Al-Maidah Ayat 51: untuk Ahok atau untuk Rakyat?

0708505ahok41780x390

Oleh: Ashari Setya Marwah Adli*

Surat al-Maidah Ayat 51 akhir-akhir ini mendadak menjadi tenar semenjak Ahok menyinggung ayat tersebut. Ayat yang berisikan larangan bagi kaum muslim untuk memilih pemimpin yang beragama yahudi dan nasrani yang pada akhirnya menimbulkan reaksi yang luar biasa dan bermacam-macam dari masyarakat, bahkan MUI ikut-ikutan mengecam perkataan Ahok.

Saya tidak akan menyinggung mengenai kebenaran penafsiran ayat tersebut. Karena masing-masing individu berhak untuk menafsirkan, mengijtihadkan, dan mentadaburi ayat tersebut dan itu adalah hak privasi dulur-dulur semua dan poin yang terpenting adalah hormati penafsiran orang lain dengan segala ilmu dan pengalaman yang ia miliki.

Di Republik Indonesia ini, sudah sangat sering terjadi mengenai polemik penafsiran ayat kitab suci yang pada ujungnya menimbulkan permusuhan, pertikaian, bahkan pertumpahan darah.

Jika penafsiran pada ujungnya hanya menimbulkan permusuhan, pertikaian bahkan pertumpahan darah lalu buat apa kita menafsirkan? Begitu juga dengan agama, jika agama pada ujungnya hanya menimbulkan permusuhan, pertikaian bahkan pertumpahan darah, lalu buat apa kita beragama?

Penafsiran sebenarnya tidak akan menimbulkan permusuhan, pertikaian, bahkan pertumpahan darah. Penafsiran akan menjadi polemik dan pertikaian saat orang yang mempunyai penafsiran tertentu memaksakan penafsirannya kepada orang lain.

“Penafsiran akan menjadi polemik dan pertikaian saat orang yang mempunyai penafsiran tertentu memaksakan penafsirannya kepada orang lain”

Kembali mengenai penafsiran. Apakah kita semua yakin bahwa suatu penafsiran atas ayat suci itu adalah pasti benar dan tidak akan salah sepanjang waktu? Apa ada yang berani menjamin kebenaran atas penafsiran itu?

Bagaimana jika dikemudian hari di hari akhir ternyata penafsiran yang kita yakini dan perjuangkan mati-matian benar ternyata salah dan tiba-tiba Tuhan ngejek, “Yeee, kapok keliru!”. Tetapi, ya mungkin bisa saja Tuhan malah memuji, “Bagus…baguss…top!”

Dalam science pun saya rasa sudah clear bahwa kebenaran itu tak bersikap kekal. Bahkan, kebenaran kekal dalam science itu sebenarnya tidak ada, karena dalam science, kebenaran akan menjadi salah ketika menemukan kebenaran yang lebih tinggi dan itu berlangsung terus-menerus dalam kehidupan. Begitu juga dengan kebenaran penafsiran.

Cak Nun, budayawan nasional pernah berkata bahwa penafsiran itu sebenarnya seperti bunyi ayam. Kalau di Jawa Timur, orang menirukan bunyi ayam menjadi “Kukuruyuk” kalau di Jawa Barat bunyi ayam ditirukan menjadi “Kongkorongkong..”.

Lalu, mana yang benar, kukuruyuk atau kongkorongkong? Yang benar ya tetap ayamnya. Begitu juga dengan Alquran. Dengan begitu banyak penafsiran ulama, mana yang benar? Siapa yang benar? Yang benar ya tetap Alqurannya.

Tiba-tiba sebelum tulisan ini selesai pada kesimpulan, ada yang bicara di dalam otak saya,

“Hei, ngapain ikut-ikutan bicara tentang al-Maidah Ayat 51, penafsirannya dan Ahok? Kenapa kamu ikut-ikutan terjebak dalam isu kacangan macam itu? Apa kamu lupa akan hakikat yang sebenarnya? Rakyat adalah raja, rakyat adalah pemimpin yang sebenarnya dan kedaulatan ada di tangan rakyat. Sedangkan gubernur adalah buruh rakyat, pegawai outsourcing lima tahunan, gubernur adalah orang yang dipimpin dan diperintah oleh rakyat, gubernur ditugasi dan diperintah oleh rakyat untuk mengelola, memperhatikan, dan memperjuangkan keadilan bagi rakyatnya, kalau gak becus, pecat!  Jadi, al-Maidah ayat 51 ini berlaku untuk siapa hah? Untuk Gubernur Ahok atau untuk kalian-kalian sebagai rakyat?”

“Rakyat adalah raja, rakyat adalah pemimpin yang sebenarnya dan kedaulatan ada di tangan rakyat. Sedangkan gubernur adalah buruh rakyat, pegawai outsourcing lima tahunan, gubernur adalah orang yang dipimpin dan diperintah oleh rakyat”

*LBH Lacak Surabaya [Selasar]

Related Articles

About author View all posts

admin

admin

Mari berkarya, kirim tulisan ke redaksi@kampusiana.net