Pacaran itu Soal Niat

muslim-couple-27

Masa kuliah adalah masa  yang paling indah. Tak jarang pula pada masa itu mahasiswa menemukan cintanya dan menjalin sebuah hubungan yang lazim kita sebut sebagai pacaran. Bagi sebagian orang pacaran itu hal yang tidak boleh dilakukan, dilarang oleh agama. Tapi, bagi saya pacaran itu adalah bagian dari miniatur berkeluarga, bisa juga dibilang ta’aruf. Dengan pacaran kita bisa tahu seluk-beluk pasangan kita. Mulai dari tingkah-laku sampai nasab keluarganya.

Ada yang bilang yah ta’aruf itu cukup mengirimkan curriculum vitae (CV) ke calonnya, kalau cocok yah lanjutkan kalau tidak yah lewatkan. Saya masih ingat beberapa waktu lalu ada broadcast bbm ataupun di grup WhatsApp yang isinya mengajak para pemuda yang ingin mendapatkan jodoh agar datang di acara itu sambil membawa CV. Coba temen-temen banyangkan untuk mengarungi bahtera rumah tangga masa cukup dengan CV? Kita tidak tahu selub-beluk dia, bisa saja apa yang dituliskan di CV berbeda dengan kenyataannya, kan bisa berabe. Jadi, bagi saya sih pacaran boleh-boleh saja asalkan tidak berbuat yang tidak-tidak. Apalagi sudah kuliah, sudah tahu mana yang baik dan buruk. Pada masa ini, pacaran bukan hanya sekedar pacaran tapi lebih dari itu, alias serius menjalin hubungan hingga ke pelaminan kelak.

Setelah lulus, tak jarang juga pacaran bisa kandas di tengah jalan. Inilah salah satu problem asmara yang terbesar, patah hati karena diputuskannya tali cinta dengan ‘sang kekasih’. Sedih bukan? Apalagi sudah merasa cukup dan lebih dari pacarnya. Banyak alasan-alasang yang diutarakan untuk tidak lagi menjalin kasih. Mulai dari alasan sibuk kerjaan, perbedaan pendapat, dijodohkan sama orang tua, dan yang lebih parah lagi karena ada orang lain yang lebih dari pacarnya itu.

Padahal dulu mah selalu mendukung kegiatan satu sama lain. Harus diingat bahwa tidak ada orang sibuk di dunia ini, jika sang kekasih tidak pernah mengabari berarti kesibukkan hanya dijadikan legitimasi untuk pengabaian yang dia lakukan saja. Karena bagi orang yang pacaran, hal yang paling menyenangkan adalah bercengkrama dengan sang kekasih, bukan?

Semua orang di dunia ini berbeda pendapat, ada pepatah arab yang bilang ‘kulu ra’sin ra’yun’ artinya setiap kepada mempunya pendapat. Kalau yang dijadikan alasan karena perbedaan. Alasan ini tidaklah masuk akal.  Lalu apa sih masalahnya? Tidak ada. Ini hanya dibuat-buat. Saya ingat dua minggu yang lalu ada adik kelas bertanya sama saya, begini, ‘Bang ada banyak orang bilang, aku sama dia itu udah gak cocok. Emang iya?’ Saya jawab, ‘Kecocokan itu yang bisa menilai kamu sendiri, kan kamu yang menjalani, kenapa nanya saya? Gak usah denger omongan orang lain. Mungkin dia iri sama hubungan kamu sama dia’ Akhirnya dia mengiyakan.

Jika memang dijodohkan buat apa dari awal menjalin kasih? Saran saya sebelum menjalin kasih lebih baik ketemu orang tua dulu, jika cocok yah lanjut, jika tidak, yah sudahi saja, agar kedepannya tidak menimbulkan sakit yang berlebih. Memang tak jarang ada beberpa orang dijodohkan. Tapi zaman sekarang ini, sudah banyak orang tua yang modern, sudah berpikir terbuka, semuanya diserahkan kepada anaknya. Masalah dijodohkan itu bisa dibicarakan baik-baik, syukur-sukur bisa diterima dan lanjut sampai pelaminan.

Ketika ada orang yang lebih baik dari pacarnya. Ini sulit lagi, saya tidak bisa berkomentar, hanya bisa bilang, dia itu tidak setia. Kesetian itu akan terlihat nampak ketiaka ada orang yang lebih baik dari pacarnya. Di situlah hakikat kesetiaan. Kalau memang sudah tidak setia lagi untuk apa dilanjutkan? Artinya kita sudah diduakan. Sungguh alasan yang ini adalah alasan yang paling sulit dimaafkan. Tuhan saja tidak memaafkan hamba-Nya yang mendua, bukan? Apalah lagi kita hanya manusia biasa. Kalau menurut hemat saya, yang jelas perempuan yang baik, begitupun laki-laki yang baik, tidak akan pernah merebut milik orang lain, yang sudah punya pacar.

Dalam pacaran itu banyak sekali ujian dan godaanya. Semua itu tergantung niat, kembali lagi sama niat di awal. Jangan sampai bilang cinta beneran tapi kok ujung-ujungnya putus.

Pacaran itu ada dua tipe, pertama pacaran untuk menikah dan yang kedua pacaran hanya untuk dijadikan pacar lantaran gengsi mengikuti zaman. Pada hakikatnya semua itu akan bermuara pada pelaminan. Apakah yang banyak mantan itu keren?

Jodoh memang di tangan Tuhan, tapi kita berhak memilih. Jika memang dari awal sudah memilih untuk pacaran, yah sudah lanjutkan sampai ke pelaminan. Itu sih saya, gak tahu deh orang lain. Ah sudah-lah kembali lagi pada niat. Untuk apa sih pacaran?

Saran saya, jangan pernah sia-siakan pacar kita, karena dia yang mendampingi kita di saat berjuang bersama ketika masih kuliah samapai meniti karir. Kalau kamu sia-siakan, bersiaplah kelak mendapatkan jodoh yang akan menelantarkan kamu juga. Sebab karma yang paling mengerti soal asmara. Berhati-hatilah.

Related Articles

About author View all posts

Waki Ats Tsaqofi

Waki Ats Tsaqofi

Blogger | Layouter | Desainer Grafis |