UIN JAKARTA, KAMPUS BIRU PEMBAHARU ADA MASALAH?

Menpora di kala mengunjungi OPAK UIN Jakarta

Menpora di kala mengunjungi OPAK UIN Jakarta

Di Indonesia, sebelum jadi mahasiswa ada serangkain tradisi yang harus dijalanai oleh para mahasiswa baru (Maba) salah satunya adalah OSPEK. Tujuannya adalah untuk memperkenalakan kepada Maba tentang dunia kampus, baik itu kegiatan, program, fasilitas dan lain lain yang berhubungan dengan perkuliahan.

Ngomongin soal OSPEK, Berbeda dengan kampus lainnya, di UIN Jakarta sebutan OSPEK adalah OPAK (Orientasi Pengenalan Akademik dan Kemahasiswaan), kedengaranya memang sedikit aneh sih, namanya seperti nama kerupuk asal Jawa Barat yang terbuat dari singkong yaitu, kerupuk opak, saya tertawa ketika mendengar pertama untuk kalinya. Dulu waktu saya masuk UIN Jakarta namanya bukan OPAK tapi PROPESA entah apa singkatannya dan belum terorganisir kayak sekarang. Waktu itu gak ada yang namanya OPAK Universitas langsung ke fakultas masing-masing. Dikarenakan waktu itu Badan Esekutif Mahasiswa Universitas (BEM-U) sedang dibekukan. Dengan berjalannya waktu, akhirnya BEM-U dihidupkan lagi tapi diganti nama menjadi Dewan Mahasiswa Universitas (DEMA-U) terpilihlah Kanda Didin dan Kanda Tutur. Ketika itu juga PROPESA berubah nama menjadi OPAK, yang terdiri dari pengarahan, OPAK Universitas, OPAK Fakultas-Jurusan, dan demo UKM.

Menarik memang selain pengenalan akademik dan kemahasiswaan, di waktu OPAK juga kesempatan untuk organisasi ekstra mengenalkan organisasinya. Di UIN Jakarta ada dua organisasi besar, yaitu Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Selain dua organisasi itu ada juga Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) dan organisasi primordial lainnya.

Selama saya kuliah di UIN Jakarta ini pasti ketika datang masa OPAK dan PEMIRA pasti ada saja keributan-keributan yang terjadi, masalah kecil-pun bisa jadi besar. Misalnya OPAK tahun ini ada banner atau sepanduk dari Ketua Senat Mahasiswa Uiniversitas (SEMA-U) yang bertuliskan kira-kira seperti ini, “Selamat Datang Mahasiswa Baru di Kampus Biru Pembaharu” bagi sebagian mahasiswa itu bermasalah dan menganggap ingin menganti moto UIN Jakarta. Sejak 2007 UIN Jakarta menetapkan moto, knowledge, piety, dan integrity, ketika Rektor Komar Hidayat menjabat.

Bagi saya itu biasa saja tak bermasalah dan tak mengganti moto UIN Jakarta kok. Ah, jadi mahasiswa kok suka kagetan. Saya juga masih ingat ketika Kanda Didin dan Kanda Tutur menjabat sebagai petinggi DEMA-U keduanya memasang spanduk sama seperti Ketua SEMA-U tahun ini Wahid, kurang lebih seperti ini, “Selamat Datang Mahasiswa Baru di Kampus Hijau Pembaharu” coba baca lagi apa bedanya dengan Ketua SEMA-U? Yang beda hanyalah Biru dan Hijau. Kalau Kanda Didin dan Kanda Turur menulis Hijau dan Wahid menulis Biru. Apakah Kanda Didin dan Kanda Tutur tak bermasalah? #MenolakLupaKandaDidinTutur coba dicek lagi waktu OPAK tahun lalu ada juga hastag #OPAKFITK2015 ada juga tulisan yang sama seperti Kanda Didin dan Kanda Tutur.

Padahal sama sekali kalimat kampus biru bukan ingin menganti ideologi atau moto UIN Jakarta.  Bagi saya, Kampus Biru Pembaharu hanyalah jargon atau slogan. Ideologi kita sama Pancasila berasaskan nilai-nilai Islam. Kok sampai-sampai media sosial (MEDSOS) ramai dengan menolak ideologi kampus biru pembaharu. Sampai-sampai Akun Resmi Instagram UIN Jakarta dengan username @uinjktofficial me-Repost hal-hal yang menolak kampus biru pembaharu. Aneh bukan?

Hebatnya, sekelas pegawai UIN Jakarta yang mengurusi akun MEDSOS dan dibayar oleh negara ikut meramaikan penolakan kampus biru pembaharu coba saja tengok di beranda istagramnya. Duh, gak ada kerjaan lain apa yah? Admin-nya kurang ngopi Kampus Biru Pembaharu itu kan jargon atau slogan, coba baca lagi Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) lagi biar bisa membedakan jargon dan ideologi, biar aman OPAK. Jangan sableng lagi adminnya. Alangkah malangnya Maba kita disuguhi hal yang seperti ini, dengan me-repost sesuatu yang membuat perselisihan. Bisa-bisa akun ini sudah tidak bisa dipercaya lagi dalam memberikan postingan. Karena cenderung memihak pihak dan menjatuhkan pihak lain. Tolong Bapak Rektor yang berwibawa kontrol lagi karyawan-karyawannya dalam menginformasikan di dunia maya.

Medsos itu sangat berbahaya dan bisa menimbulkan konflik nyata yang besar. Jadi hati-hati dalam postingan dan caption. Kata Bagian Tim Medsoa UIN Jakarta pada saat Rapat Koordinasi OPAK Universitas di Diorama Auditoriun lantai 1 Kamis 4 Agustus 2016. Eh tapinya Tim MEDSOS UIN Jakarta sendiri yang tidak hati-hati. Sungguh malang sekali nasib Maba tahun ini.

Jadi yang bermaslah itu yang mana? Kampus Biru Pembaharu atau Tim MEDSOS UIN Jakarta?

Permasalahnya adalah HMI lagi ketar-ketir takut kadernya berkurng maka dibuatlah hal kecil yang gak bermasalah jadi masalah besar dan menganggap ingin menganti moto UIN Jakarta. Kalau kata Gus Dur, “Kalau HMI selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, sementara PMII tak pernah tahu tujuannya apalagi caranya.”

Saran saya bagi Maba ikutlah organisasi yang sesuai hati kalian.

 

Related Articles

About author View all posts

admin

admin

Mari berkarya, kirim tulisan ke redaksi@kampusiana.net

  • Jilbab ungu

    LOL

  • Didin Sirojudin

    Dinamika seperti Ini Harus diarahkan kepada Hal hal yg positif, terkadang hadirnya perbedaan tidak selalu membawa pada kekurang baikan. Perbedaan pola fikir Dan cara pandang merupakan kekayaan mahasiswa dalam pengembangan kedewasaan pola fikirnya, yg terpenting mampu mempertanggung jawabkan atas pola fikir yg dibangunnya, Baik bagi dirinya maupun bagi org lain.
    Salam mahasiswa

  • Waki Ats Tsaqofi

    Biru itu sama kayak almet UIN Jakarta

  • Kurnianto

    Saya mencoba baca berulang ulang tulisan di atas. Setelah memahami apa yang terjadi sebenarnya cukup miris. Organisasi yang di sebutkan di atas semuanya adalah organisasi besar. Tapi perilaku anggotanya sangat memperburuk citra organisasi. Sebagai mahasiswa kita tahu peran organisasai ekstra kampus di dalam lingkup aktivitas bem kampus. Harusnya saling sama sama dewasa dalam hal politik kampus. Alangkah lucunya ketika orang2 teriak politik negara kotor tetapu politik kampus juga serupa seperti apa yang dia kritik. Sejujurnya dari tulisan di atas saya hanya mendapat point of view pembalasan satu organisasi terhadap organisasi lain. Sedih sebenarnya ketika kaum organisatoris mulai berfikir kuantitas daripada kualitas. Cuacanya sudah berubah ya. Terimakasih

  • M. Cahyo Rahmat

    Biru pembaharu itu jargon apa? Jgn copas lah, kampus biru itu julukan universitas islam bandung, wah bahaya nih. Plagiat