Kebudayaan “Mati Syahidah” di Palestina

naderian20100214171723781

Kalian adalah pasukan mawarku (wanita) yang akan menghancurkan tank-tank Israel”, berikut retorika dan orasi penuh semangat dari Yasser Arafat di Palestina untuk melawan Israel. Kata “mawar” dan “syahidah” merupakan suatu kata kiasan terhadap seorang wanita yang ingin mengorbankan dirinya untuk Palestina. Penindasan, pelecehan, dan pembunuhan menghantui pikiran mereka.

Konflik abadi Palestina-Israel nampak seperti ungkapan “pertempuran abadi setan-malaikat”, ujungnya saja tidak ada. Belum lagi opini yang terbangun bahwa takaran dunia ini akan kiamat jika Palestina-Israel berdamai. Suatu kewajaran seandainya seorang laki-laki mengikuti perang bahkan “mati syahid” dengan melakukan bom bunuh diri begitu anggapan sebagian besar masyarakat Palestina. Di seluruh negara pun demikian.

Tidak dengan Palestina kaum wanita yang disebut sebagai Laskar Mawar memiliki perjuangan sendiri dalam eksistensinya. Kebudayaan “mati syahidah” sudah menjadi vest interested bagi sebagian besar wanita. Mati syahidah bagi kalangan wanita sebagai bentuk penghormatan tertinggi. Bahkan meledakkan diri sendiri dengan menggunakan bandana hijau bertuliskan Allahu Akbar dijadikan suatu trend di Palestina bagi kaum wanita. Diwarnai sorak gembira sekilas menyerupai pesta pernikahan jika seorang ibu mengetahui anak wanitanya meninggal dengan meledakan diri. Tinggalah kata “Pahlawan” melekat di para Syahidah (sebutan bagi pelaku wanita).

Senada dengan itu Dr. Boaz Ganor, Direktur Lembaga Kebijakan Internasional menjelaskan terjadinya bom bunuh diri disebabkan nasionalisme dan agama. Pikiran narsisme dengan meledakan diri akan mendapatkan pahala di surga serta berkonribusi dalam kemerdekaan suatu bangsa. Bagi sebagian besar wanita di Palestina hadiah terindah bukan menaikan haji orang tuanya, membelikan mobil, memberi uang, atau materi lainnya tapi cukup satu yakni menjadi syahidah.

Membawa ransel berisi bom, melilitkan bomnya ke badan, kemudian berlari ke daerah Israel dilanjutkan dengan meledakan diri. Itulah cara memberikan hadiah terindah baik untuk Palestina dan keluarganya. Pikirnya berkontribusi terhadap kemerdekaan Palestina serta meringankan beban keluarga. Emanuel Savin menambahkan penjelasan Dr. Boaz Ganor bahwa situasi sosio-ekonomi memiliki peranan besar juga.

Kemerosotan ekonomi dan pendudukan Israel dianggap sebagai motivasi utama. Kebijakan pihak Palestina yang memberikan hadiah uang bagi keluarga untuk setiap pelaku bom bunuh diri. Pelaku bom bunuh diri bagi syahid (pria) dan syahidah (wanita) yakni 400 dan 200 dollar Amerika. Keluarga besar di Palestina rata-rata hidup di bawah garis kemiskinan. Mengorbankan nyawa anaknya untuk melanjutkan rode perekonomian.

Kebudayaan mati syahidah telah menyatu pada diri wanita. Mati syahidah bagi mereka sebagai puncak feminitas di samping semangat nasionalisme. Kebudayaan ini lahir sebagi bentuk kompleksitas muali dari keadaan sosio-ekonomi, nasionalisme, dipertegas dengan ajaran agama bahwa sesungguhnya mereka tidak mati melainkan menuju keabadian.

Related Articles

About author View all posts

Cena Aprilian

Cena Aprilian

Alumni Hubungan Internasional UIN Jakarta