Tidak Enak Menolak, Baik kah?

92264_menolak_via_www_dtelepathy_com_777x325
Oleh: Sumayah Soimah*

Setiap kita pasti pernah mengalami kondisi ketika kita tidak nyaman untuk menolak, seperti ketika dimintai bantuan atas sesuatu yang sebenarnya kita tidak mampu atau tidak suka, tetapi karena kita ‘gak enakan’, tidak nyaman untuk  menolak  permintaan bantuan tersebut sehingga kita memaksakan diri untuk mengiyakan dan ‘mengorbankan’ diri kita.

Contoh yang sangat dekat dengan mahasiswa misalnya, ketika ada sebuah kepanitiaan sebuah acara di tingkat fakultas atau tingkat kampus, teman kita menjadi salah satu panitianya. Kepanitiaan tersebut kekurangan orang dan tidak menemukan orang yang bersedia menjadi panitia di salah satu divisi kepanitiaan tersebut.

Teman kitapun meminta tolong kita untuk bersedia ikut serta dalam kepanitiaan tersebut. Sayangnya, divisi yang ditawarkan bukanlah divisi yang kita suka dan tidak sesuai dengan kompetensi kita. Namun karena kita tidak nyaman untuk menolak permintaan tolongnya, kita memutuskan untuk ‘mengorbankan perasaan kita’ dan menerima tawarannya.

Ternyata, setelah menjalaninya, kita tidak merasa enjoy, mununjukkan kinerja yang tidak baik, dan justru merasa tertekan dengan tugas yang kita jalani.

Dalam psikologi, sikap seperti itu disebut nonassertive behavior atau tingkah laku pasif. Dalam setiap situasi, seseorang dihadapkan dengan tiga pilihan bagaimana cara dia menghadapi hal tersebut. Pilihan cara bersikap tersebut adalah asertif, agresif, dan pasif.

Ilustrasi di atas menunjukkan perilaku pasif, yang dikarakteristikkan dengan tidak menunjukkan perasaan pribadi dan membiarkan orang lain melanggar haknya. Orang yang berperilaku pasif biasanya tidak jujur, menahan perasaannya, dan menyangkal diri sendiri.

“Orang yang berperilaku pasif biasanya tidak jujur, menahan perasaannya, dan menyangkal diri sendiri”

Mereka membiarkan orang lain ‘menyetir’ dirinya, tetapi kemudian merasa kecewa pada dirinya dan menyalahkan diri sendiri. Orang-orang seringkali berperilaku pasif untuk menghindari situasi yang tidak mengenakkan dan konflik (oavi.tnj.edu).

Sedangkan agresif adalah menunjukkan perasaan, pikiran, dan kebutuhannya, tetapi dengan tidak memperhatikan hak orang lain. Orang yang agresif membela hak-hak mereka, tetapi mengabaikan hak orang lain. Mereka mungkin mendominasi dan menghina orang lain. Perilaku berikutnya adalah ekspresif, yaitu menunjukkan perasaannya, tetapi defensif dan bermusuhan (oavi.tnj.edu, tidak ada tahun).

Di antara tingkah laku pasif dan agresif ada tingkah laku asertif. Tingkah laku asertif adalah menunjukkan perasaan, kebutuhan, dan ide dengan cara yang baik dan tidak mencelakakan hak orang lain. Orang yang berperilaku asertif, biasanya jujur dan terus terang.

Bedanya dengan agresif, orang yang asertif berusaha menyampaikan perasaan atau idenya dengan cara-cara yang baik dan tidak melukai orang lain (oavi.tnj.edu).

Penelitian yang dilakukan Daniel L. Segal (2005) menunjukkan terdapat hubungan antara asertif dengan tingkat depresi yaitu semakin rendah tingkat asertif, semakin tinggi tingkat depresi. Namun Daniel L. Segal tidak menjelaskan mekanisme yang ada di baliknya.

Pada penelitian lainnya (Keenan dll, 2010) diungkapkan bahwa rendahnya asertif akan berdampak pada tingginya depresi pada remaja perempuan ketika remaja tersebut dihadapkan pada situasi yang memerlukan perilaku asertif, misalnya rekan yang suka menyakiti teman sebaya.

Anak yang tidak asertif dan mengalami teman yang suka menyakiti menunjukkan gelaja depresi dua kali lipat lebih banyak dibanding anak yang asertif saja atau mengalami teman yang menyakitinya saja.

Ini dapat dijelaskan dengan model meditasi, yaitu kurangnya ketegasan dapat menyebabkan anak dapat menjadi target korban dari teman yang suka menyakiti orang lain. Anak yang tidak asertif mungkin juga mengalami viktimisasi yang lebih parah.

Mencoba bersikap asertif adalah cara untuk membuat hidup lebih mudah dengan tidak banyak menahan apa yang kita rasakan. Selain itu, bersikap asertif sejatinya bukan hanya untuk kebaikan diri kita, tetapi juga kebaikan teman kita. Teman kita tidak akan tahu apa yang kita rasakan bila kita tidak mengatakannya.

“Mencoba bersikap asertif adalah cara untuk membuat hidup lebih mudah dengan tidak banyak menahan apa yang kita rasakan”

Dan, bila kasusnya seperti pada ilustrasi di awal, kita justru menyusahkan teman kita dengan tidak berkata sejujurnya, memaksakan diri dan menunjukkan kinerja yang tidak baik, bisa jadi menimbulkan masalah di waktu ke depan.

Referensi
Keenan, Kate, et al. “Lack of assertion, peer victimization, and risk for depression in girls: Testing a diathesis–stress model”Journal of Adolescent Health 47.5 (2010): 526-528.
Segal, Daniel L. “Relationships of assertiveness, depression, and social support among older nursing home residents”. Behavior modification 29.4 (2005): 689-695.
*Mahasiswa Psikologi UI [https://www.selasar.com/gaya-hidup/tidak-enak-menolak-baik-kah]

Related Articles

About author View all posts

admin

admin

Mari berkarya, kirim tulisan ke redaksi@kampusiana.net