Dilema Kaderisasi dalam Kampus

163194-1455625633-870323

Dunia perkampusan merupakan contoh ideal kehidupan bersosial. Sebelum terjun ke dalam dunia sosial yang riil, mahasiswa sebagai aktor utama di dalam kampus dan akan ditempa serta diperkenalkan bagaimana cara  bersosialisasi yang baik. Seperti di kehidupan sosial lainnya, dunia kampus membutuhkan organisasi yang terstruktural untuk membantu kinerjanya sebagai tempat bersosial.

Di UIN Jakarta nama-nama organisasi intra seperti Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ), Dewan Mahasiswa (DEMA), Senat Mahasiswa (SEMA) yang membantu mahasiswa untuk mengenal lebih jauh -apa yang ada dalam kampusnya. Namun, eksistensi organisasi intra tersebut dirasa belum cukup untuk mengenyangkan rasa keingin-tahuan para mahasiswa. Selain organisasi intra ada juga organisasi ekstra kampus  seperti Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), dan organisasi ekstra lainnya untuk mengenalkan –ini loh kehidupan sosial di luar kampus. Organisasi–organisasi itulah yang dapat menjadikan mahasiswa pribadi yang kritis dan mempunyai daya sosial yang tinggi.

Namun terlepas dari tujuannya tersebut, ada sebuah pertanyaan yang sedikit yang mengganjal di hati saya. “Apakah pantas jika organisasi yang seharusnya mengajarkan cara bersosial yang baik malah mencontohkan cara bergaul yang buruk? Bukan sebuah hal tabu, jika organisasi-organisasi tersebut seakan saling berlomba untuk mencari massa. Salahkah hal tersebut? tidak bahkan terlihat normal. Seperti halnya tujuan kita hidup di dunia untuk saling berlomba-lomba dalam kebaikan. Bahkan kita sudah saling berlomba dengan ratusan calon anak lainnya di dalam rahim ibu kita.

Yang sangat salah adalah saat cara yang kita gunakan untuk berlomba, kita menggunakan cara apapun untuk menang. Tak peduli cara itu salah atau benar, sesuai aturan atau tidak, menyalahi kodrat atau tidak. Dan faktanya membuktikan, banyak organisasi-organisasi ekstra kampus yang menggunakan cara yang salah untuk mengkader massanya. Seperti menjelekkan organisasi lainnya, memaksa mahasiswa baru untuk ikut dalam strukturnya, menggunakan nama formalitas kampus sebagai ajang pencarian massa.

Jika cara yang salah tersebut digayang-gayang sebagai sebuah strategi, mungkin mereka harus harus mengkaji ulang nilai norma dasar yang ada di dalam tubuh organisasnya. Sedikit saran dari saya, untuk para petinggi organisasi yang menggunakan cara yang salah, mungkin Anda secepatnya harus berhenti. Biarkan para mahasiswa memilih dengan hati organisasi yang membuatnya merasa nyaman dan tidak memaksakan kehendak dirinya. Ingat seperti halnya sebuah kebohongan, kesalahan akan terus melahirkan kesalahan yang baru. Dan lama-kelamaan dapat membutakan hati dan pikiran, jika cara tersebut adalah salah.

Dan untuk para mahasiswa baru, jangan mudah terlena dengan kata-kata manis yang diucapkan para senior. Pilihlah organisasi yang sesuai dengan hati dan pikiran Anda, yang dapat mengembangkan bakat dan potensi diri, dan tentunya organisasi baik yang mengajarkan cara bersosialisasi yang baik. Yang terpenting bagi mahasiswa baru harus cari sumber informasi yang benar jangan hanya dari satu pihak saja, cari tahu juga dari yang lain. Misalnya guru-guru di SMA dulu atau tanyakan ke dosen dan kalau bisa ke orangtua Anda.

Coba Anda bayangkan, ada orang tidak masuk organisasi lain malah menjelekan organisasi lain dan selalu membaguskan organisasi yang dia ikuti, apakah itu tidak salah? Saya sering dinasehati oleh senior saya (sekarang sudah lulus dan peraih prediket cam laude serta lulusan terbaik) “Jangan sampai kita menjelekan organisasi lain dalam perekrutan. Bilang sejujur-jujurnya, apa adanya tidak dibuat-buat. Biarlah mereka (mahasiswa baru) menilai sendiri tanpa ada paksaan” begitulah kira-kira yang masih saya ingat.

Mestinya, yang muncul ke permukaan adalah pertarungan ide dan gagasan, mimbar-mimbar diskusi yang gagah dan berkeadaban, serta kultur persahabatan yang hangat dan menghargai perbedaan. Kalau tradisi ini yang kita pelihara, saya meyakini UIN Jakarta lebih tepatnya organisasi ektra Ciputat akan semakin tersohor. Namun jika spirit yang dibangun adalah sebaliknya, lambat laun sendi-sendi peradaban ini akan retak dengan sendirinya.

Related Articles

About author View all posts

Zaenal Arifin

Zaenal Arifin

Mahasiswa Tarjamah UIN Jakarta, Hobi nulis dan desain