Mentalnya Revolusi Mental di Perguruan Tinggi

Mental

Mental

Oleh: Abdus Somad (Lembaga Pers Universitas Ahmad Dahlan [UAD])

Perguruan tinggi merupakan tempatnya kaum intelektual yang mempunyai tanggung jawab moral untuk mewujudkan bangsa yang sejahtera, adil dan bermartabat. Selain itu perguruan tinggi pula sebagai ruang yang bebas melakukan kajian ataupun yang itu berkaitan dengan hal-hal bernuansa inteletual.

Tidak hanya sekedar melakukan perkuliahan yang kemudian mengarahkan mahasiswa rajin belajar agar mendapat nilai yang bagus, ataupun memperdagangkan (jual-beli) perguruan tinggi dengan mencari keuntungan yang sebesar-besarnya yang manfaatnya untuk rakyat malah tidak ada.

Bukan, bukan itu yang menjadi esensial dari perguruan tinggi, tanggung jawabnya dan orientasi bisa dilihat dari Tri Dharma perguruan tinggi. Coba saksikan sekarang, kira-kira apa yang dirasakan masyarakat desa dengan adanya perguruan tinggi di Indonesia, apa perannya sudah berdampak khusunya terkait dengan pembangunan, kesadaran politik dan mengimplementasikan ilmu pengetahuan.

Bagi saya, perguruan tinggi hanya untuk memeras rakyat kecil, rakyat dibohongi atas nama intelektualitas bangsa, kesejahteraan dan keadilan, sampai pada jargon-jargon perguruan tinggi yang sebenanarnya tidak ada korelasinya dengan kehidupan rakyat.

Kata kata tersebut menyihir rakyat dan harus tunduk, misalkan saja perguruan tinggi yang ingin melakukan pembangunan gedung mewah bertingkat dan berkelas internasional, yang dikorbankan adalah rakyat, membeli tanah mereka dengan harga yang semurah-murahnya kemudian biaya kuliah perguruan tinggi semakin mahal yang dirugikan rakyat lagi. Lantas, peran perguruan tinggi yang esensial saat ini seperti apa?

Bahkan ada pula perguruan tinggi yang tidak memperhatikan nasib rakyat kecil, kita bisa lihat hal itu pada fenomena pertambangan. Penambangan itu jelas-jelas merugikan rakyat, namun banyak perguruan tinggi yang justru mendukung.

Kekayaan negara di keruk habis, kebebasan dibungkam, sikap perguruan tinggi diam saja, seolah-olah itu bukan sebuah masalah yang besar. Pada akhirnya muncul paradigma baru yakni perguruan tinggi memisahkan permasalahan rakyat dengan masalah pendidikan. Ini adalah gambaran kekonyolon perguruan tinggi dalam mengambil peran.

Romo Mangun dalam melihat dunia pendidikan mempertanyakan kepada kita dan orang-orang yang punya kuasa akan pedidikan tinggi, bagaimana kebijakan politik, sosial dan budaya negeri ini mempunyai mekanisme, agar pengetahuan, keterampilan dan kebiasaan berakumulasi untuk mengeksploitasi mayoritas rakyat kecil yang hanya berakibat kepincangan-kepincangan negeri? Kata Romo sapaan akrab beliau.

Pertanyaan tersebut seharusnya menjadi modal Menteri Riset dan Teknologi (Menristek) dalam melihat peran perguruan tinggi yang kemudian dapat mempertimbangkan akan dibawa ke mana pendidikan tinggi di negeri ini. Data yang Kementerian Riset dan Teknologi Dikti rilis pada tanggal 15 agustus 2015 terkait dengan klasifikasi perguruan tinggi tercatat ada 3320 perguruan tinggi swasta maupun negeri di Indonesia.

Luar biasa betul jumlah perguruan tinggi di Indonesia, namun apakah jumlah perguruan tinggi tersebut sudah sebanding perannya dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat, ataukah sudah sebanding dengan mencerdasakan bangsa? Silahkan orang- orang yang duduk di Kementerian menjawab sendiri pertanyaan tersebut.

Sampai saat ini belum ada sebuah raport peran signifikan perguruan tinggi terhadap rakyat secara detail, yang ada hanyalah laporan program Perguruan tinggi yang beorientasi pada proyek perguruan tinggi yang akan datang.

Sistem pendidikan harus melihat posisi di pihak mana? kata Romo Mangun dalam ulasannya pada buku Impian dari Yogyakarta. Jangan sampai perguruan ditinggi dinodai oleh tangan-tangan yang rakus kemudian perlahan menindas rakyat.

Pendidikan itu sangat penting, apalagi ini bicara soal pendidikan tinggi khsusunya perguruan tinggi. jangan sepelekan persoalan pendidikan tinggi, sebab jantungnya pendidikan itu ada di pendidikan tinggi, jika sudah rusak, rusaklah semua sistem yang ada di sekelilingnya.

Si Perguruan Tinggi yang Tak Bermartabat.

Perguruan tinggi sebagai ruang untuk berkreasi dan berinovasi harus dapat melihat posisinya kembali, jangan menjadikan perguruan tinggi untuk mengkebiri rakyat. Sudah banyak kita saksikan bagaimana perguruan tinggi melakukan tindakan-tindakan yang tidak pantas.

Perguruan tinggi itu adalah representasi atas martabat bangsa, jika perguruan tinggi saja sudah buruk, maka harga diri bangsa juga buruk. Kampus itu kan tempatnya berkumpul semua ras, suku, agama, sampai arah politik, ideologi serta pikiran- pikiran manusia yang lainnya. keberagaman itulah yang mesti dilihat sebagai sebuah harkat dan martabat bangsa bukan dijadikan sebagai sebuah beban ataupun sebuah permasalahan.

Kita tengok saja akhir-akhir ini banyak kasus yang terjadi. Satu tahun kebelakang misalnya, pengekangan kebebasan berekspresi, hampir semua kampus melakukan upaya pembungkaman. Ada mahasiswa diskusi tragedi 65’ di bubarkan, diskusi LBGT yang menjadi wacana kekinian di negeri ini di bubarkan, ada yang yang melakukan diskusi terkait realitas sosial di Papua di bubarkan, bedah film Samin vs Semen dibubarkan, sampai pada penemuan pengetahuan baru akan kasus 65 di salatiga dibreidel.

Lha iki zaman opo to yo, kenapa semua yang bernuasa intelektual dan pandangan akan realitas bangsa harus dilarang, emang mahasiswa yang mendiskusikan hal tersebut akan membawa ideologi komunisme dan radikalisme, yang kemudian menjadi monster penghancur bangsa. Nggak to. Itu hanya upaya membuka tabir sejarah, mendiskusikan apa yang mahasiswa tidak tahu dan berupaya mengembangkan ilmu pengetahuan, hanya itu saja.

Ini menjadi catatan penting, sebab para Rektor mempunyai peran yang besar. Jika saja tindakan- tindakan yang tidak pantas tersebut dilakukan kembali, Menristek perlu tegaskan rektor. Setidaknya para rektor itu sadar akan peran pendidikan tinggi bagi bangsa, tegaskan pula kepada rektor agar dapat menjamin kebebasan berekspresi dan kebebasan akademik di kampus karena itu adalah bagian dari demokratisasi kampus.

Jangan hanya berorientasi pada proyek, kemudian berlomba-lomba mencari mahasiswa sebanyak- banyaknya, membangun gedung setingi- tinggi sampai menbuat kebijakan yang merugikan mahasiswa.

Selain itu, ada lagi kasus yang lain, banyak di kampus-kampus yang sangat megah dengan arsitektur gedung yang unik, bisa dibilang butuh biaya besar untuk membangunnya, ternyata malah ada oknum birokrasi kampus yang melakukan tindakan Korupsi. Ini tidak baik, kampus itu mengajarkan supaya anti terhadap korupsi, bukan malah sebaliknya.

Yang lebih mengherankan lagi pelakuknya adalah petinggi kampus dengan embel- embel gelar yang sangat terhomat. Hal Itu bisa dilihat di kampus besar yang tidak perlu saya sebutkan kampusnya. Media juga sudah memberitakan. Kalau KPK bisa memprioritaskan kerjanya pada perguruan tinggi, mungkin saja oknum-oknum yang haus akan uang bisa ketahuan lagi.

Kemudian yang baru-baru ini muncul di media nasional, seorang dosen yang tertangkap tangan mengkonsumsi narkoba di rumah temannya sendiri. Sebelumnya ada juga guru besar yang melakukan hal yang sama. Hal ini merupakan sebuah tamparan yang keras bagi perguruan tinggi, oknum birokrasinya banyak yang terkena kasus. Pikirkan dulu deh intenrnal kalian, jangan sok membubarkan acara yang bernuansa intelektual, basmi dulu dosen-dosen yang bermasalah.

Apakah ini adalah sebuah keberhasilan revolusi mental di perguruan tinggi, ataukah ini adalah kegagalan revolusi mental? silahkan pahami sendiri. Setidaknya permasalahan perguruan tinggi jangan hanya dilihat dari aspek keberhasilan kampus dengan segudang prestasinya, akan tetapi lihatlah dari sudut pandang fungsi dan peran perguruan tinggi untuk negeri.

Martabat perguruan tinggi perlu di junjung tinggi, jangan dihinakan dengan melakukan tindakan-tindakan pengekangan kebebasan berekspresi, oknum brokrasi yang korupsi, sampai menggunaka narkotika. Kembalikanlah harkat dan martabat kampus. sebab kampus didirikan bukan untuk hal-hal yang demikian.

Revolusi mental boleh saja menjadi acuan dan kerangka besar dalam mewujudkan bangsa yang berkarakter dan bermartabat. Dalam situs revolusimental.go.id yang katanya mengahabiskan anggaran bermilyar-milyar untuk membuatnya dijelaskan bahwa revolusi mental bukan sebuah pilihan, akan tetapi sebuah keharusan agar bangsa kita bisa berdiri sejajar dengan bangsa yang lain di dunia.

Namun perlu diingat, revolusi mental itu bisa saja mental di kalangan perguruan tinggi. Karena perguruan tinggi bisa bersikap semaunya sendiri dan punya kekuatan yang besar untuk mementalkan revolusi mental.

 

Forum Rektor Jangan Gagal Mental

Pada tanggal 29-31 Januari para Rektor dalam wadah Forum Rektor Indonesia (FRI) menggelar sebuah forum akbar yang bertepat di UNY, agenda pembahasan-pun sangat menarik, tema besar akhirnya menjerumus ke revolusi mental yang diimplementasikan dalam beberapa point pembahasan, kemaritiman, wacana radikalisme, narkoba, sampai pada korupsi.

Hal tersebut sangat menarik untuk di simak. Kalau bisa memang kita harus meminta hasil pembahasannya. Karena tanggung jawab perguruan tinggi khusunya para pimpinan kampus itu kepada rakyat Indonesia. Maka kewajiban perguruan tinggi adalah menyampaikan hasil konsensus yang telah di sepakati pada forum tersebut.

Kalau boleh mengsulkan posting lah hasil forum rektor, masyarakat perlu tahu akan apa yang menjadi pembahasan para rektor-rektor yang ganteng dan cantik-cantik di ruang yang mewah dengan fasilitas yang serba megah. Rakyat berhak tahu akan pembahasan kalian, rakyat juga perlu tahu akan dibawa kemana arah perguruan tinggi selanjutnya.

Jangan hanya disimpan dan diketahui oleh segelintir pejabat yang katanya paling hebat. Para dosen, mahasiswa, pekerja di kampus, pembersih rumput, pengepel lantai sampai pembawa minuman kepada para pejebat kampus berhak tahu akan pembahasan yang terjadi. Mereka pastinya ingin melihat pendidikan tinggi kedepannya akan dibawa ke arah mana.

Jika tidak di publish, maka bisa dikatakan ada indikasi para rektorat dan ketua FRI khusunya takut dikritik, atau jangan- jangan memang perguruan tinggi sudah di desain agar yang tahu arah dari perguruan tinggi ke depannya hanya beberapa orang saja. Semoga tidak!!! Sebab jika benar itu terjadi celaka nasib pendidikan tinggi kita. Kalau kata Romo pendidikan itu adalah milik kita semua, bukan milik segelintir orang.

Para rektor yang punya pemahaman intelektual tinggi jangan sampai gagal mental hanya karena takut ada salah atau bahkan tidak dapat mengarahkan nasib pendidikan tinggi ke depannya. Jika memang anda benar dalam memaknai perguruan tinggi, maka anda sebaiknya tidak takut menampilkan hasil kesepakatan yang sudah anda sepakati kepada rakyat.

Forum Rektor Indonesia (FRI) adalah sebuah wadah yang bertanggung jawab dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, pastinya mereka dapat memperhatikan nilai-nilai pendidikan (Moral-sosial-budaya) dalam membawa nasib perguruan tinggi.

Jika memang revolusi mental menjadi pilihan dalam menentukan arah perguruan tinggi kedepan, maka yang perlu diperhatikan adalah revolusi mental jangan sampai menyusutkan mental para rektor untuk menjawab persoalan bangsa, jangan pula dijadikan proyek untuk memenuhi hasrat kekuasaan yang memababi buta, dan revolusi mental jangan sampai mental di perguruan tinggi, semoga para rektor tidak menjadi dewa-dewa yang selalu gagal dalam menjalankan tugasnya.

 Sumber: SuaraMahasiswa.com

 

Related Articles

About author View all posts

admin

admin

Mari berkarya, kirim tulisan ke redaksi@kampusiana.net