Pelayaran Kapal di Samudra

rough sea

rough sea

Terdapat dua orang yang akan melakukan pelayaran mengarungi samudra dengan menggunakan kapalnya masing-masing. Sebelum berangkat, mereka menyiapkan bekal untuk melakukan pelayaran panjang tersebut. Kedua orang tersebut memiliki kesamaan, yaitu tidak memiliki pengalaman mengarungi samudra. Tetapi mereka juga memiliki perbedaan, yaitu: orang pertama membawa bekal makanan, minuman dan harta sebanyak-banyaknya,  serta membawa alat-alat yang dianggap mampu untuk membantu navigasi pelayarannya. Sehingga meski ia tidak memiliki pengalaman berlayar, tapi ia yakin segala hal yang ia bawa termasuk hartanya akan mampu menyelamatkannya selama pelayaran di samudra hingga sampai tujuan dari pelayarannya tersebut. Selain itu, ia juga beranggapan bahwa ia akan menikmati makanan, minuman dan harta yang ia bawa ketika sampai di tujuannya tersebut.

Sedangkan orang kedua, ia membawa bekal secukupnya. Tetapi ia telah mendapatkan bimbingan dari seorang nahkoda laut yang pengalaman. Nahkoda tersebut mengajarkan bagaimana caranya bertahan hidup dengan bekal secukupnya di ganasnya samudra yang kondisi cuacanya yang tidak dapat ditebak. Ia juga mendapatkan pengetahuan bagiamana mengoperasikan dan memperbaiki kapal yang ia gunakan.

Setelah waktu yang tepat tiba, mereka berdua akhirnya berlayar dengan kapalnya masing-masing. Pada mulanya mereka berlayar di lautan tenang. Keduanya sama-sama mampu mengatasi kapalnya melalui lautan tersebut. Namun, saat berlayar di tengah samudra, cuaca tidak menunjukkan kecerahannya. Awan hitam mulai menggumpal, dan turun hujan yang deras dan disertai badai. Ombak laut pun menjadi ganas, gulungan ombak-ombak setinggi pohon pinus atau bahkan lebih tinggi lagi datang silih berganti. Angin yang kencang pun turut memperparah badai laut tersebut.

Orang pertama, pada mulanya merasa tenang menyikapi hal tersebut, karena ia yakin dengan alat-alat yang ia bawa, ia akan selamat. Namun, pada kenyataannya, badai laut yang bercampur angin dan ombak-ombak tinggi telah membuat alat-alat yang ia bawa tidak berfungsi, seperti halnya gps atau telepon satelit. Terlebih lagi, segala harta yang sangat banyak yang ia bawa ternyata menambah beban kapal yang muatannya melebihi kapasitas kapalnya. Hal ini mempengaruhi pergerakan kapal di tengah gulungan ombak yang datang dari kanan, kiri, depan dan belakang. Sehingga membuat kapalnya terombang-ambing dan berat sebelah dengan banyak beban yang dibawa kapalnya. Setelah selamat dari beberapa terjangan ombak, ternyata terdapat terjangan ombak yang melebihi tinggi kapalnya yang kemudian menerjang kapal orang tersebut. Dengan adanya beban yang melebihi muatan kapal dan parahnya kerusakan kapal karena terjangan ombak, pada akhirnya, kapal yang ia bawa hancur dan tenggelam beserta harta yang ia bawa. Apalagi di wilayah lautan tersebut ternyata terkenal dengan banyaknya hiu, setelah tenggelam ia pun mati karena hiu tersebut.

Berbeda dengan orang kedua, orang kedua telah mendapatkan bimbingan nahkoda pengalaman di samudra. Sehingga ia mengetahui bahwa hanya membawa bekal secukupnya yang sesuai dengan kebutuhan pelayaran, hal ini justru telah mengurangi beban kapalnya di laut.  Maka berdasarkan bimbingan nahkodanya ia memiliki strategi terlebih dahulu bagaimana menghindari badai dan menghindari wilayah banyak binatang buas. Tetapi jika ia terkena badai, ia sudah diberi ilmu bagaimana menjauhi dari pusat badai yang memiliki banyak ombak tinggi. Sehingga dengan pengetahuannya dari nahkoda pengalaman tersebut, akhirnya ia selamat dari pusat badai.

Selain itu, meskipun bekal yang ia bawa sedikit, tetapi tetap membuatnya bertahan hidup, karena sudah mengetahui kebutuhan pelayarannya harus sesuai dengan kemampuan kapalnya. Dengan demikian, berbagai rintangan di lautan telah berhasil ia lewati karena ia benar-benar telah mendapatkan pengetahuan mengarungi samudra dan mengoperasikan kapal dari nahkoda kapal yang berpengalaman. Sehingga ia sampai pada tujuannya.

Cerita dua orang di atas, bisa kita ambil hikmahnya, bahwa perjalanan hidup ini bisa diibaratkan sedang mengarungi atau berlayar samudra. Sehingga banyak rintangan dalam perjalanan hidup seperti ganasnya badai laut di luasnya samudra dan banyaknya binatang buas di lautan tersebut.  Maka wajar Lukman Hakim memiliki nasehat “Wahai anakku! Sesungguhnya kehidupan kita diibaratkan seperti sebuah kapal yang berlayar di lautan dalam, dan telah banyak manusia yang karam di dalamnya. Jika kita ingin selamat maka berlayarlah dengan kapal yang bernama takwa, isi kandungannya ialah iman, sedangkan layarnya adalah tawakkal kepada Allah swt”

Secara khusus hikmah cerita di atas: orang pertama adalah seorang manusia yang sombong, ia tidak membutuhkan bimbingan dari orang yang berpengetahuan untuk selamat dalam perjalanan hidup, yaitu para ulama dan habaib atau para wali. Ia merasa dengan alat-alatnya dan harta yang ia miliki akan menyelamatkannya. Bahkan karena keserakahannya membawa harta sebanyak-banyaknya justru mengakibatkan musibah dalam perjalanan hidupnya. Atau dengan kata lain ia termasuk orang-orang yang menumpuk harta. Ia tertipu dengan duniawi sebelum sampai tujuan. Sehingga ia sudah tenggalam dalam duniawi dan gagal menuju tujuannya, yaitu gagal menuju Ridho Allah atau meninggal dalam keadaan suul khotimah (mati dalam keadaan buruk). Na’uzubillah.

Sedangkan orang kedua adalah seorang manusia yang bijak. Ia sadar bahwa perjalanan hidup ini penuh rintangan dan ujian. Maka perlu seorang ulama dan habaib atau para wali yang membimbing bagaimana strategi untuk selamat dalam perjalanan hidup ini. Dengan bimbingan tersebut, ia paham menghadapi berbagai masalah dan ujian. Kemudian jika ia memiliki harta pun, ia hanya dimiliki secukupnya, dalam artian hanya digunakan untuk keselamatan dunia dan akhirat. Sehingga harta bukanlah menjadi tujuan dalam perjalanan hidup. Sehingga dengan bimbingan ulama dan habaib atau para wali, meskipun banyak masalah dunia menghadang, ia selamat mencapai tujuannya, yaitu menuju  Ridho Allah atau kematian yang khusnul khotimah (mati dalam keadaan baik),

Sebagaimana kita ketahui, bahwa para ulama dan habaib atau para wali adalah warisan para Nabi. Mereka adalah penerus estafet dakwah Nabi Muhammad saw. Mereka adalah orang-orang yang dekat dengan Allah swt dan Rasulullah saw. Sehingga mereka membimbing bagaimana agar kita tetap di jalan Allah dan Rasulullah, meskipun berbagai masalah dalam kehidupan menghadang. Mereka mengingatkan tentang esensi dari kehidupan ini, yang tidak lain dan tidak bukan hanya untuk beribadah kepada Allah swt. Mereka mengajarkan memiliki sifat-sifat baik, dan membuang sifat-sifat buruk, atau biasa disebut memiliki akhlakul karimah. Dapat disimpulkan dengan bekal ilmu agama Islam yang diberikan mereka kepada kita, kita akan selamat dunia dan akhirat, serta yang paling penting adalah kita tetap dekat dengan Allah swt dan Rasulullah di dunia dan akhirat.

Terkait keutamaan para ulama dan habaib atau para wali Allah, berikut ini syair Al-Rashafat yang ditulis oleh al-Imam al-Habib ‘Abd al-Rahman bin Abdallah Bilfaqih Ba Alawi yang dikutip oleh Ismail Fajri al-Attas tentang keutamaan meraka:

 فهم لفيض فضله شعوب

Mereka adalah alur turunnya limpahan (fayd) karunia-Nya

Menurut Ismail Fajri al-Attas, para wali adalah para pemimpin, orang-orang yang terpilih untuk menjadi pelopor hidayah yang menerangi umat. Keberadaan mereka adalah salah satu bukti karunia Tuhan yang Mahaluas dan tak terhingga.

تحيا بهم بنوره القلوب

Melalui mereka, hati manusia dihidupkan cahaya-Nya

Masih menurut Ismail Fajri al-Attas, melalui pandangan dan arahan mereka, hati yang menghadap akan dapat hidup melalui sinaran cahaya Ilahi. Seperti halnya sinaran sang surya memungkinkan fotosintesis pada dedauanan sehingga tumbuh kembali. Selain menjadi aliran air maknawi, para wali juga merupakan tempat memantulnya cahaya Ilahi. Yang pertama memantulkan cahaya Ilahi dan tetap menjadi pantulan terbesar dan teragung adalah Nabi Muhammad saw. Kemudian dari keagungan beliau, cahaya terpantul kepada siapa saja yang menghadapkan wajah mereka pada beliau Nabi Muhammad saw.

Ismail Fajri al-Attas juga menjelaskan bahwa dengan menghadapkan wajah kepada Nabi Muhammad saw, para wali menjadi rangkaian cermin yang memantulkan cahaya Ilahi, Maka hidupkan hati dan hadapkan diri kita kepada Sang Kekasih, Nabi Muhammad saw dan para wali yang meneruskan perjuangan beliau. Sehingga melalui limpahan air maknawi dan cahaya suci Ilahi yang jauh lebih terang dari mentari, tanah hati kita subur kembali.

Wallahuallambisshowab

Related Articles

About author View all posts Author website

Labib Syarief

Labib Syarief

Alumni Hubungan Internasional FISIP UIN Jakarta