Pilgub DKI dan Kegegabahan Komunikasi Politik Ahok

92586_ahok_via_www_carasumber_com_777x325

Oleh: Abdullah Faqih*

Pemilihan gubernur Ibukota Jakarta tahun depan nampaknya tak kalah menarik dengan pemilihan presiden yang akan dilakukan oleh Amerika Serikat. Setelah lebih dari setahun menggadang-gadang siapa penantang Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), ternyata muncul nama-nama yang sebelumnya bahkan tidak diprediksikan akan mencalonkan diri.

Masuknya Anies Baswedan dan Sandiaga Uno serta tak ketinggalan Agus Harimurti Yudhoyono dan Sylviana Murni sebagai penantang petahana, menjadikan persaingan akan lebih menarik.

Atmosfer kampanye untuk pemilihan gubernur Jakarta sudah mulai terlihat masif meskipun kampanye baru dimulai secara resmi pada tanggal 28 Oktober 2016. Namun kunjungan Ahok di Kepulauan Seribu menjadi viral dan menjadi bahan kampanye golongan tertentu dalam beberapa hari ini.

Bukan karena inti pidato yang disampaikan selama kurang lebih 25 menit itu menyinggung masalah budidaya yang dihadapi masyarakat Kepulauan Seribu, tetapi satu kalimat oleh Ahok yang bahkan tak memakan lebih dari 5 detik untuk mengucapkannya yaitu “Dibohongin sama Al-Maidah 51”.

Sontak saja, ketika berita menyebar, masyarakat mulai tersulut, pemuka agama terpelatuk sehingga berusaha mengkritik apa yang disampaikan oleh Ahok adalah penistaan terhadap agama.

Meskipun Ahok telah memberi klarifikasi bahwa yang ia maksud adalah orang-orang yang berusaha mempolitisasi agama, tetapi perkataan Ahok tersebut masih belum bisa diterima oleh beberapa kalangan masyarakat.

Dalam hal ini, Ahok perlu memikirkan kembali komunikasi politiknya dengan masyarakat. Hal ini tentu bertujuan untuk menjaga elektabilitasnya sebagai petahana pada pemilihan Gubernur DKI 2017. Terlebih lagi, sentimen agama dan rasis sangat lekat disematkan terhadapnya oleh simpatisan oposisi.

“Hal ini tentu bertujuan untuk menjaga elektabilitasnya sebagai petahana pada pemilihan Gubernur DKI 2017”

Salah satu cara untuk menjaga elektabilitasnya tentu adalah menjaga komunikasi politiknya dalam masa kampanye ini. Masa kampanye tidak lain merupakan masa dketika calon-calon gubernur yang akan bersaing mendapat simpati dan kepercayaan dari masyarakat.

Perebutan simpati ini tentu akan dilakukan melalui adanya komunikasi yang baik antara calon gubernur dengan masyarakat. Kampanye sendiri masuk dalam salah satu unsur dari komunikasi politik.

Komunikasi politik Menurut Chaffee dalam Lynda Lee Kaid (2004) merupakan peran komunikasi dalam proses politik. Komunikasi politik sendiri secara operasional merupakan sebagai proses penyampaian pesan-pesan politik dari komunikator (pelaku politik) kepada komunikan (masyarakat) melalui media tertentu hingga menimbulkan efek berupa umpan balik.

Ahok memang dikenal sebagai politisi yang nyentrik dengan pembawaan yang berbeda dari politisi yang lain. Saat kampanye 2012 dahulu, sorot memang tertuju pada Joko Widodo (Jokowi). Namun lain kali ini, sorot tajam akan tertuju pada Ahok.

Bahasa politik yang digunakan oleh Ahok terkesan terus-terang dan tak jarang menggunakan kata-kata kasar. Hal ini mungkin masih akan diterima oleh masyarakat, tetapi dalam tataran untuk melakukan tindakan tegas pada pelanggaran-pelanggaran yang bersifat kentara.

Selain itu, Ahok sendiri harus lebih sadar bahwa pembawaannya yang terus terang dan tidak bertele-tele dalam mengomentari sesuatu harus dikesampingkan ketika menghadapi isu-isu agama yang sering dikaitkan dengannya.

Hal ini tidak lain karena agama masih dipandang sebagai salah satu pembentuk nilai utama dalam golongan masyarakat Jakarta, khususnya agama Islam.

Pernyataan Ahok di Kepualauan Seribu merupakan salah satu blunder terbesar Ahok, menurut saya, selama dia menjabat sebagai Gubernur Jakarta. Bukan karena ia sedang mengomentari hal yang berbau agama, tetapi lebih pada kegegabahannya dalam menyampaikan kalimat yang sangat multitafsir sehingga dapat dimanfaatkan pesaing politiknya.

Memang, di balik teks pasti ada konteks yang melekat. Di balik pernyataan singkat Ahok pun, pasti ada maksud lain.

Terakhir, juru kampanye Ahok mempunyai pekerjaan rumah besar sebelum kampanye resmi dilakukan, yaitu mendisiplinkan “mulut” Ahok. Mendisiplinkan bukan berarti harus mengubah total gaya bicara dan keterusterangan Pak Ahok yang menjadi ciri khasnya selama ini, tetapi lebih bisa menanggapi isu-isu sentimen seperti agama dengan bijak dan tidak mengeluarkan pernyataan-pernyataan multitafsir lainnya.

“…juru kampanye Ahok mempunyai pekerjaan rumah besar sebelum kampanye resmi dilakukan, yaitu mendisiplinkan “mulut” Ahok”

*Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional Unair [Selasar]

Related Articles

About author View all posts

admin

admin

Mari berkarya, kirim tulisan ke redaksi@kampusiana.net