Menjadi “Muslim Sejati” dengan Empat Istri: Belajar dari Bung Hatta

hatta-rahmi

Beristri lebih dari satu atau lebih sering kita kenal dengan istilah poligami memang sampai saat ini menjadi isu yang cukup kontroversi. Pihak laki-laki yang sering menjadi pelaku poligami tidak sedikit yang mendukung hal tersebut, ditambah lagi mereka menyandarkan argument mereka pada QS. An-Nisa ayat 3 yang terdapat anjuran di dalamnya bagi laki-laki untuk menikahi wanita lebih dari satu sampai dengan batas empat.

Namun berbanding terbalik dengan banyaknya kaum perempuan yang justru tidak sedikit yang tidak ingin dipoligami. Urusan hati memang sangat rumit, apalagi jika berkaitan dengan makhluk bernama perempuan. Bahkan Rasulullah sendiri saja walaupun mempunyai istri lebih dari satu, justru tidak mengijinkan Ali untuk mempoligami putrinya, Fatimah. Walaupun begitu tidak sedikit pula perempuan yang rela dimadu, dengan iming-iming bisa masuk surga lewat pintu mana saja, ketika sebagian perempuan lain ingin memilih pintu yang lain.

Berbicara mengenai beristri empat dan menjadi muslim yang sejati, saya ingin mengajak untuk meneladani tokoh bangsa kita yaitu Bung Hatta. Mungkin menjadi pertanyaan besar kenapa Bung Hatta dijadikan tokoh panutan seorang yang beristri empat? Sedangkan kita ketahui bersama jangankan beristri lebih dari satu, bahkan beliau ini baru menikah setelah menginjak usia di atas 40 tahun. Saya mengulas keteladanan beliau bukan karena ada empat orang perempuan istimewa dalam hidupnya, namun 4 istri tersebut merupakan istri dalam bentuk lain.

Mavin Rose mengatakan bahwa Bung Hatta adalah seorang “Muslim Sejati” karena beristri empat, yaitu: Indonesia, Rakyat Indonesia, Buku dan Rahmi Rachim. Istri merupakan suatu yang dekat dengan beliau, dicintai dengan sepenuh hati dan selalu menemani. Empat hal tadi Indonesia, rakyat, Buku dan Rahmi merupakan hal-hal yang sangat beliau Cintai. Terlahir dari keluarga yang taat beragama di Bukit Tinggi, tentu Bung Hatta mendapatkan pendidikan agama sangat baik. Apalagi struktur Minangkabau sangat terkenal dengan perpaduan antara adat dan  agama Islam yang dibuhul dengan pepatah adat basandi syara, syara basandi kitabullah. Sehingga pendidikan Islam telah didapatkan dari sejak kecil di lingkungan keluarganya.

Istri pertama Hatta menurut Mavin Rose adalah Indonesia, sedangkan Rahmi Rachim yang merupakann istri “sungguhan” Hatta justru disebutkan terakhir. Hal tersebut bisa dikatakan karena tekad Bung Hatta yang berjanji tidak akan menikah sebelum Bangsa Indonesia merdeka, dan beliau pun melunasi janji tersebut. Bung Hatta baru menikahi Rahmi setelah Indonesia merdeka. Menjadi muslim sejati tidak cukup hanya beribadah menyembah Tuhan, namun juga harus berlaku baik dan memberikan manfaat bagi sesamanya. Saking besarnya kecintaan Hatta pada tanah airnya, beliau sampai mengesampingkan kepentingan pribadinya demi terbebasnya bangsa Indonesia dari belenggu penjajahan. Membebaskan rakyat Indonesia dari penderitaan.

Beliau juga merupakan seorang tokoh yang dicintai rakyat. Ketika Soekaro, seorang tokoh besar yang kehadirannya dianggap sebagai ratu adil yang akan membawa Indonesia menuju kesejahteraan ditangkap dan dibuang menjadi pukulan telak bagi rakyat. Di tengah semangat perlawanan meredup dengan hilangnya pemimpin mereka, Hatta mengembalikan semangat tersebut dengan menyatakan bahwa perjuangan saat itu harus didasari oleh masa bukan oleh sang pemimpin. Pergerakan rakyat timbul bukan karena pemimpin bersuara, tetapi pemimpin bersuara karena ada pergerakan. Hatta meyakini jika seorang pemimpin tidak bisa berbuat apa-apa tanpa adanya dorongan dan dukungan dari rakyat.

Buku juga menjadi salah satu hal yang sangat dekat dengan beliau. Buku merupakan simbol dari ilmu pengetahuan, Bung Hatta adalah seorang yang haus akan ilmu. Sedari kecil beliau sangat rajin belajar, baik ilmu pengetahuan umum maupun ilmu agama. Siang hari beliau menghabiskan waktu untuk belajar di Sekolah Rakyat, sedangkan pada sore hari menuju surau untuk mengaji. Hal tersebut yang kini sulit kita dapati pada anak-anak jaman sekarang. Kebanyakan anak jaman sekarang mementingkan ilmu pengetahuan umum dan tidak tertarik untuk mempelajari ilmu agama. Atau ada yang hanya belajar agama dan menganggap ilmu pengetahuan umum tidak penting. Dari Bung Hatta kita bisa belajar untuk menyeimbangkan keduanya. Sebagai orang terpelajar, Bung Hatta pun tentu tidak perlu ditanya berapa banyak buku yang telah ia baca dan berapa karya yang telah ia tulis. Bahkan sampai ada kata-kata yang sangat menginspirasi dari beliau yaitu, “Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

Kemudian istri yang sesungguhnya yaitu Rahmi Rachim. Karena janjinya untuk tidak menikah sebelum Indonesia  merdeka, membuat Bung Hatta menikah setelah usianya menginjak 43 tahun. Saat itu Soekarno yang melamarkan Rahmi yang saat itu masih berusia 18 tahun, lebih cocok menjadi anak dari pada istrinya Bung Hatta. Walaupun menghadapi penolakan dari keluarga karena usia yang terpaut jauh antara keduanya, namun Rahmi pun memutuskan untuk menerima lamaran tersebut, karena menilai Bung Hatta sebagai sosok yang punya prinsip dilihat dari tekadnya untuk memerdekakan Indonesia. Seorang pencinta yang dengan seluruh tenaga memperjuangkan yang dicintainya.

Bung Hatta mengajarkan kita untuk menjadi Muslim sejati dengan penuh cinta. Cinta terhadap bangsa Indonesia, rakyat Indonesia, buku dan ilmu pengetahuan juga sang istri tercinta. Menjadi muslim sejati tak harus membagi cinta dengan empat wanita yang berbeda. Namun menjadi muslim sejati adalah menjadi orang yang menebarkan cinta kepada sesama dan memperjuangkannya. Merdeka!

Related Articles

About author View all posts Author website

Sarah Hajar Mahmudah

Sarah Hajar Mahmudah

International Relation Student-UIN Jakarta
Suka ngoleksi buku dan nulis
kalau lagi pusing jadi suka jalan-jalan