Benarkah Ahok Menistakan Agama? Sebuah Tinjauan Linguistik

92586_ahok_via_www_carasumber_com_777x325
Oleh: Arum Perwitasari
(Mahasiswi Doktoral di Leiden University Centre for Linguistics)
4456_58006c40-7aa0-4d83-9b47-7d8e67171462

Beberapa hari belakangan, pidato salah satu calon Gubernur Jakarta tahun 2016 ini cukup menjadi polemik di kalangan masyarakat awam. Beberapa pengamat sosial, politik, maupun hukum memberikan pendapatnya terkait tentang anggapan bahwa Ahok menggunakan kutipan ayat Al Quran di dalam kampanye.

Bahkan pernyataan dalam kampanyenya ini kemudian menjadi ajang adu kekuatan antara dua kubu: kubu pro dan kubu kontra sang calon Gubernur.

Potongan transkripsi pidato Ahok yang ramai diperbincangkan adalah sebagai berikut:

Dibohongin pakai surat Al Maidah 51 macam-macam.

Kubu pro Ahok percaya bahwa Ahok tidak menistakan agama, karena yang menjadi fokus dari ucapan beliau adalah orang yang menggunakan surat Al Maidah ayat 51 untuk berbohong.

Sedangkan kubu kontra percaya bahwa Ahok telah menistakan agama karena menganggap surat Al Maidah 51 adalah kebohongan.

Sebagai seorang peneliti bahasa, saya tertarik meninjau lebih jauh fenomena ini dari sisi penggunaan bahasa. Tulisan ini bukan bermaksud untuk memberikan penilaian atas siapa yang salah dan siapa yang benar, melainkan melihat bagaimana penggunaan bahasa Ahok dari dua sisi: dari struktur kalimat dan dari analisis wacana kritis.

Bahasa bukanlah media yang netral

Bahasa bukanlah media yang netral karena dengannya orang lain dapat dengan bebas mempersepsi maksud dari penutur (Bakhtin, 1981). Dalam menggunakan bahasa, seseorang pasti mengkonstruksi logika berpikir dan persepsi (Haryatmoko, 2010).

Ini mengindikasikan bahwa bahasa dan pemikiran penuturnya sangat erat berhubungan. Tidak akan mungkin seseorang menggunakan bahasa tanpa bermaksud mengungkapkan pemikirannya.

“Tidak akan mungkin seseorang menggunakan bahasa tanpa bermaksud mengungkapkan pemikirannya”

Ketidaknetralan bahasa ini dengan sangat mudah terlihat pada penggunaan bahasa di dalam orasi politik. Seringkali makna bahasa dalam sebuah orasi atau pidato politik bergantung kepada siapa yang berbicara dan bagaimana penutur menggunakannya.

Maka opini umum terhadap seorang orator sangat dengan mudah dibentuk melalui pemakaian bahasanya.

Jika memang bahasa dan pikiran tak mungkin dipisahkan, bagaimana dengan potongan pidato Ahok di atas? Apakah sang calon gubernur benar-benar bermaksud menistakan agama? Apakah sebenarnya maksud Ahok menuturkan kalimat yang sedang hangat diperbincangkan masyarakat awam ini?

Analisis Struktur Kalimat

Penggalan pidato diatas menggunakan kalimat pasif, yaitu kalimat yang subjeknya dikenai suatu tindakan (Alwi dkk, 2003). Di dalam kalimat pasif, perlu kita analisis siapa pelakunya atau agen (the doer), siapa pasien (the recipient) dari tindakan bohong diatas?

Siapa yang melakukan tindakan bohong secara aktif? Atau siapa yang melakukan tindakan bohong kepada mereka?

Perhatikan analisis kalimat berikut ini:

(masyarakat) dibohongi (oleh orang) pakai surat Al Maidah 51 macam- macam.

pasien               tindakan           pelaku               keterangan cara

Kalau dilihat, subjek dari kalimat ini bisa masyarakat umum, tetapi masyarakat dalam konteks ini bukanlah pelaku dari tindakan bohong tersebut.

Subjek (secara pasif) menerima tindakan bohong dari orang (yang tidak disebutkan dengan jelas siapa).

Yang menarik adalah penggunakan kata pakai. Di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (kbbi.web.id dan kbbi.co.id) disebutkan bahwa kata pakai merupakan kata kerja dengan ragam cakapan atau ragam tak baku. Kata pakai dapat berarti mengenakan, dibubuhi dengan; diberi ber- atau dengan.

Namun jika diteliti dalam satu kalimat utuh, kata pakai dalam pidato Ahok ini berfungsi sebagai kata keterangan. Fungsi dari kata keterangan (adverbial) adalah untuk menerangkan kata kerja, kata sifat, kata bilangan dan sebagainya, bukan kata benda.

Dalam hal ini, kata pakai dalam frase ‘pakai surat Al Maidah’ merupakan keterangan alat yang digunakan untuk menerangkan kata kerja bohong, bukan mengacu pada pelaku (yang dilesapkan).

“… kata pakai dalam frase ‘pakai surat Al Maidah’ merupakan keterangan alat yang digunakan untuk menerangkan kata kerja bohong, bukan mengacu pada pelaku (yang dilesapkan)”

Menilik dari sudut pandang struktur kalimat, pantas saja jika masyarakat berasumsi bahwa potongan pidato Ahok bermaksud untuk melecehkan agama tertentu.

Namun, kecaman yang melaporkan karena menyerukan masyarakat untuk mengabaikan Al Quran, melecehkan Al Quran, atau menistakan agama agaknya terlalu dini untuk diutarakan. Mengapa?

Karena dalam melakukan analisis kebahasaan, ada subjek lain di luar struktur bahasa yang juga sangat penting untuk diinterpretasi, yaitu pemikiran penutur.

Karena bahasa tidak netral, perlu dilakukan interpretasi yang tidak hanya berangkat dari struktur kalimat, tetapi juga dari elemen bahasa yang berkaitan dengan ideologi sang penutur.

Analisis Wacana Kritis

Hubungan kausalitas antara pemakaian bahasa melalui teks dengan struktur sosial dan budaya masyarakat maupun kekuasan dan perebutan kekuasaan dapat dianalisis menggunakan Analisis Wacana Kritis.

Van Dijk (1999) menegaskan bahwa untuk menganalisis secara tekstual, perlu dilakukan analisis terhadap wacana dengan berbagai tingkatan, apakah terdapat akibat langsung maupun tidak langsung yang diskriminatif terhadap kelompok.

Menambahkan Van Dijk, Fairclough (2003) juga berpendapat bahwa analisis kebahasaan melalui analisis wacana kritis mampu menyelidiki bagaimana hubungan antara teks yang dituturkan dengan ideologi yang dibentuk dari hubungan kekuasaan.

Kerangka analisis wacana melibatkan tiga dimensi: analisis teks (mikro) berupa analisis kosakata, semantik dan tata bahasa; analisis produksi (meso) berupa penafsiran pada proses penghasilan teks; dan analisis sosial (makro) berupa pengaruh wacana terhadap nilai, kepercayaan, ideologi, dan filosofi masyarakat.

Secara analisis makro wacana, pemberitaan mengenai penggunaan nama ayat Al Quran di dalam pidato Ahok tidak dapat dilepaskan dari konteks situasi politik saat ini.

“… pemberitaan mengenai penggunaan nama ayat Al Quran di dalam pidato Ahok tidak dapat dilepaskan dari konteks situasi politik saat ini”

Diketahui bahwa selama periode jabatannya sebagai Gubernur DKI Jakarta, gaya kepemimpinan Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta yang terkesan preman, transparan, dan siap menantang siapa saja yang korupsi membuat sebagian mafia tidak nyaman.

Belum lagi asal usulnya yang berasal dari keturunan Cina menginspirasi sebagian orang untuk melakukan black campaign terhadapnya.

Selain itu, dukungan KTP yang diberikan kepada Ahok untuk maju dalam Pilgub DKI 2017 secara independen melalui tim sukses Teman Ahok membuat iri lawan politiknya.

Dari konspirasi hingga kecaman yang diterima Ahok, dapat ditarik benang merah bahwa wacana ini memang erat kaitannya dengan rencana pengusulan kembali dirinya sebagai Gubernur DKI Jakarta.

Saat pemberitaan ini gencar digulirkan, situasi politik Indonesia memang sedang hangat menjelang Pemilihan Kepala Daerah di Indonesia Periode 2017 yang digelar secara serentak.

Tidak dapat dielakkan bahwa ada motivasi dan pencitraan tertentu yang ingin dibangun dari pemberitaan ini. Masyarakat digiring untuk memberikan pencitraan yang buruk terhadap Ahok baik secara pribadi maupun secara profesional.

“Tidak dapat dielakkan bahwa ada motivasi dan pencitraan tertentu yang ingin dibangun dari pemberitaan ini”

Pemberitaan mengenai penggalan ayat Al Quran yang digunakan Ahok memang menarik untuk ditelaah karena mendapat perhatian besar dari media dan masyarakat, apalagi kasus ini bukanlah kasus yang pertama yang terjadi antara kelompok pro dan kontra Ahok.

Dari penjelasan ini, diharapkan pandangan dari dua kubu pro dan kontra tidak memicu ketegangan menjelang Pilkada 2017.

Tulisan ini merupakan sumbangsih pemikiran Program “Pena dari Eropa”.

Diambil dari: https://www.selasar.com/politik/benarkah-ahok-menistakan-agama-sebuah-tinjauan-linguistik

Related Articles

About author View all posts

admin

admin

Mari berkarya, kirim tulisan ke redaksi@kampusiana.net