Mau Kontestasi Malah Menghakimi

HMI-PMII Bersahabat

HMI-PMII BersahabatPada 24-26 Agustus 2016 UIN Jakarta melaksana kegiatan Orientasi Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan (OPAK) yang merupakan kegiatan rutinitas tiap tahunnya. Kegiatan tersebut merupakan suatu ajang pengenalan kampus baik tingkat universitas, fakultas, maupun jurusan. Jadi diharapkan melalu kegiatan itu  Mahasiswa Baru (Maba) dapat mengenal berbagai aspek di kampus yang berlandaskan Islam ini.

Di sisi lain organisasi ekstra kampus justru memandang kegiatan OPAK sebagai bentuk pengkaderan, ajang regenerasi, atau pencarian anggota baru. Organisasi ekstra ini memiliki kode tersendiri dalam penyebutannya yakni “biru” dan “hijau”. Kedua kata warna tersebut dalam suasana OPAK memiliki nilai sensitivitas tersendiri. Di mana sensitivitas tersebut menimbulkan pergesekan di antara kedua organisasi ekstra ini. Sebenarnya sih tidak ada masalah dalam suatu ajang kontestasi untuk unjuk gigi siapa yang terbaik.

Maba sering dijadikan trial and error untuk dipengaruhi seniornya guna mengenal apa itu “biru” atau “hijau”. Nantinya para Maba itu yang dianggap sebagai domba-domba tersesat atau seperti panah yang melesat entah kemana arahnya akan terpancing untuk mengaitkan kata “biru” dan “hijau”. Sekali lagi dalam konteks ini dan berbicara mengenai ranah kontestasi adalah wajar dan tidak masalah. Wajar saja bagi mereka lebih bangga menggunakan almamater organisasi ekstra kampus dibandingkan almet UIN itu sendiri.

Kata “biru” merupakan organisasi yang mengedepankan pergerakan serta simbol perisai (PMII). Sedangkan kata “hijau” mendominasi kata himpunan (HMI). Sudahlah jangan terlalu kaku dalam penyebutan dua kontestan ini. Namun titik permasalahannya ketika kata “biru” selalu diidentikan dengan berbagai kata atau warna yang mengandung “biru” itu sendiri. Salah satu akun instagram, mulai hastage BUKANKAMPUSBIRUPEMBAHARU, dan TOLAK IDEOLOGI KAMPUS BIRU.

Bahkan dahsyat-nya lagi mengaitkan logo dan almamater UIN Jakarta dengan berwarna “biru” PMII. Terbesit dibenak ini kok bisa dan pikiran kerdil mengaitkannya. Ini sama seperti teori konspirasi logo freemason-Yahudi yang mengaitkan “segitiga” ke berbagai sesuatu. Mungkin saja mereka (para pelaku) terpengaruhi teori konspirasi yang jadinya menghakimi organisasi tertentu.

Banner yang menampilkan foto Ketua Senat Mahasiswa UIN Jakarta memuat kata “Selamat Datang Mahasiswa Baru di Kampus Biru Pembaharu” tidak luput dari tuduhan adanya keinginan mengganti moto UIN. Sebenarnya kata “kampus biru pembaharu” hanyalah slogan atau jargon untuk menyambut OPAK. Intinya yaitu kontestasi boleh dalam memperebutkan sesuatu yang dianggap prestise namun jangan menghakimi organisasi lainnya. Ingin Kontestasi Malah Menghakimi, Jangan Doktrinisasi Anti Organisasi, Mari Kontestasi tanpa Membatasi. (GoeruDesa1908).

Related Articles

About author View all posts

Cena Aprilian

Cena Aprilian

Alumni Hubungan Internasional UIN Jakarta