Menimbang Agus, Anies, dan Ahok

92710_agus_anies_ahok_via_suratkabar_id_777x325
Oleh: Suhardi El-Behrouzy*
Pilkada serentak masih beberapa bulan lagi. Namun suhu politik semakin naik, terutama di Pilkada DKI Jakarta. Hal ini ditandai dengan drama injury time dalam penentuan calon yang diusung oleh partai politik di luar partai pendukung Ahok-Djarot.

Sebelumnya, partai politik yang tergabung dalam Koalisi Kekeluargaan sepakat mengusung satu calon melawan petahana. Namun, kesepakatan itu tidak menjadi mufakat bulat dan akhirnya melahirkan dua poros.

Yakni poros Cikeas yang dimotori Demokrat, PPP, PKB dan PAN mengusung Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dan poros Kertanegara yang digawangi Gerindra-PKS mengajukan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Dengan demikian, terjawab sudah teka-teki siapa yang akan bertarung dalam gelanggang besar Pilkada DKI. Menariknya, pertarungan ini akan diikuti oleh “triple A”. Yakni, Agus, Anies, dan Ahok. Walaupun yang terakhir nama sebenarnya adalah Basuki Tjahaja Purnama, tetapi nama populernya di masyarakat adalah Ahok.

Kehadiran ketiga calon ini sungguh membuat dinamika politik DKI dan  kian memantik semua pihak untuk menelisik dan menakar peluang serta kemampuan ketiga calon. Untuk itu, saya mencoba menimbang peluang Agus, Anies, dan Ahok di Pilkada DKI.

“Kehadiran ketiga calon ini sungguh membuat dinamika politik DKI dan  kian memantik semua pihak untuk menelisik dan menakar peluang serta kemampuan ketiga calon”

Agus

Kemunculan nama Agus dalam bursa calon Gubernur DKI di luar prediksi publik maupun pakar politik tanah air. Mengingat nama Agus tidak ada dalam radar politik calon yang akan bersaing memperebutkan kursi DKI 1.

Sebelumnya nama Yusril dan Sandiaga Uno berada dalam komunikasi politik poros Cikeas, tetapi akhirnya terpental dari pusaran calon. Agus sendiri adalah putera SBY yang ketika diputuskan berpasangan dengan Sylvia masih perwira aktif berpangkat mayor dan bertugas sebagai Danyonif Mekanis 203/Arya Kemuning.

Walaupun belum berpengalaman di bidang politik, tetapi latar belakang pendidikan dan pengalamannya di TNI patut diperhitungkan. Apalagi Agus tercatat lulusan terbaik dan memperoleh medali Adhi Makayasa.

Sebagai nama yang tidak disangka-sangka, sejatinya Agus memiliki kans yang cukup terbuka untuk memenangkan Pilkada DKI. Sebab SBY tentu sudah berhitung matang terhadap keputusan membolehkan anaknya berperang di ranah politik. Sebuah ranah yang berbeda dengan medan perang di TNI.

Kejelian SBY ini tergambar dari apa yang diungkapkan oleh Marzuki Ali bahwa, SBY selalu mempergunakan survei yang kredibel terkait dengan isu politik. Apalagi Agus dilihat sebagai tokoh baru yang belum tercemar oleh polusi politik sehingga kehadirannya akan menarik minat masyarakat untuk lebih mengenalnya lebih jauh, terlebih lagi wajah kepemimpinan dan nama besar ayahnya cukup menopang elektabilitasnya.

Pekerjaan beratnya adalah bagaimana meyakinkan masyarakat bahwa dia adalah tokoh yang tepat untuk memimpin Jakarta ke depan. Tentu persoalan ini membutuhkan waktu, tetapi beberapa bulan ke depan dirasa cukup untuk mendongkrak popularitas Agus, apalagi ayahnya ahli strategi dan terkenal suhunya pencitraan di Indonesia. Kemudian didukung oleh birokrat yang berpengalaman yakni Sylviana Murni yang notabene adalah anak Betawi asli.

Anies

Berbeda dengan Agus, nama Anies sudah mulai banyak dikenal publik. Sebagai akademisi muda yang namanya kian terkenal ketika menjabat Rektor Universitas Paramadina. Bahkan nama Anies tercatat di majalah Foreign Policy sebagai satu-satunya orang Indonesia yang masuk dalam daftar “100 Tokoh Intelektual Dunia”.

Namanya semakin berkibar ketika pemerintahan Jokowi-JK mendaulatnya sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Tidak bertahan lama, Anies kemudian dicopot dari jabatan menteri.

Namun garis nasib tidak ada yang menyangka, tiba-tiba Anies ditunjuk Gerinda-PKS sebagai Cagub DKI. Padahal sebelumnya sosok Anies lebih banyak berseberang dengan Prabowo.

Kelebihan Anies terlihat dari visinya dalam membangun Jakarta serta kemampuan berkomunikasi dengan anak muda secara komunikatif dan artikulatif serta mudah dekat dengan semua orang. Ini terlihat dari ungkapan pertamanya ketika diminta oleh Mardanis Ali Sera untuk memberi sambutan dalam deklarasi pencalonan di rumah Prabowo.

Ia mengatakan,”Di tanah ini jutaan orang berikhtiar dan berusaha. Selain itu, kita di sini untuk melindungi dan memcerdaskan rakyat. Jakarta bukan hanya kota, tapi Jakarta adalah tempat tinggal kita”. Kata-kata ini memiliki makna dan pesan yang sangat mendalam bagi warga DKI, sekaligus mengkritik alur pembangunan yang dilakukan oleh petahana.

Peluang memenangkan kursi DKI juga amat besar, apalagi berpasangan dengan anak muda yang energik dan paham dalam bidang ekonomi, yakni Sandiaga Uno.

Ahok

Nama yang satu ini tak perlu diperkenalkan lagi. Ketegasan dan kepercayaan dirinya dalam memimpin dipandang sebagian orang sebagai pemimpin yang dibutuhkan rakyat Jakarta. Sebagai petahana, Ahok sangat diuntungkan, apalagi didukung oleh partai besar sekelas PDI-P dan Golkar.

Apalagi menurut survei nama Ahok masih bertengger di puncak, kendati cenderung menurun akhir-akhir ini. Seperti yang terungkap dalam hasil survei LSI, bahwa Maret silam, elektabilitas Ahok 59,3 persen dan pada Oktober turun menjadi 31,4 persen.

Pengalaman politiknya sudah tidak diragukan lagi, walaupun kerap berpindah-pindah partai. Namun kepiawaiannya dalam membangun jaringan dengan memanfaatkan generasi muda sangat hebat.

Terbukti dengan Teman Ahok berhasil mengumpulkan 1 juta lebih dukungan KTP. Ini menandakan bahwa kepemimpinannya juga memiliki pengaruh, terutama di level anak muda. Hanya saja, belakangan gaya kepemimpinannya yang tidak santun, akan menjadi batu sandungan. Dan ini harus diperbaiki Ahok, jika ingin menarik simpati lebih banyak rakyat.

Menimbang ketiga calon sesungguhnya memiliki peluang untuk memenangkan pertarungan. Walaupun petahana di atas angin, waktu beberapa bulan ke depan cukup untuk membalikkan keadaan.

Semuanya akan berkelindan dengan entitas-entitas di belakang calon. Seperti basis pengusaha, kelas menengah, anak muda, basis ideologi, dan lain sebagainya. Semuanya kembali kepada strategi yang akan dijalankan ketiga kubu dalam menarik simpati publik.

Mengkapitalisasi semua potensi modal menjadi amunisi yang mumpuni yang siap ditembakkan pada saat yang tepat. Untuk itu, hari-hari ke depan adalah masa yang berarti bagi calon untuk menunjukkan dan meyakinkan rakyat, bahwa mereka adalah nakhoda yang pantas untuk membawa bahtera Jakarta lima tahun mendatang.

Dalam politik tak ada yang tak mungkin. Sebab, politik itu sendiri adalah seni kemungkinan (the art of possibilities). Seni bagaimana mewujudkan yang tidak mungkin menjadi mungkin.

Sekarang misi dan strategi meyakinkan rakyat itu sedang dijalankan. Akankah waktu beberapa bulan yang tersisa bisa dimanfaatkan oleh ketiga calon dalam meningkatkan elektabilitasnya?

“Akankah waktu beberapa bulan yang tersisa bisa dimanfaatkan oleh ketiga calon dalam meningkatkan elektabilitasnya?”

Mengubah berat timbangan, yang semula ringan kian bertambah, atau malah sebaliknya, yang berat mendadak ringan, akibat naiknya kekuatan lawan politik? Semuanya akan dijawab oleh waktu.

Satu hal yang harus diingat, bahwa politik itu dinamis, pergerakan grafiknya tidak bisa dipastikan dan siapa yang akan memenangkan pertarungan akbar Pilkada DKI nanti.

Namun saya berkeyakinan, bahwa akan ada kejutan besar dalam Pilkada DKI. Sekarang mari kita timbang-timbang, siapakah yang akan duduk di kursi DKI 1, apakah sang putera mahkota, Agus, atau sang intelektual, Anies, atau sang petahana, Ahok?

Wallahu’alam [selasar]

*Alumnus Pascasarjana Universitas Kebangsaan Malaysia (UKM)

Related Articles

About author View all posts

admin

admin

Mari berkarya, kirim tulisan ke redaksi@kampusiana.net