Mencoba Kembali Mengikat Makna

tips-menulis

“Ikatlah ilmu agar ia tak mudah lepas!” Kalimat itu mungkin sering sekali kita dengar, di sekolah, dan di berbagai tempat yang mengajarkan ilmu pasti sering sekali menyuarakkan kalimat tersebut. Tapi apakah kita tahu makna sebenarnya dari mengikat ilmu tersebut?

Mengikat ilmu tidak lain adalah menuliskan ilmu yang telah kita dapat dalan catatan-catatan. Kita tentu telah faham betapa dahsyatnya kekuatan dari sebuah tulisan atau catatan. Jika ada yang ingat mata pelajaran sejarah kelas  X tentu mengetahui bahwa sebuah peradaban bisa dikategorikan masuk ke dalam masa sejarah setelah ditemukannya tulisan. Peradaban yang paling maju dilihat dari tulisan yang lebih dulu ditemukan.

Tidak perlu jauh-jauh menengok ke zaman ribuan tahun lalu, di zaman modern  seperti sekarang pun ketika tekhnologi semakin canggih dan ilmu pengetahuan terus maju dengan pesat tulisan masih mempunyai kekuatan yang sangat dahsyat. Kita memang tidak bisa memungkiri jika kapasitas yang dimiliki milyaran sel otak kita mempunyai kemampuan yang mampu menyimpan banyak hal. Namun kita juga pasti menyadari jika kita sering kali lupa, karena hanya sebagian kecil saja kemampuan otak kita yang kita gunakan.

Sehingga dengan menuliskan ilmu yang kita dapatkan kita mampu menyimpan ilmu tersebut dalam waktu yang lama, bahkan walaupun kita sudah meninggal, karena ilmu yang telah kita tulis masih bisa dibaca oleh generasi-generasi setelah kita. Mengikat makna bukanlah hanya sekedar menuliskan pelajaran saja, banyak hal yang dapat kita tuliskan dalam kehidupan kita.

Tidak sedikit kita bisa lihat contoh orang-orang yang menuliskan perjalanan hidupnya dan dapat menginspirasi banyak orang.  Kita bisa lihat contoh Ahmad Fuadi yang sukses dengan trilogi “Negeri 5 Menara” nya, kemudian Andrea Hirata yang tak kalah sukses dengan tetralogi “Laskar Pelangi” nya. Mereka sukses menuliskan perjalanan dan perjuangan dalam hidup mereka dan menginspirasi banyak orang, bahkan buku-buku mereka telah difilmkan dengan respon yang besar dari para pencinta film.

Tidak hanya itu, bahkan ada beberapa setelah orangnya meninggal barulah orang tersebut terkenal karena tulisan-tulisan atau catatan-catatan hariannya. Tidak perlu berpikir terlalu keras bagaimana cara dan aturan menulis dengan benar, catatan harian merupakan salah satu cara pelatihan menulis. Tuliskan saja semua yang ingin kita tulis, tuliskan apa yang kita rasakan, apa yang kita lihat, kejadian-kejadian yang sedang kita alami dan sebagainya, dengan hal tersebut kita bisa mengikat makna hidup kita dalam sebuah tulisan.

Insan yang baik adalah insan yang dapat memberikan manfaat bagi sesamanya, dengan kita menulis dan mengikat makna tentu secara tidak langsung kita bisa memberikan manfaat bagi sesama. Kita bisa memberikan pengalaman kita pada orang lain, bisa menginspirasi orang lain lewat pengalaman kita. Perjalanan hidup yang sederhana bisa menjadi istimewa ketika kita meramunya dalam tulisan yang dapat menginspirasi banyak orang. Maka dari itu ayo jangan ragu untuk menulis, mengikat makna dari setiap jengkal langkah kehidupan kita. (SHM)

Related Articles

About author View all posts Author website

Sarah Hajar Mahmudah

Sarah Hajar Mahmudah

International Relation Student-UIN Jakarta
Suka ngoleksi buku dan nulis
kalau lagi pusing jadi suka jalan-jalan