Bersahabat Mimpi

13920618_1358930310801007_8110603592671900700_n

PAGI ini aku tak bisa menikmati keindahan subuh khas daerah dataran tinggi yang biasanya menyejukkan dan menentramkan. Seberapa sejuknya pun udara pagi ini, sepertinya otakku tak bisa menyerap oksigen-oksigen menyegarkan tersebut, sejauh apapun aku berusaha perasaanku tak bisa berubah. Kecewa. Setelah menjalankan dua rakaat subuh ini, aku kembali menatap tulisan-tulisan yang terdapat di dinding kamarku. Coretan-coretan mimpi.

Aku memang mempunyai kebiasaan untuk menuliskan setiap hal yang aku inginkan. Semua mimpi itu aku tempel di dinding kamar agar setiap saat aku bisa menatap mimpiku dan terus berusaha sampai aku bisa mencapai mimpi-mimpiku itu. Bersyukur dari coretan tersebut telah banyak yang aku capai. Saat SMA aku bermimpi untuk bisa kuliah di jurusan yang sangat aku senangi, walaupun bisa dikatakan jurusan yang aku pilih yaitu Matematika adalah jurusan yang dianggap cukup bergengsi, apalagi bagi siswa SMA dari daerah kecil sepertiku. Tapi dengan usaha yang gigih akupun bisa membuktikan bahwa aku bisa meraih mimpiku tersebut. Aku berhasil masuk jurusan tersebut di salah satu universitas terkenal di Bandung. Tidak hanya itu, coretan-coretan itu pula yang terus mengantarku meraih mimpi-mimpiku selanjutnya. Aku lulus kuliah tepat waktu, bahkan dengan nilai yang aku rasa sangat memuaskan.

Tentu saja tulisan-tulisan tersebut bukanlah buku takdir, yang ketika apapun aku tulis disana akan menjadi kenyataan. Dadaku menjadi sesak ketika menatap satu gambar yang tertempel tepat di depanku, gambar menara Eifell. Aku masih ingat e-mail yang baru aku baca semalam dari lembaga yang akan memberikanku beasiswa untuk melanjutkan kuliah masterku. Setelah lulus sebagai sarjana aku langsung mendaftarkan beasiswa melanjutkan S-2 ke Perancis. Semua persyaratan telah aku siapkan, bahkan aku sampai mengikuti kursus bahasa Perancis untuk semakin mematangkan diri mewujudkan mimpi tersebut. Namun tidak semua yang kita inginkan akan menjadi kenyataan, dengan sangat mengejutkan lembaga tersebut mengirimkan e-mail padaku bahwa mereka sekarang tidak bisa memberikan beasiswa tersebut dikarenakan adanya kendala dalam anggaran mereka. Mereka tidak bisa memastikan kapan kembali membuka beasiswa ke Perancis tersebut. Aku tidak bisa habis pikir dengan alasan mereka membatalkan beasiswaku. Menurutku alasan mereka karena anggaran adalah alasan yang sangat klise, tidak masuk akal. Kenapa bisa lembaga sebesar itu bisa kehabisan anggaran ? Aku terus menggerutu.

Lebih parahnya aku rela menolak semua panggilan kerja demi mendapatkan beasiswa tersebut, tawaran kerja hilang sekarang beasiswa pun melayang. Jadilah aku sekarang seorang sarjana pengangguran.

“Kamu itu kan sarjana, Di. Masa pulang kampung malah jadi pengangguran saja ? Apa kata tetangga, jauh-jauh Bapak kuliahkan kamu ke kota ?” kata-kata Bapak yang terus menyesalkan keadaanku saat ini, apalagi ketika dia tahu bahwa aku menolak banyak tawaran kerja untuk beasiswa yang sekarang tidak ada hasilnya. Aku semakin terpuruk.

***

Siang ini aku bermaksud untuk menemui teman SMA ku Fahmi. Aku dan Fahmi sudah bersahabat sejak SMA, walaupun kita kuliah di universitas yang berbeda, hubungan persahabatanku dengannya terus berjalan dengan baik sampai sekarang. Fahmi sejak dulu telah menjadi partner yang sangat membantuku dalam berbagai hal, bahkan dia bisa menjadi partnerku untuk mendengarkan semua keluh kesahku termasuk tentang kegagalanku mendapatkan beasiswa.

“Apa tujuanmu kuliah ke luar negeri, Di? Kau pernah berpikir kenapa banyak lulusan luar negeri yang tidak kembali ke Indonesia?” tanya Fahmi menanggapi curahan hatiku.

“Aku ingin mendapatkan ilmu dan pengalaman yang lebih, Mi. Menurutku pemerintah kita kurang mengapresiasi mereka, wajar saja jika mereka lebih betah untuk bekerja dan berkarya di luar negeri.” jawabku dengan yakin.

“Apresiasi macam apa, Di ? Jika orientasi mereka adalah gajih yang tinggi, harus berapa banyak uang negara yang dihabiskan untuk menggajih lulusan-lulusan luar negeri itu? Negara kita saja masih banyak hutang. Sekarang banyak mahasiswa kita di luar negeri yang hanya menjadi turis, bukan mahasiswa, Di. Aku harap kamu tidak begitu.”

Kalimat Fahmi itu seperti menamparku, aku kembali merenungkan sebenarnya apa tujuanku untuk kuliah di luar negeri ? Apakah benar-benar untuk mencari ilmu dan memanfaatkannya demi memajukan negeri ini, atau hanya untuk gengsi? Parahnya lagi jika tujuanku kuliah hanya untuk menjadi turis, menikmati keindahan negara lain dan membandingkannya dengan negara sendiri. Hanya membandingkan, tanpa berinisiatif untuk menerapkan kelebihan di negeri orang untuk kemudian digunakan untuk membangun Indonesia lebih baik.

“Oya kamu bisa bantu aku nggak, Di ? Aku butuh teman untuk menjalankan programku di desa ini. Daripada kamu nggak ada kerjaan kan.”

“Memang program apa, Mi ?” tanyaku serius.

“Aku ingin membuat rumah belajar untuk anak-anak di desa ini. Aku berharap pendidikan di desa ini bisa berkembang lebih baik, Di.”

Program yang dibuat oleh Fahmi menurutku sangat bagus, karena aku juga bisa merasakan jika pendidikan di desa ini kurang diperhatikan. Seperti halnya di daerah-daerah kecil lainnya, disini masih banyak orangtua yang lebih mengutamakan anaknya untuk membantu pekerjaan mereka dari pada pergi ke sekolah. Tidak hanya itu bahkan bagi anak-anak perempuan, mereka banyak yang menikah di usia belia. Orangtua mereka beranggapan jika anak perempuan tidak perlu pendidikan yang tinggi, karena tugas mereka hanya mengurus rumah dan anak saja. Justru dengan menikahkan anak gadis mereka, para orangtua merasa itu dapat membantu meringankan beban kehidupan mereka.

Tidak hanya itu, aku pun merasa jika tenaga pendidik dan fasilitas pendidikan di desaku masih kurang, bahkan tertinggal sangat jauh dari kota-kota besar. Jarang sekali ada guru yang berpotensi dan lulusan universitas-universitas favorit bersedia ditempatkan mengajar di daerah-daerah terpencil sepertiku. Alhasil semuanya terpusat di kota-kota besar, sedangkan di desa ini semuanya serba terbatas dan seadanya. Akupun tidak setuju dengan adanya UN, padahal pendidikan di kota dan di desa-desa terpencil seperti disini sangat jauh berbeda. Akupun tidak ragu untuk menerima tawaran Fahmi.

“Oke aku mau, Mi. Kapan kita mulai ?” tanyaku dengan penuh semangat.

“Lebih cepat lebih baik, Di. Maka dari itu sekarang aku meminta bantuanmu untuk merencanakan langkah-langkah dalam menjalankan programku itu, Di. Ehh, program kita maksudnya.” kita pun langsung tertawa bersama.

Aku dan Fahmi pun langsung merencanakan langkah-langkah menjalankan program tersebut, hal-hal yang dibutuhkan, sampai bagaimana kita mendapatkan dana untuk bisa membangun rumah belajar. Fahmi sejak dulu memang terkenal sebagai anak yang sangat aktif dan kreatif. Dia sepertinya tak pernah kehabisan ide, dia selalu menciptakan hal-hal yang baru. Tidak hanya baru, tapi sangat bermanfaat. Saat aktif sebagai pengurus OSIS pun, banyak kegiatan yang dia programkan, dan hasilnya meriah. Maka tidak heran jika dia selalu menjadi partner terbaikku sejak SMA. Meskipun dia sangat pintar, tapi dia adalah teman yang sangat baik. Setelah kami selesai merencanakan semua langkah yang akan kita lakukan untuk membuat rumah belajar, Fahmi kembali menceritakan programnya jauh ke depan. Mimpi besarnya.

“Adi, aku bermimpi suatu saat nanti aku bisa membangun universitas di daerah kita. Aku berharap semakin banyak anak-anak disini yang bisa melanjutkan kuliah, tidak harus jauh-jauh ke kota.” ujar Fahmi sambil menatap langit.

“Wah idemu hebat, Mi. Jika mimpimu itu bisa terwujud aku yakin akan makin banyak orang pintar di desa ini, desa ini pasti akan semakin maju. Bahkan negara ini!” aku dengan penuh semangat mendukung mimpi besar sahabatku itu.

“Apa kamu mau jadi partnerku lagi, Di? Aku berharap bisa mewujudkan mimpi besarku itu bersamamu, Di.” pandangan Fahmi langsung mengarah padaku.

Aku langsung tersentak mendengar pertanyaan sekaligus pernyataan dari sahabatku itu. Darinya aku mendapat pelajaran jika sebuah persahabatan akan semakin bernilai jika dalam persahabatan tersebut kita dapat saling bekerja sama untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Aku semakin bangga mempunyai sahabat seperti Fahmi. Aku pun dengan sangat yakin menganggukkan kepalaku sebagai isyarat bahwa aku bersedia mewujudkan mimpi-mimpi bersama.

“Sepertimu, akupun ingin melanjutkan kuliah setinggi-tingginya, Di. Bahkan sampai ke luar negeri. Tapi aku bertekad sejauh apapun kakiku melangkah untuk mencari ilmu, maka aku akan kembali ke tanahku. Mengaplikasikan ilmuku untuk membangun tanah kelahiranku, Di.” Fahmi memang selalu mempunyai pemikiran yang sangat bijak dan dewasa.

“Suatu saat nanti kita akan kuliah ke luar negeri bersama, dan akan kembali lagi mengabdi  disini bersama, Mi.” ucapku diikuti hening dari kami berdua.

“Jangan hanya mimpi, Di. Ayo kita segera mengerjakan rumah belajar kita.” Fahmi tiba-tiba telah berdiri di depanku.

“Ayo, laksanakan.” aku pun langsung berdiri mengikuti Fahmi. Kami langsung menyiapkan berbagai hal untuk membangun rumah belajar.

Dengan pertemuan dengan Fahmi ini, aku tidak terlalu terpuruk dengan kegagalanku mendapat beasiswa. Aku masih akan menempatkannya dalam daftar mimpi-mimpiku, namun kini kuliah ke perancis bukan hanya mimpiku saja tapi mimpiku bersama Fahmi. Bahkan kini aku mempunyai satu mimpi baru yang akan aku tambahkan dalam coretan-coretan mimpiku. “Membangun universitas di daerahku, bersama sahabatku Fahmi.”

TAMAT

Related Articles

About author View all posts Author website

Sarah Hajar Mahmudah

Sarah Hajar Mahmudah

International Relation Student-UIN Jakarta
Suka ngoleksi buku dan nulis
kalau lagi pusing jadi suka jalan-jalan