses ekonomi politik yang seolah menjadi isu yang berdiri secara mandiri.

Setidaknya apa yang diangkat oleh kawan-kawan HIMAPOL lewat diskusi mengenai ekonomi politik ialah bentuk urgensi perdebatan ideologis mengenai pokok persoalan yang nyata, kita harus hadapi hari ini soal kemiskinan, ketimpangan, eksploitasi alam, buruh, dan persoalan gaya hidup mahasiswa yang tak berpihak pada persoalan tersebut. Islam sebagai agama kolektif di UIN Jakarta musti hadir di tengah persoalan dan menampakan posturnya, jangan hanya bersorai bicara toleransi dan pluralisme, padahal apabila kita menengok ke tempat yang tidak jauh dari Tangerang Selatan masih ada penggusuran, PHK dan berbagai macam penyingkiran rakyat kelas bawah lainya. Dan di saat itu juga mahasiswa UIN Jakarta absen dari peredaran. Kita musti sadar dan menyadarkan bahwa dalam lingkungan sosial terdapat struktur, modal, dan dominasi, sebagaimana skema ekonomi politik neo-liberal yag melokalisasi kelas ke dalam wilayah tata kelola kota sehingga jelas terlihat kebijakan politik semakin krisis kedaulatan. Sebagai contoh penggusuran pasar ikan dan reklamasi teluk Jakarta Utara ialah contoh kecil yang tak terbantahkan di mana para komprador bermain mata dengan para pejabat legislatif (Sanusi dan direktur AP land contohnya) demi memuluskan kepentingan modal. Mahasiswa UIN Jakarta masih berjalan pincang dan tersapu oleh kebutuhan pasar. Pojok-pojok diskusi, kelompok kajian, dan organisasi mahasiswa masih melempar gagasan secara sporadis dan berserakan, belum ada titik dialektis yang jelas dan mampu membuka jalan menuju konsolidasi gagasan!!

Ayo buka wacana, jangan diam mari bergerak!!

*Mahasiswa FISIP UIN Jakarta

 

Related Articles

About author View all posts

admin

admin

Mari berkarya, kirim tulisan ke redaksi@kampusiana.net