Dua Musim Hujan

87rasulullah-pun-hujan-hujanan-inilah-7-sunah-ketika-hujan

Aku terus merasa basah dan dingin. Rintik-rintik air itu membuat orang-orang bergegas turun dari kereta dan segera mencari tempat berteduh, beruntung aku telah menempati salah satu bangku hingga tidak perlu repot berebut dengan mereka, atau berharap ada seorang laki-laki yang bersedia memberikan tempat duduk untukku agar disebut sebagai “gentleman.” Sudah lebih dari satu jam aku menunggu, kereta yang akan mengangkutku menuju Yogyakarta dijadwalkan akan berangkat sekitar pukul 11.30, masih satu jam lagi dari sekarang. Memang aku datang terlalu awal, tapi bagi penduduk Jakarta yang sudah paham dengan ketidakpastian yang dijanjikan lalu lintas kota ini, tentu tidak ada salahnya untuk mengantisipasi keterlambatan yang bisa tiba-tiba terjadi karena macet yang entah apa sebab dan penyelesaiannya.

Rintik hujan itu membuatku semakin merasa basah dan kedinginan. Aku terus menunggu sendirian. Beberapa orang terus bergantian mengisi bangku-bangku kosong di dekatku, kebanyakan orang hanya duduk menunggu sambil mendengarkan musik dari headset. Sebagian lain ada yang sedikit menyapa dan mengajakku bercanda. Akhirnya mereka pun kembali pergi, meninggalkanku dalam kekosongan lagi. Rintik itu kini menjadi hujan yang sangat deras, sebenarnya tidak ada sedikit pun dari bagian tubuhku yang terguyur hujan. Tapi aku merasa lebih basah dan dingin daripada orang-orang yang basah kuyup setelah menerobos hujan itu. Aku bahkan telah merasakannya sebelum langit mulai sendu, tepatnya perasaan itulah yang membuatku memutuskan kesini. Rasa dingin itu menusuk lebih dalam daripada sebatas pori-pori atau kulit ari. Lebih jauh ke dalam organ yang paling lembut dalam tubuhku, hati. Namun uniknya perasaan itu justru menghasilkan rasa hangat di mata dan pipiku. Kaca mataku mulai berembun.

Seseorang disampingku kemudian pergi lagi meninggalkan sebuah tempat kosong, namun tak lama kemudian kembali ada orang yang mengisi. Sebenarnya aku tidak terlalu peduli, sejak tadi entah berapa orang telah datang dan pergi begitu saja di sekitarku. Bukankah kedatangan dan kepergian telah menjadi siklus kehidupan yang terus berjalan, kebanyakan orang datang dan pergi begitu saja. Sebagian lagi pergi dengan meninggalkan kenangan dan rasa ngilu yang susah disembuhkan. Aku lebih sibuk mengurusi kekosonganku sendiri, mencoba mencari obat dari rasa ngilu yang dilahirkan sebuah perpisahan.

“Mau pergi kemana, Mba?” Tiba-tiba sebuah suara menyadarkanku.

“Ehh aku mau ke Yogyakarta, Pak.” Aku memalingkan wajah menuju sumber suara. Laki-laki paruh baya dengan sebuah tas gendong. Gayanya sangat santai, tidak seperti bapak-bapak pada umumnya. Hanya memakai kaos dan celana pendek. Tidak seperti orang-orang yang duduk di bangku itu sebelumnya, dia cukup menarik perhatianku. Pak ardi adalah orang yang sangat mengasyikkan. Dia lebih banyak bercerita, sedangkan aku dengan takzim mendengarkan semua celotehan lucunya. Aku sedikit melupakan alasanku berada di tempat ini. Lebih menyenangkannya lagi ternyata dia akan ke Surabaya menaiki kereta yang sama denganku, bahkan tempat duduknya tidak jauh dariku. Hanya terhalang satu nomor saja. Aku bersyukur karena sepertinya perjalanan yang hampir memakan waktu setengah hari itu tidak akan membuatku bosan.

Jam tanganku telah menunjukkan pukul 11.15, kereta sudah memasuki stasiun. Aku, Pak Ardi dan penumpang lain mulai menaiki kereta mencari nomor bangku masing-masing. Tempat dudukku dan Pak Ardi hanya terpisah satu bangku, tapi beruntung orang disampingku tidak keberatan diminta bertukar tempat oleh Pak Ardi. Sepertinya bukan hanya aku yang terhibur olehnya selama perjalanan. Pak Ardi orang yang sangat supel, wajar saja berkat dia tidak butuh waktu lama dia telah dekat dengan beberapa orang di gerbong dan bercanda bersama. Aku cukup menikmati perjalanan ini, tapi sepi masih terus menyelinap pada ruang-ruang kosong. Saat kami mulai kelelahan karena terlalu banyak tertawa, satu persatu mulai mengambil posisi ternyaman untuk beristirahat. Suasana menjadi hening. Aku mengarahkan pandanganku jauh ke luar jendela. Hujan deras itu kini kembali menjadi rintik-rintik kecil, menyisakan titik-titik air di permukaan luar kaca jendela, membuat aku sulit melihat dengan jelas pemandangan di luar sana.

“Kamu suka hujan?” Tinggal aku dan Pak Ardi yang masih terjaga.

“Tidak. Ia membuat kita sulit untuk bergerak, hanya memberikan kita dua pilihan. Menunggu atau basah dan kedinginan.”

“Hmm begitu ya. Saya justru sangat menyukai hujan.” Aku bingung kenapa ada orang yang menyukai hal yang bisa membuatnya basah kuyup, kemudian menggigil kedinginan.

“Apakah kamu tahu Zahi, bahwa hujan tidak pernah turun tanpa tujuan?” Aku mulai tertarik dengan pembicaraan ini.

“Hujan turun untuk meringankan beban langit dan menyembuhkan luka bumi. Kamu bisa melihat ia jatuh saat menyadari langit mulai lelah menopang bulir-bulir embun yang dikandung dalam awan. Kamu pasti bisa membayangkan jika bumi tidak pernah ditimpa hujan. Sawah-sawah kekeringan, tumbuhan dan hewan mati dan manusia juga yang akan merasakan deritanya. Sehingga ia turun menyejukkan lahan-lahan tandus, menghidupkan jiwa-jiwa yang haus.

“Saat hujan turun, kamu juga bisa berteduh. Untuk sekedar menunggu ia reda dan berganti warna-warni pelangi, kau juga bisa menyiapkan payung atau mengenakan jas hujan untuk menerjangnya. Terkadang kamu bahkan tidak harus sendiri, seseorang bisa saja akan menemanimu berbincang sambil menunggu hujan reda, atau menawarkan payungnya untuk kalian kenakan melewati hujan berdua. Semua sah-sah saja, yang jelas kamu harus percaya. Hujan tidak selamanya basah dan dingin, akhirnya ia akan digantikan warna-warni dan kehangatan.

“Disadari atau tidak. Hujan memberikan banyak pelajaran pada kita, Zahi.” Aku belum mengerti kemana arah pembicaraan Pak Ardi. Aku mengeryitkan dahi berharap mendapatkan penjelasan.

“Jika diibaratkan hujan sebagai air mata, maka jangan pernah ragu untuk menangis. Karena ia jatuh untuk meringankan beban matamu, dan menerpa hatimu untuk menyembuhkan deritanya lalu membuatmu menjadi lebih kuat dari sebelumnya. Menangislah sejenak dan percayalah suatu saat senyuman yang akan kau temui. Menunggu atau berjalan, menghadapinya sendiri atau berdua semua itu pilihan hidupmu. Tapi ingat kau hanya bisa menunggu atau maju, jangan pernah memutuskan kembali. Karena kesedihan sangat tidak pantas untuk dijalani lagi.”

***

Siang itu adalah hari yang cukup melelahkan. Malam sebelumnya aku bergadang dalam kegiatan laporan pertanggungjawaban BEM kampus karena telah habis masa bakti selama setahun. Dan sialnya belum mataku dimanjakan untuk beristirahan, paginya aku ada jadwal mengajar privat, sangat melelahkan. Inilah saat dimana the power of “jangan lupa makan” itu sangat dibutuhkan, sebuah perhatian kecil tapi membuahkan semangat yang tak terhingga, apalagi dari seseorang yang sangat dicinta. Tapi aku tidak bisa berharap banyak, Rico yang mempunyai segudang kesibukkan sepertiku membuat kami sama-sama mengerti dengan keadaan masing-masing, bahwa semua kesibukkan itu meminimalisir komunikasi dan intensitas pertemuan diantara kami.

Tapi kita memang tidak bisa selalu berprasangka baik terhadap cinta. Sebab cinta bisa membutakan mata dari melihat kepalsuan dan kepedihan. Kesibukkan tentu tidak bisa dijadikan alasan untuk tidak saling memperhatikan, karena tidak ada kegiatan yang paling mengasyikkan bagi seorang pencinta selain bercengkrama bersama orang yang dikasihinya. Kesibukkan hanya menjadi alat untuk menghalalkan pengabaiannya terhadapmu. Tapi aku percaya jika Rico benar-benar sibuk sehingga jarang mempunyai kesempatan untuk menghubungiku. Namun kesibukkannya bukanlah persoalan kuliah, organisasi dan sebagainya. Ia sibuk untuk mengurusi gadis lain. Aku menyaksikan tangannya menggenggam erat tangan seorang gadis di sebuah cafe saat aku memesan kopi untuk sedikit menghilangkan kantukku. Sepertinya pemandangan itu lebih ampuh membuat mataku melek daripada segelas kopi pahit. Tidak banyak hal yang kami perbincangkan setelah kejadian tersebut, karena apapun alasannya pengkhianatan adalah kesalahan tak terampuni dalam sebuah hubungan. Kami memutuskan berpisah. Aku akhirnya melarikan diri dan berlibur ke Yogya, Itulah yang kini membawaku bertemu dengan Pak Ardi.

“Hujan akan menghapus jejak-jejak masa lalumu, tugasmu yaitu jangan membuat hujan bekerja dua kali untuk menghapus jejak yang sama.” Sesungging senyuman menyempurnakan petuah Pak Ardi untuk nasib buruk yang sedang menimpaku.

“Menurut bapak apa yang lebih baik kita lakukan saat hujan? Menunggu hujan reda, atau terus berjalan walaupun basah kuyup dan kedinginan?”

“Kan sudah saya bilang mau menunggu atau berjalan, semua sah-sah saja. Sekarang mungkin kamu hanya menunggu, di kemudian hari kamu bisa saja memutuskan untuk mencoba menerjangnya. Karena hujan tidak hanya datang sekali, dan setiap hujan akan mempunyai ceritanya sendiri.”

“Jangan khawatir, Zahi. Suatu hari akan ada orang yang melindungimu dari basah dan menghangatkanmu dari dinginnya hujan. Dia tidak akan membiarkanmu terlalu lama menunggu dan menghadapi hujan sendirian, dialah cinta sejatimu.” Percakapan tersebut mengakhiri pertemuan kami, kereta kini telah sampai di kota tujuanku Yogyakarta. Kereta terus melaju mengantarkan Pak Ardi sampai tujuan akhir kota Surabaya. Langit sepertinya masih mempunyai beban yang belum selesai dijatuhkan. Hujan kembali turun dengan volume lebih deras dari sebelumnya. Lumayan lama aku menunggu hujan reda di stasiun, namun langit sepertinya belum memperlihatkan tanda-tanda membaik. Ingin rasanya aku menerobos saja, namun aku mengurungkan niatku karena aku tidak membawa payung ataupun jas hujan untuk melindungi tubuh dan barang-barang bawaanku.

Aku terus memperhatikan seorang pria di depanku. Dia beberapa kali bolak-balik masuk dan keluar stasiun untuk mengantarkan beberapa orang yang meminta tolong meminta tolong diantarkan menuju taksi dengan payung yang ia punya Mungkin dia adalah ojeg payung dadakan yang memanfaatkan momen hujan lebat ini untuk mengais rezeki dari orang-orang yang tak sempat membawa payung untuk berpergian. Tiba-tiba dia berjalan mendekatiku, menyunggingkan sedikit senyuman. Sepasang lesung pipit menjorok di kedua pipinya. Manis sekali.

“Mau saya antar ke taksi, atau mbak sedang menunggu jemputan kah?” Sebenarnya tidak ada orang yang akan menjemputku, bahkan aku lupa mengabari Ani bahwa aku akan datang kesini. Aku pun menyebutkan nama daerah tujuanku, kosan Ani.

“Wahh kalau begitu kita searah mbak. Kalau memang tidak ada yang menjemput, mbak bisa bareng aku aja. Kebetulan sebentar lagi temanku datang menjemput.” Ternyata dia bukanlah seorang ojeg payung yang memanfaatkan hujan untuk mengais rezeki. Ahh harusnya aku sudah bisa menduganya, dengan pakaian serapih itu mana mungkin dia berprofesi sebagai ojeg payung. Aku jadi malu sendiri dengan dugaan bodohku itu. Aku berpikir sejenak untuk menimbang-nimbang tawarannya, dengan ragu-ragu aku menganggukkan kepala tanda setuju. Tidak lama kemudian teman Alva pun datang. Dia membuka payungnya dan kami pun berjalan berdua melewati bulir-bulir hujan, dengan cekatan dia mengambil alih tugas mengangkat koperku sampai ke bagasi mobil. Dan hal manis itu tidak habis sampai disini.

***

Hujan tidak hanya datang sekali, ia bisa datang berulang kali membawa kisah dan juga pelajaran yang berbeda-beda. Ini adalah musim hujan kedua, aku berada di stasiun yang sama dan duduk di bangku yang sama. Disampingku kini bukanlah orang duduk sambil mendengarkan headset, lalu pergi saat keretanya tiba. Laki-laki itu adalah orang yang sangat aku kenal, seseorang yang melindungiku dari basah dan menghangatkanku dari dinginnya hujan. Dialah laki-laki yang berhati lembut, tidak tega membiarkanku bosan menunggu sendirian.

Menghadapi hujan tidak harus sendiri, seseorang bisa menemani kita untuk menghadapinya berdua. Namun terkadang seseorang tidak akan menemani kita sampai muncul pelangi, dia hanya sekedar mengantar kita pada musim hujan berikutnya. Kita pun kembali diberikan pilihan untuk menunggu atau menghadapinya sendirian, lagi. Laki-laki itu masih berada di sampingku, namun diantara kami tidak banyak yang dapat kami katakan. perbincangan kami sebelumnya seperti membungkan semua kata-kata yang sebenarnya berkecamuk dalam dada kami masing-masing, sehingga tidak ada lagi yang bisa dibahas, dan sebaiknya memang tidak boleh ada. Karena tidak ada lagi percakapan yang diperbolehkan saat cinta itu sendiri justru dilarang. Aku pikir cukup Siti Nurbaya saja yang tidak bisa memperjuangkan cintanya, kenyataannya kini masih banyak orang tua yang tega mengambil alih cinta anak-anak mereka.

Karena terkadang cinta bukan hanya soal aku dan kamu, tapi juga soal mereka yang dengan kasar terlalu mengambil bagian lebih besar.

Waktu kini kembali mengirimku ke musim hujan yang membuatku merasa dingin dan basah. Ini adalah musim hujan kedua, kembali menjadi air mata yang meringankan beban di kedua bola mata dan penyejuk sesak di dalam dada. Rasa sesak yang lahir dari rahim perpisahan, lebih perih bahkan dari sebuah penghianatan. Hujan selalu memberikan kisah yang berbeda. Di musim hujan kedua ini aku memutuskan untuk menunggu sampai hujan benar-benar reda sendirian. Karena saat kita ditemani orang yang salah, justru kita hanya akan menemukan hujan yang lebih deras lagi.

Pengumuman kedatangan kereta membuka mulut kami untuk mengucapkan percakapan yang mungkin akan menjadi hal terakhir yang bisa kami ucapkan, selamat tinggal. Kereta mulai berjalan, Alvi melongokkan kepalanya menatap sendu ke arahku yang masih berdiri di peron stasiun, kedua mata dan pipiku mulai terasa hangat. Kereta terus berjalan semakin jauh dan semakin samar. Kaca mataku telah berembun dan basah.

***

TAMAT
(Cerpen ini berhasil lolos 60 besar dalam event yang diselenggarakan oleh Penerbit Bintang Pelangi, dan menjadi salah satu cerpen yang dibukukan dalam antologi cerpen yang berjudul “Denting Melodi Musim”.

Related Articles

About author View all posts Author website

Sarah Hajar Mahmudah

Sarah Hajar Mahmudah

International Relation Student-UIN Jakarta
Suka ngoleksi buku dan nulis
kalau lagi pusing jadi suka jalan-jalan