Hubungan Internasional dalam Keseharian Kita

internationalrelations

Saat mendengar kata hubungan internasional (HI), mayoritas dari kita pastilah berpikir bahwa HI hanyalah studi yang terkait tentang permasalahan negara dan diplomasi. Hal ini bukanlah presepsi yang salah. Karena pada mulanya HI berfokus pada aktor negara dan permasalahan keamanan, yaitu sejak terbentuknya sistem negara-bangsa pada tahun 1648 dalam perjanjian Westphalia di Eropa, kemudian terjadi Perang Dunia ke-1 dan ke-2, hingga berakhirnya perang dingin (runtuhnya Uni Soviet) pada tahun 1990.

Tetapi paska perang dingin berakhir, HI mengalami perluasan aktor dan isu. Aktor tersebut tidak hanya negara, tetapi juga aktor non negara (MNC, IGO, INGO, individu). Begitu juga dengan isu yang semula hanya keamanan, kini HI juga mengkaji isu tentang ekonomi, sosial, budaya, pembangunan, lingkungan, dsb. Perkembangan aktor dan isu tersebut seiring dengan cepat dan canggihnya perkembangan teknologi. Sehingga HI sebagai studi yang mengkaji interaksi lintas batas negara melihat paska perang dingin dan terjadinya globalisasi, telah terjadi perluasan antar aktor internasional (negara dan non negara) yang hampir mencakup semua isu/aspek. Dengan demikian, HI merupakan studi yang bersifat multidisiplin.

Beragamnya aktor dan isu dalam HI dikatakan oleh Trevor C. Salmon dalam buku “Issues in International Relations”, bahwa Hubungan Internasional tidak hanya kajian di universitas tetapi sebuah aspek integral (peningkatan secara internasional) dalam keseharian hidup kita. Salmon juga berpendapat bahwa individu-individu di desa/kota merupakan bagian dari komunitas secara luas (dunia), serta memiliki hak-hak dan tanggung jawab. Bahkan ia mengarisbawahi bahwa dunia ini sudah saling terkoneksi.

Pernyataan Trevor C. Salmon tersebut memanglah benar. Di era globalisasi ini, kita selalu melakukan interaksi dan transaksi yang terkait dengan hubungan internasional dalam keseharian kita. Salah satu buktinya dapat dilihat dalam rumah kita, berapa banyak produk-produk dari luar negeri. Contohnya seperti motor yang kita punya adalah produk Honda dan Yamaha; mobil keluaran Toyota dan Mitshubisi; gadget bermerek Apple, Samsung dan Lenovo; serta Laptop juga bermerek Lenovo, tetapi prosessornya keluaran Intel. Di mana contoh motor dan mobil tersebut merupakan produk Jepang, Apple adalah gadget dari AS, Samsung produk dari Korea Selatan, Lenovo merupakan pabrikan dari Taiwan, dan prosesor Intel merupakan produk AS. Dengan demikian, keseharian kita selalu bersentuhan dengan produk-produk internasional. Dalam HI, hal ini di antaranya dikaji dalam ekonomi internasional dan ekonomi politik internasional.

Selain itu, saat kita membuka laptop, hampir dapat dipastikan software yang ada di dalamnya adalah produk internasional, meski sekarang ini produk lokal sudah mulai menunjukan keeksisannya. Tetapi software produk internasional tetap mendominasi laptop kita, seperti Microsoft Word, Mozilla Firefox, Adobe Photoshop, Corell Draw, Adobe Acrobat Document dsb. Pun demikian dalam gadget kita, saat ini sms sudah hampir ditinggalkan, sebab hampir semua orang telah menggunakan whatsapp, line, telegram, blackberry massanger, gmail, dsb, sebagai aplikasi komunikasinya. Kemudian dalam media sosial, kita menggunakan facebook, twitter, instagram dsb. Di mana semua produk software di laptop dan gadget, termasuk medsos yang kita gunakan sehari-hari merupakan produk luar negeri. Sehingga hal ini merupakan bagian dari HI.

Dalam bidang pendidikan, utamanya peguruan tinggi, kita tidak hanya membaca buku-buku karangan lokal, tetapi juga internasional. Di mana dapat dikatakan semua studi sains saat ini tidak terlepas dari literatur bahasa Inggris yang pengarangnya dari luar negeri. Demikian juga dengan kitab kuning yang berbahasa Arab, dan bahasa-bahasa lainnya yang digunakan dalam literatur internasional. Oleh karena itu, jika kita ingin membuat tulisan yang tidak hanya eksis di dalam negeri, tetapi juga di dunia internasional, maka tulislah dengan bahasa asing, baik bahasa Inggris, Arab ataupun yang lainnya. Sehingga melalui tulisan tersebut kita telah menjadi bagian dari HI. Karena sudah banyak tokoh Indonesia, baik para ulama, ilmuwan, sastrawan dsb, yang tulisannya tersohor di dunia internasional. Selain tulisan, aspek HI lainnya adalah kita juga dapat melakukan studi di luar negeri, dan individu-individu di luar negeri juga dapat melakukan studi di negara kita.

Dalam bidang ekonomi, perusahaan kita bekerja juga terkadang tidak terlepas dari HI, di mana terkadang petinggi perusahaan, investor, kolega, atau partner perusahaan berasal dari luar negeri. Sehingga meski kita bekerja dalam perusahaan lokal, tetapi perusahaan lokal terebut juga berinteraksi dengan individu/perusahaan dari luar negeri. Apalagi kalau kita bekerja di perusahaan luar negeri seperti Star Bucks, Allianz Insurance, Qatar Airways, dsb, justru telah membuktikkan HI ada dalam keseharian kita. Di mana semua aktivitas kita di perusahaan luar negeri tersebut, dalam HI dikatakan sebagai Multinational Corporations (MNC).

Tidak hanya MNC yang berasal dari luar negeri, produk-produk lokal pun juga telah berekspansi ke luar negeri. seperti Indomie yang pabriknya di beberapa negara Afrika dan Timur Tengah. Selain itu, banyak kerajinan budaya lokal, atau usaha kecil lokal yang menarik peminat luar negeri, dan telah melakukan kegiatan ekspor. Sehingga kita yang memiliki jiwa wirausaha sudah tentu ingin memiliki produk usaha atau jasa yang tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga melakukan ekspansi pasar ke luar negeri. Maka inilah yang dikatakan oleh Salmon bahwa sebagai individu kita merupakan bagian komunitas internasional dan memiliki hak, yang di antaranya adalah hak untuk melakukan perluasan pasar ke luar negeri. Sehingga interaksi individu atau perusahaan lintar batas negara di bidang perdagangan internasional adalah bagian kajian dalam HI.

Selain itu, HI dalam keseharian kita lainnya adalah kita sering menonton film produk dari luar negeri, seperti film hollywood dari AS, bollywood dari India, anime dari Jepang, dan drama Korea Selatan. Tidak hanya film, kita juga sering medengarkan musik-musik luar negeri, utamanya dari Barat, seperti Cold Play, Oasis, One Republic, dsb. Sehingga baik film maupun musik, keduanya merupakan aspek HI dalam bidang budaya.

Sebenarnya masih banyak lagi aktor HI dalam berbagai aspek, tetapi tidak dirasakan secara langsung oleh kita, tetapi peran mereka dirasakan secara langsung oleh pemerintah. Aktor-aktor tersebut yaitu International Governmental Organization (IGO), seperti PBB, UNESCO, World Bank, IMF, WTO serta International Non Governmental Organization (INGO) seperti Green Peace dan WWF, yang kesemuanya berkontribusi untuk mengintegralkan berbagai aspek dalam hubungan internasional. Oleh karena itu, benarlah pernyataan Salmon bahwa saat ini dunia saling terkoneksi satu sama lain, termasuk diri kita sebagai individu.

Related Articles

About author View all posts Author website

Labib Syarief

Labib Syarief

Alumni Hubungan Internasional FISIP UIN Jakarta